
Ramadan tidak selalu datang dengan meja penuh dan langkah ringan ke masjid. Bagi keluarga Sumarni, dentang beduk justru menjadi penanda kerja yang harus dipercepat—di antara asap gorengan, doa yang gagap, dan harapan sederhana untuk tetap menjadi hamba yang tak ditinggalkan Tuhan.
Cerpen oleh Aji Damanuri
Tagar.co – Beduk Magrib selalu datang seperti kabar gembira yang salah alamat bagi keluarga Sumarni. Di rumah-rumah lain, dentangnya disambut dengan sendok yang diletakkan perlahan, gelas yang dipegang dengan doa, dan sajadah yang telah digelar rapi sejak sore.
Di rumah Sumarni—yang lebih pantas disebut gubuk—bedug itu hanya penanda bahwa gerobak harus makin didorong ke tepi jalan, kompor kecil harus tetap menyala, dan suara tawar-menawar harus dikalahkan oleh knalpot yang meraung.
Baca juga: Berbagi Takjil di Jalan Raya: Antara Niat Baik dan Tanggung Jawab Sosial
Sumarni tidak tahu pasti apa arti Ramadan penuh berkah. Yang ia tahu, Ramadan berarti dagangan bisa laku dua kali lipat, tetapi tubuh juga diperas tiga kali lebih keras. Ia berjualan gorengan: tempe, tahu, pisang—semua yang bisa digoreng dan diberi harapan.
Suaminya, Kasmin, lelaki bertubuh kurus dengan senyum yang selalu datang terlambat, mendorong gerobak sejak sebelum asar. Ia puasa, tentu saja. Namun puasanya tidak pernah ia ceritakan sebagai ibadah. Baginya, puasa adalah syarat alamiah untuk bertahan hidup: menahan lapar, menahan malu, menahan iri, menahan doa agar tidak jatuh menjadi keluhan.
“Yang penting halal,” katanya sering kali, seperti mantra yang ia ucapkan untuk menenangkan diri sendiri.
Anak mereka, Sarmini dan Jalu, duduk di bangku plastik kecil. Sarmini sudah sepuluh tahun, Jalu tujuh. Keduanya tidak tahu membaca doa berbuka selain “Bismillah” yang mereka dengar dari orang-orang lewat. Mereka tahu suara beduk, tahu lampu masjid menyala, tahu anak-anak lain berlari dengan sarung baru. Namun mereka juga tahu cara menghitung uang receh lebih cepat daripada menghitung rakaat.
Saat azan Magrib berkumandang, Kasmin biasanya berhenti sebentar. Bukan untuk salat, hanya untuk meneguk air putih dari botol bekas, memejamkan mata sepersekian detik, lalu kembali menggoreng.
Di kejauhan, ia melihat jemaah berduyun-duyun ke masjid: sarung putih, mukena bersih, wajah-wajah yang tampak lapang. Ada rasa hangat di dadanya—bukan iri yang kasar, melainkan iri yang diam-diam menangis.
“Bu,” kata Sarmini suatu sore dengan polos, “kita kenapa nggak ke masjid kayak mereka?”
Sumarni terdiam. Minyak panas berdesis seperti suara hati yang tak bisa diucapkan.
“Nanti ya, Nduk. Kalau sudah longgar.”
Padahal ia tahu, nanti itu sering kali tidak pernah datang.
Kadang-kadang ada penceramah yang lewat. Bukan mampir, hanya lewat. Suaranya lantang dari pengeras suara masjid: tentang keutamaan Ramadan, tentang orang-orang yang menyia-nyiakan waktu, tentang dosa yang datang karena cinta dunia.
Kasmin mendengarkan sambil membalik gorengan. Tangannya cekatan, hatinya berantakan.
“Orang-orang yang tidak memanfaatkan Ramadan adalah orang-orang yang rugi,” kata suara itu.
Kasmin mengangguk pelan, seolah mengakui tuduhan yang tidak pernah ditujukan langsung kepadanya. Ia ingin bertanya: apakah berdiri di pinggir jalan sejak asar sampai tengah malam ini bukan pemanfaatan hidup? Apakah lapar yang ditahan sambil mencari nafkah ini bukan juga bentuk ibadah yang tak pandai berbicara?
Namun pertanyaan-pertanyaan itu hanya mengendap di minyak goreng, tidak pernah sampai ke mimbar.
Malam-malam Ramadan adalah panggung kekonyolan kecil bagi keluarga ini. Jalu pernah salah menghitung uang kembalian hingga membuat pembeli tertawa. Sarmini pernah tertidur sambil memegang plastik gorengan; kepalanya terangguk seperti orang sedang zikir versi kanak-kanak. Kasmin pernah lupa bahwa ia sedang puasa dan hampir mencicipi gorengan, lalu tertawa sendiri sambil beristigfar dengan logat desa yang kental.
Tawa mereka pendek-pendek, seperti napas orang berlari.
Tangis mereka lebih panjang, tetapi selalu ditelan malam.
Sumarni sering membayangkan Idulfitri seperti cerita orang: baju baru, ketupat, salaman. Ia ingin anak-anaknya tahu bagaimana rasanya bergembira tanpa harus menghitung. Namun setiap kali bayangan itu datang, ia melihat tumpukan utang di warung, harga minyak yang naik, dan gerobak yang mulai rewel.
“Pak,” katanya suatu malam saat dagangan sepi, “kita ini orang baik, kan?”
Kasmin terdiam lama.
“Kalau surga itu cuma buat orang-orang yang punya waktu ke masjid,” jawabnya akhirnya lirih, “mungkin kita antre paling belakang.”
Sumarni tertawa kecil, lalu menangis. Tangis yang tidak dramatis—hanya jatuh ke pipi lalu cepat-cepat diseka, takut terlihat pelanggan.
Agama, bagi mereka, bukanlah kitab tebal atau ceramah panjang. Agama adalah rasa ingin ikut sujud tetapi kaki tertahan. Adalah malu ketika melewati masjid dengan bau gorengan melekat di baju. Adalah doa yang tidak tahu lafaznya, tetapi tahu arahnya.
Pada suatu malam ganjil, hujan turun pelan. Jalanan sepi. Dagangan hampir tak laku. Kasmin menutup gerobak lebih cepat. Mereka pulang lebih awal.
Di rumah, tanpa sajadah, tanpa bacaan panjang, Kasmin duduk menghadap arah yang ia kira kiblat. Anak-anak ikut duduk, meniru tanpa tahu apa-apa. Sumarni mengangkat tangan dengan ragu.
“Gusti,” katanya dengan bahasa desa yang polos, “kalau kami ini salah caranya, tetapi benar niatnya… jangan jauhkan kami dari pintu-Mu.”
Tidak ada petir, tidak ada cahaya turun dari langit. Hanya rasa lega yang tidak bisa dijelaskan.
Di luar, beduk masjid berdentang lagi. Kali ini tidak terasa seperti ejekan, melainkan lebih seperti panggilan yang suatu hari—entah kapan—akan mereka jawab dengan langkah yang tidak lagi terburu-buru.
Ramadan terus berjalan, dengan segala idealitas dan kenyataannya. Di antara beduk dan gerobak, ada jiwa-jiwa kecil yang tetap berharap: bukan hanya cuan, bukan hanya pahala, melainkan kesempatan yang adil untuk menjadi manusia beriman tanpa harus memilih antara perut dan surga.
Dan barangkali, di langit yang lebih adil daripada bumi, doa-doa yang gagap itulah yang paling fasih. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












