Opini

Mengembalikan Anak Muda ke Masjid: Dari Objek ke Subjek Peradaban

57
×

Mengembalikan Anak Muda ke Masjid: Dari Objek ke Subjek Peradaban

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kemakmuran masjid sejati lahir ketika anak muda tidak sekadar hadir, tetapi diberi ruang untuk berpikir, berkontribusi, dan membangun masa depan umat.

Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Dewan Syariah Lazismu Tulungagung, Dekan FEBI UIN Ponorogo

Tagar.co – Di banyak tempat, keluhan itu berulang: masjid kekurangan relawan muda. Generasi yang hidup dalam arus cepat dunia digital dianggap abai, kurang komitmen, bahkan hanya hadir ketika momentum besar seperti Ramadan, maulid, atau buka bersama.

Namun, benarkah problemnya terletak pada “kemalasan” anak muda? Ataukah justru pada cara kita memaknai relawan dan merancang ekosistem kemakmuran masjid?

Di sinilah pentingnya melakukan reposisi konseptual. Mengacu pada pemikiran Shariq Siddiqui, filantropi tidak semata-mata tindakan memberi dalam bentuk materi, tetapi “setiap tindakan niat baik yang disengaja.”

Definisi ini radikal sekaligus membebaskan. Ia membuka cakrawala bahwa kontribusi tidak harus hadir secara fisik dalam ruang-ruang ritual, melainkan dapat menjelma dalam beragam bentuk keterlibatan—termasuk yang berbasis digital, kreatif, dan intelektual.

Dalam perspektif Islam, gagasan ini beresonansi kuat dengan konsep sedekah yang luas: senyuman, menahan diri dari keburukan, hingga tindakan kecil yang membawa maslahat. Maka, membatasi relawan hanya pada kerja-kerja fisik di masjid bukan saja reduktif, tetapi juga kontraproduktif terhadap semangat filantropi Islam itu sendiri.

Masjid hari ini membutuhkan lebih dari sekadar tenaga; ia membutuhkan imajinasi sosial.

Krisis Bukan pada Anak Muda, tetapi pada Desain Kelembagaan

Jika ditelisik secara sosiologis, anak muda bukan tidak mau terlibat. Mereka justru aktif—namun di ruang yang berbeda. Mereka menjadi kreator konten, penggerak komunitas digital, pengelola kampanye sosial, hingga inisiator gerakan berbasis platform. Problemnya, masjid sering gagal menjadi ruang yang kompatibel dengan ekosistem partisipasi mereka.

Baca Juga:  Di Antara Beduk Magrib dan Gerobak Sumarni

Kita masih terjebak dalam paradigma lama: relawan sebagai “pelaksana teknis.” Anak muda dipanggil ketika dibutuhkan tenaga, bukan gagasan. Mereka diminta hadir, tetapi tidak diajak berpikir. Dalam kondisi seperti ini, keterasingan menjadi keniscayaan.

Padahal, dalam teori partisipasi modern, rasa memiliki (sense of belonging) lahir bukan dari kehadiran fisik semata, melainkan dari keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan. Di sinilah urgensi pergeseran dari model instruktif ke model kolaboratif.

Dari Komando ke Kolaborasi: Membangun Ruang Shura yang Inklusif

Konsep Community Collaboration Initiative (CCI) yang ditawarkan Siddiqui memberikan kerangka strategis yang relevan. Dalam model ini, relawan tidak diposisikan sebagai subordinat, tetapi sebagai mitra setara.

Implementasinya sederhana, tetapi berdampak sistemik: libatkan anak muda sejak tahap perencanaan. Forum musyawarah (shura) tidak boleh eksklusif milik generasi senior. Pertanyaan-pertanyaan strategis perlu diarahkan kepada mereka:

  • Bagaimana wajah digital masjid seharusnya dibangun?
  • Program apa yang mampu menarik partisipasi generasi sebaya mereka?
  • Bagaimana menjembatani nilai-nilai keislaman dengan budaya populer tanpa kehilangan substansi?

Ketika ruang dialog dibuka, yang lahir bukan sekadar ide-ide segar, tetapi juga rasa kepemilikan. Masjid tidak lagi dipandang sebagai institusi yang “mengundang,” melainkan sebagai ruang yang “dimiliki bersama.”

Micro-Volunteering: Strategi Adaptif di Tengah Fragmentasi Waktu

Salah satu karakter utama generasi muda hari ini adalah fragmentasi waktu. Mereka hidup dalam ritme multitasking: kuliah, kerja, aktivitas sosial, hingga konsumsi digital yang intens. Dalam konteks ini, menawarkan komitmen jangka panjang tanpa fleksibilitas adalah strategi yang keliru.

Baca Juga:  Gencatan Senjata yang Memalukan

Konsep micro-volunteering menjadi jawaban adaptif. Alih-alih menawarkan posisi struktural yang mengikat, masjid perlu merancang “unit kontribusi kecil” yang spesifik, terukur, dan berdurasi singkat.

Misalnya:

  • Mendesain konten visual untuk kajian dalam waktu dua jam
  • Mengelola siaran langsung kegiatan masjid selama satu sesi
  • Menyusun template laporan keuangan digital dalam satu kali pengerjaan

Pendekatan ini tidak hanya realistis, tetapi juga psikologis. Anak muda cenderung termotivasi oleh hasil yang cepat terlihat (immediate impact). Mereka ingin tahu bahwa kontribusinya bermakna—dan dapat diukur.

Dalam kerangka ini, relawan bukan lagi “jabatan,” melainkan “aksi.” Dan aksi yang kecil, jika terakumulasi, justru membentuk dampak yang besar.

Dari Pahala ke Portofolio: Integrasi Nilai Spiritual dan Kapital Sosial

Satu aspek yang sering diabaikan dalam pengelolaan relawan masjid adalah narasi manfaat. Selama ini, pendekatan yang digunakan cenderung normatif: iming-iming pahala dan ganjaran ukhrawi. Tentu, ini penting. Namun, bagi generasi yang hidup dalam realitas kompetitif, narasi ini perlu diperluas.

Anak muda hari ini berpikir dalam kerangka value exchange. Mereka bertanya: apa yang bisa saya pelajari? Apa yang bisa saya bangun? Apa yang bisa saya bawa ke masa depan?

Masjid perlu menjawab pertanyaan ini secara konkret:

  • Pengembangan keterampilan: manajemen acara, desain grafis, produksi konten digital, hingga literasi keuangan syariah
  • Portofolio profesional: dokumentasi pengalaman sebagai relawan yang dapat meningkatkan daya saing di dunia kerja
  • Jejaring sosial: interaksi dengan berbagai kalangan—akademisi, profesional, aktivis—yang membuka peluang kolaborasi lebih luas

Dalam perspektif sosiologi, ini disebut sebagai pembangunan social capital. Masjid tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga pusat pengembangan kapasitas manusia. Dengan demikian, pahala tidak dihapus, tetapi diperluas: dari dimensi spiritual ke dimensi sosial-ekonomi.

Baca Juga:  Sedekah Oksigen dan Arah Baru Kesalehan

Menuju Masjid sebagai Ekosistem, Bukan Sekadar Infrastruktur

Kemakmuran masjid sering direduksi pada aspek fisik: kebersihan, kerapian, atau jumlah jamaah. Padahal, dalam perspektif yang lebih luas, kemakmuran adalah fungsi dari dinamika sosial yang hidup di dalamnya.

Masjid yang makmur adalah masjid yang:

  • Menghasilkan gagasan, bukan sekadar kegiatan
  • Menumbuhkan relasi, bukan sekadar kerumunan
  • Membangun kapasitas, bukan sekadar partisipasi sesaat

Untuk itu, diperlukan perubahan paradigma: dari masjid sebagai “tempat” menjadi masjid sebagai “ekosistem.” Ekosistem yang memungkinkan setiap individu—termasuk anak muda—menemukan peran, makna, dan masa depan.

Mengembalikan Anak Muda sebagai Subjek Peradaban

Saudaraku kaum muslimin rahimakumullah, persoalan relawan muda pada dasarnya bukan krisis partisipasi, melainkan krisis perspektif. Kita terlalu lama memandang anak muda sebagai objek yang harus digerakkan, bukan subjek yang harus diberdayakan.

Jika strategi tidak diubah, maka masjid berisiko menjadi ruang yang semakin asing bagi generasi masa depan. Namun, jika kita berani melakukan transformasi—dari komando ke kolaborasi, dari struktur ke fleksibilitas, dari pahala ke pemberdayaan—maka masjid akan kembali menjadi pusat peradaban.

Anak muda tidak akan datang karena dipanggil. Mereka akan datang karena merasa dibutuhkan, dihargai, dan diberi ruang untuk bertumbuh.

Dan di situlah kemakmuran sejati bermula: bukan dari lantai yang bersih, tetapi dari jiwa-jiwa muda yang hidup, berpikir, dan bergerak bersama memakmurkan rumah Allah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni