
Rakorwil LPCRM PWM Jawa Timur menyoroti minimnya keterlibatan generasi muda di masjid Muhammadiyah. Takmir didorong membuka ruang dialog agar masjid menjadi pusat kaderisasi yang hidup dan berdampak.
Tagar.co – Masjid-masjid Muhammadiyah di Jawa Timur terus bertambah. Namun di tengah pertumbuhan itu, muncul satu pertanyaan yang mengusik: mengapa banyak masjid justru sepi dari kehadiran anak muda?
Isu ini mengemuka dalam pembukaan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
Rakorwil digelar di Aula KH Mas Mansyur, Lantai 7 GKB 2 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Sabtu (14/2/2026), mengusung tema “Kolaborasi Strategis untuk yang Berdampak.” Kegiatan ini dihadiri perwakilan LPCRM dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur bersama jajaran pimpinan LPCRM tingkat wilayah.
Baca juga: LPCRPM PWM Jatim Siapkan Buku Kisah Sukses Cabang dan Ranting Pemenang Award
Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi penting untuk memperkuat cabang, ranting, sekaligus pembinaan masjid sebagai pusat gerakan Muhammadiyah.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Dr. M. Sulthon Amien, mengingatkan bahwa Jawa Timur saat ini baru menyumbang sekitar 17,5 persen dari jumlah masjid nasional. Data itu, menurutnya, menjadi pengingat sekaligus tantangan bagi Muhammadiyah.
“Jawa Timur baru 17,5 persen dari jumlah masjid nasional,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tantangan Muhammadiyah hari ini tidak sekadar menambah jumlah masjid, melainkan memastikan masjid benar-benar hidup dan makmur. Masjid, katanya, harus ramai kegiatan, terkelola baik, serta mampu melahirkan kader-kader baru.

Standar Masjid Unggulan dan Regenerasi
Sulthon menilai perlu adanya standar masjid unggulan agar pembangunan tidak berhenti pada kebanggaan fisik semata. Menurutnya, kekuatan manajemen dan regenerasi menjadi faktor kunci keberlanjutan masjid.
Ia mencontohkan komposisi ideal pengelolaan masjid: empat takmir, tiga unsur pemuda, dan satu unsur senior. Formula ini dinilai mampu menjaga keseimbangan antara sistem, kaderisasi, dan pengalaman.
“Masjid unggulan itu harus punya komposisi. Ada takmir, ada pemuda, dan ada unsur senior,” katanya.
Unsur senior, lanjutnya, bukan untuk mendominasi, tetapi menjadi penopang kebijaksanaan serta penjaga arah gerakan.
Minim Anak Muda di Masjid
Sorotan paling tajam dalam forum itu adalah minimnya keterlibatan generasi muda di masjid Muhammadiyah. Sulthon menyebut fenomena ini sebagai persoalan besar yang sering luput dibahas.
“Persoalan masjid kita, tidak banyak angkatan muda Muhammadiyah yang sobo masjid,” ungkapnya.
Namun ia mengingatkan agar fenomena itu tidak disimpulkan secara dangkal. Bisa jadi, kata dia, anak muda bukan tidak mau hadir, melainkan belum merasa diajak atau tidak diberi ruang untuk berpartisipasi.
Ia mencontohkan pengalaman di lapangan saat berdiskusi dengan pengelola masjid. Pertanyaan sederhana yang ia ajukan kepada takmir dinilai menjadi refleksi penting: apakah mereka pernah mengajak kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) berdialog mengenai kebutuhan anak muda di masjid?
Pesan itu menjadi alarm bahwa masjid tidak bisa lagi dikelola dengan pola lama. Anak muda tidak cukup ditempatkan sebagai pelengkap acara, melainkan perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan, diberi ruang kreativitas, serta dipercaya mengelola program.
Penguatan Cabang, Ranting, dan Basis Data
Selain isu masjid, Sulthon juga menyoroti pertumbuhan cabang Muhammadiyah di Jawa Timur yang dinilai cukup positif. Meski demikian, pertumbuhan tersebut harus diiringi penguatan basis anggota dan ranting.
Salah satu strategi yang ditekankan adalah pendataan yang lebih rapi dan terarah. Menurutnya, Muhammadiyah memiliki modal sosial besar melalui jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya di bidang pendidikan.
Ia menyebut banyak masyarakat non-Muhammadiyah yang sebenarnya sudah dekat dengan gerakan melalui sekolah, kampus, atau layanan pendidikan yang dikelola Muhammadiyah.
“Kalau ada orang yang bukan Muhammadiyah bersekolah di amal usaha pendidikan, maka itu merupakan simpatisan,” ujarnya.
Para simpatisan tersebut, katanya, tidak boleh berhenti sebagai pengguna layanan semata. Mereka perlu dikenalkan lebih dekat dengan Muhammadiyah, diajak berjejaring, dan dibina secara bertahap sebagai bagian dari penguatan anggota di tingkat ranting.
Momentum Menyatukan Langkah
Rakorwil LPCRM Jawa Timur menjadi momentum untuk menyatukan langkah dalam memperkuat pembinaan cabang dan ranting, sekaligus memastikan masjid menjadi pusat gerakan yang ramah kader.
Ketika masjid dikelola secara rapi, inklusif, dan terbuka bagi generasi muda, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang kaderisasi yang hidup. Dari ruang itulah denyut organisasi dapat tumbuh kembali, dekat dengan jemaah dan relevan bagi generasi masa depan. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












