Feature

Din Syamsuddin Ajak Warga Muhammadiyah Maknai Idulfitri

525
×

Din Syamsuddin Ajak Warga Muhammadiyah Maknai Idulfitri

Sebarkan artikel ini
Din Syamsuddin ajak warga Muhammadiyah maknai Idul Fitri sebagai momentum perkuat silaturahim dan kasih sayang antarsesama.
Prof. Dr. Din Syamsuddin memberikan pesan makna Idul Fitri dalam Halalbihalal Muhammadiyah Sidoarjo (Tagar.co/Mirza Putera)

Din Syamsuddin ajak warga Muhammadiyah maknai Idulfitri sebagai momentum perkuat silaturahim dan kasih sayang antarsesama.

Tagar.co – Suasana Halalbihalal Muhammadiyah Sidoarjo di Auditorium K.H. Ahmad Dahlan Kampus I Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), berlangsung hangat pada Ahad (5/4/2026).

Pada kesempatan tersebut banyak ruang refleksi yang mendalam tentang makna Idulfitri. Seperti tausiah yang disampaikan Prof. Dr. Din Syamsuddin saat mengajak jemaah memahami esensi hari kemenangan bukan sekadar tradisi ucapan, melainkan momentum memperkuat kasih sayang antarsesama.

Tiga Tradisi

Prof Din, panggilannya, membuka dengan ucapan Selamat Idulfitri 1447, mengingatkan beragam tradisi yang hidup di tengah masyarakat Muhammadiyah, NU, dan Indonesia. “Sesuai tradisi Muhammadiyah mengucapkan taqaballahu minna wa minkum, kalau tradisi di NU adalah minal aidin wal faizin, sedangkan tradisi Indonesia mohon maaf lahir dan batin. Semuanya mengandung makna yang baik,” terangnya.

Ketiga-tiganya kita ungkapkan, walaupun umat, banyak yang belum paham ucapan-ucapan itu. Prof Din kemudian bercerita, jika pernah melihat acara kuis di televisi, saat seorang ibu ditanya apa arti minal aidin wal faizin, yang spontan langsung dijawab ibu tersebut dengan jawaban mohon maaf lahir dan batin.

Baca Juga:  Nasi Mandi Hangatkan Diplomasi Pendidikan Sidoarjo-Kuala Lumpur

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa esensi Idulfitri terletak pada silaturahim—merajut kembali “ar-rahim”, ikatan kasih sayang. Mengutip hadits, ia menyampaikan bahwa siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rezekinya, hendaknya menyambung hubungan kasih sayang dengan sesama manusia.

Din Syamsuddin ajak warga Muhammadiyah maknai Idul Fitri sebagai momentum perkuat silaturahim dan kasih sayang antarsesama.
Suasana meriah Halalbihalal Muhammadiyah Sidoarjo di Kampus I Umsida (Tagar.co/Darul Setiawan)

Bukan Amal tapi Rahmat Allah

Kasih sayang, menurutnya, bersumber dari Allah Swt. Seperti yang ada dalam bacaan basmalah, menjadi dasar penciptaan manusia. Secara biologis pun, manusia tumbuh dari kasih sayang orangtua, disimpan dalam “rahim”, wadah penuh kasih yang dianugerahkan khusus kepada perempuan. Dari sinilah ia menegaskan pentingnya relasi laki-laki dan perempuan dalam pernikahan sebagai bagian dari fitrah kehidupan.

Sejurus kemudian, Ketua PP Muhammadiyah 2005-2015 itu juga mengungkapkan bahwa dalam sebuah hadits, bukan semata amal perbuatan yang memasukkan manusia ke surga, melainkan rahmat Allah. “Tidaklah amal seseorang itu memasukkan ke dalam surga, kecuali ketika ia diliputi rahmat Allah,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak untuk selalu bersyukur atas limpahan kasih sayang Ilahi dalam kehidupan. Dia pun berseloroh, kepada siapa saja harus bersyukur ketika mempunyai nama istri Rahmah.

Baca Juga:  Din Syamsuddin: Indonesia Harus Reorientasi Politik Luar Negeri di Tengah Gejolak Global

“Karena itu Prof Syafiq Mughni menikahi Mbak Rahmah,” gurau Din Syamsuddin.  Ia sedikit mengenang pengalaman bersama Syafiq Mughni ketika sama-sama kuliah di Amerika Serikat.

“Beliau ini senior saya, sama-sama belajar di Amerika Serikat, beliau lebih awal langsung program S3, saya memulai S2, dan kami ditakdirkan tinggal berdampingan di  apartemen mahasiswa yang berkeluarga di Los Angeles, dan Mbak rahmah jago masak, saya pura-pura habis maghrib datang ke apartemen beliau, pura-pura bertanya ke Mas Syafiq selaku senior, padahal saya ingin menikmati masakan Sidoarjo atau Paciran itu,” ungkapnya.

Nilai yang Dijemput

Dari kisah tersebut, ia menekankan bahwa rahmah bukan sekadar nama, tetapi nilai yang harus dijemput dalam kehidupan. Menurutnya, setiap manusia memiliki benih kasih sayang, bahkan potensi nilai-nilai kebaikan yang mencerminkan Asmaul Husna.

Namun, ia mengingatkan bahwa menghidupkan nilai-nilai tersebut bukan perkara mudah. Kehidupan manusia kerap diwarnai hasad, kebencian, dan iri hati yang justru menjadi pemicu konflik hingga peperangan.

Melalui momentum Idulfitri, ia mengajak seluruh jamaah untuk kembali pada fitrah, memperkuat silaturahmu, menumbuhkan kasih sayang, dan menghadirkan rahmah dalam kehidupan sehari-hari. (#)

Baca Juga:  SMP Miosi Luncurkan Monitoring Ramadan Digital

Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh. Penyunting Darul Setiawan.