Feature

Lerak Eco Soap, Inovasi Siswa Miosi Mencuri Perhatian di Ajang Internasional

131
×

Lerak Eco Soap, Inovasi Siswa Miosi Mencuri Perhatian di Ajang Internasional

Sebarkan artikel ini
Lerak
Pengunjung mendatangi stan SMP Miosi saat pameran di Kolej Profesional Mara Bandar Melaka, Malaysia. (Tagar.co/Mahyuddin Syaifulloh)

Lerak, biji yang bisa dipakai sabun tradisional menjadi eksperimen siswa SMP Miosi. Ketika dipamerkan di luar negeri menarik perhatian pengunjung.

Tagar.co – Deretan stan inovasi berdiri berdampingan di Kolej Profesional Mara Bandar Melaka, Malaysia,  Kamis (30/4/2026).

Di antara keramaian ajang Moslem Youth Project Olympiad and Culture Exchange (MYPO) 3.0, sebuah karya sederhana berbahan alami justru berhasil menarik perhatian banyak pengunjung.

Adalah tim Live Science dari SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (SMP Miosi) yang memperkenalkan inovasi bertajuk Lerak Eco Soap: An Environmentally Friendly Natural Cleaner as an Alternative to Synthetic Detergents.

Empat siswi Miosi Zafira Oktafia Rachmat, Masayu Gandasari Ramadhani, Callysta Elysia Putri, dan Alya Azzahra Ardyasa berdiri penuh percaya diri menjelaskan produk mereka, sabun alami berbahan dasar lerak yang ramah lingkungan.

Di tengah isu pencemaran akibat deterjen sintetis, ide mereka terasa relevan. Lerak, buah yang dikenal memiliki kandungan saponin alami, diolah menjadi cairan pembersih yang mampu mengangkat noda tanpa merusak serat kain. Bahkan, menurut mereka, noda seperti kecap dan saus pun dapat dibersihkan dengan efektif.

Baca Juga:  Talent Show Miosi, Tiap Siswa Tampilkan Kreasi

Callysta Elysia Putri menjelaskan proses pembuatannya dengan antusias.“Pertama, lerak direndam selama 30 menit hingga lunak. Setelah itu dikupas dan diambil daging buahnya. Lalu direbus dengan air sampai mendidih, ditambahkan garam industri dan essential oil sebagai pengharum. Setelah agak dingin, disaring, dan yang digunakan adalah airnya,” ujarnya.

Proses yang tampak sederhana itu ternyata menyimpan tantangan tersendiri. Zafira Oktafia Rachmat mengungkapkan, tidak semua lerak mudah diolah.

“Kadang buahnya belum matang, jadi keras dan sulit dikupas. Itu membuat prosesnya lebih lama,” katanya.

Namun di balik tantangan tersebut, pengalaman mengikuti ajang internasional ini menjadi hal yang tak ternilai. Bertemu peserta dari berbagai negara, bertukar ide, hingga mempresentasikan karya dalam bahasa asing menjadi pembelajaran berharga bagi mereka.

Tak hanya juri, pengunjung pun turut memberikan perhatian. Septyan Maulana Fachrizal, salah satu pengunjung, melihat potensi besar dari inovasi ini.

“Bahannya menarik dan hasilnya bisa lebih banyak dibanding eco enzyme dari sayuran. Tapi tantangannya, bahan lerak ini tidak selalu mudah didapat, apalagi di kota seperti di Malaysia,” ungkapnya.

Baca Juga:  Semangat Suroboyoan ala Miosi Menggema di Malaysia
Delegasi Miosi menunjukkan apresiasi spesial award 2 dalam kategori live science. (Tagar.co/Mahyuddin Syaifulloh)

Meski demikian, ia menilai teknik pembuatannya cukup sederhana dan bisa dipelajari masyarakat luas.

Apresiasi tinggi juga datang dari Norhafidzah, dosen Kolej Profesional Mara sekaligus dewan juri. Ia menilai para siswa MIOSI tidak hanya kreatif, tetapi juga mampu menyampaikan ide dengan baik.“Mereka sangat kreatif dan komunikatif. Ini sangat bagus,” ujarnya singkat namun penuh makna.

Kerja keras tim pun berbuah manis. Inovasi Lerak Eco Soap berhasil mengantarkan mereka meraih Special Award 2 pada kategori Live Science. (#)

Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh  Penyunting Sugeng Purwanto