Cerpen

Di Antara Terapi, Lelah dan Doa Seorang Nenek

63
×

Di Antara Terapi, Lelah dan Doa Seorang Nenek

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Cerpen Di Antara Terapi, Lelah dan Doa Seorang Nenek
Ilustrasi cerpen Di Antara Terapi, Lelah dan Doa Seorang Nenek (AI)

Dadaku sering sesak, bukan karena lelah, tapi karena cinta yang tak tahu harus mengalir lewat jalan mana.

Cerpen oleh Haryanti Estuningdyah Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Sidoarjo

Tagar.co – Aku sering duduk di sudut ruang tamu saat senja turun perlahan, ketika rumah menjadi lebih sunyi dan suara dunia seakan menjauh.

Di hadapanku, cucuku duduk di lantai, memutar-mutar roda mobil mainannya tanpa lelah. Tangannya kecil, gerakannya berulang, matanya menatap sesuatu yang tak bisa kulihat.

Namanya Zafran. Cucu yang Allah titipkan padaku dengan cara yang berbeda. Sebagai nenek, seharusnya tugasku sederhana: memanjakan, membacakan dongeng, menyiapkan camilan manis.

Namun, sejak Zafran didiagnosis autisme, peranku berubah. Aku bukan sekadar nenek, tapi juga penjaga ritmenya, pengantar terapinya, dan tempat pulang paling sunyi bagi cucu yang tak pandai mengungkapkan rasa.

Mamanyanya bekerja dari pagi hingga petang. Ia perempuan kuat yang jarang mengeluh, meski pundaknya memikul beban besar. Setiap hari ia berangkat dengan mata yang menyimpan lelah, demi satu tujuan: biaya terapi Zafran.

Baca Juga:  Sambut Ramadan, PRA Rangkah Kidul dan Bluru Tebar Paket Sembako

Aku tahu, setiap langkahnya ke kantor adalah doa yang berjalan. Ia sering pulang dengan senyum yang dipaksakan, lalu memeluk anaknya dengan cinta yang nyaris tak tersisa untuk dirinya sendiri.

Ayah Zafran bekerja di luar kota. Pekan-pekan berlalu tanpa kehadirannya. Ia mencari nafkah dari jauh, menabung harapan lewat panggilan video yang sering terputus.

Kadang aku melihat Zafran menatap layar ponsel tanpa ekspresi, seolah ayahnya hanyalah suara asing yang datang dan pergi. Hatiku mencelos. Lengkap sudah rasa galau itu.

Ada hari-hari ketika rumah ini terasa penuh oleh sunyi. Aku galau sebagai nenek, galau sebagai ibu yang melihat anak perempuannya kelelahan, dan galau sebagai manusia yang takut akan masa depan cucunya. Aku sering bertanya dalam doa yang tak pernah benar-benar selesai, “Ya Rabb, mampukah kami menjaga amanah ini sampai akhir?”

Zafran tidak pernah memanggilku “Uti”. Namaku pun seolah tak pernah singgah di bibirnya. Saat kupanggil, ia tak menoleh. Saat kupeluk, kadang ia menarik diri.

Baca Juga:  Jejak Mimpi Dina

Dadaku sering sesak, bukan karena lelah, tapi karena cinta yang tak tahu harus mengalir lewat jalan mana.

Namun, Allah selalu menyelipkan penghiburan kecil. Suatu pagi sepulang terapi yang melelahkan, Zafran tiba-tiba menatap mataku. Hanya beberapa detik.

Singkat. Tapi cukup untuk membuat dunia berhenti. Dalam tatapan itu, aku melihat kelelahan, kepercayaan, dan sesuatu yang tak bisa dijelaskan kata. Aku menangis dalam diam. Ternyata aku ada di dunianya. Ternyata ia tidak sendiri dan aku pun tidak.

Di malam hari, ketika Zafran sedang tidur, aku sering mendengar napas lelah mamanya dari kamar sebelah. Aku tahu, ia menangis dalam diam, takut dianggap lemah.

Aku ingin berkata padanya bahwa ia mama yang luar biasa. Bahwa Zafran kuat karena ia memilih bertahan.

Sebagai nenek, aku sering dihantui rasa takut. Siapa yang akan menjaga Zafran jika aku tak lagi ada? Jika mamanya terus sibuk bekerja, jika ayahnya tetap jauh di luar kota? Kegalauan itu datang seperti ombak, kadang tenang, kadang menghantam tanpa aba-aba.

Baca Juga:  "Ia Sudah Memaafkanmu. Tapi Kamu Tidak Pernah Tahu"

Namun setiap malam, aku kembali berserah. Allah memilih kami bukan karena kami paling mampu, tetapi karena kami mau belajar mencintai tanpa syarat. Mencintai dalam keterbatasan. Mencintai dalam lelah yang tak sempat diceritakan.

Aku adalah nenek yang sering galau. Tapi di balik kegalauan itu, aku tahu satu hal: Zafran bukan beban. Ia adalah amanah yang mengajarkan kami arti sabar, ikhlas, dan harapan yang harus terus diperjuangkan.

Dan selama aku masih diberi waktu, aku akan tetap duduk di sampingnya, menemaninya memutar roda dunia dengan caranya sendiri, sambil menitipkan masa depannya pada doa yang tak pernah putus. (#)

Penyunting Ichwan Arif

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…