
Ketupat dan lepet adalah simbol tentang menjaga agar kemenangan Ramadan dan Idulfitri tetap hidup. Tidak pudar oleh waktu, tidak hilang oleh kesibukan.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.
Tagar.co – Sepekan setelah lewat Idulfitri, kehangatan baru mewarnai silaturahmi antar tetangga di kampung. Perayaan riyaya kupat. Lebaran ketupat hadir mengajak kita kembali merasakan arti kebersamaan.
Jika Idulfitri adalah perayaan menandai akhir puasa Ramadan, Lebaran ketupat dikaitkan dengan tuntunan sunnah puasa enam hari di bulan Syawal sebagai puncak kesempurnaan ibadah kepada Allah.
Ketupat dan lepet menjadi makanan khas untuk merayakan hari raya ini. Diantarkan ke tetangga bersama dengan lodeh manisa campur kerecek atau opor ayam. Lebih istimewa kalau ada rendang daging.
Ketupat dan lepet adalah kiasan untuk makna ngaku lepat. Mengakui kesalahan. Semacam pertaubatan. Lalu meminta maaf kepada sesama. الإنسان محل الخطأ والنسيان Al-insanu mahalul-khoto’ wa nisyaan. Manusia tempat salah dan lupa.
Ketika hari itu tiba pasar dipenuhi pedagang janur. Bahan membuat bungkus ketupat dan lepet. Dapur kembali mengepul menanak ketupat dan lepet yang perlu waktu berjam-jam.
Ibu-ibu sekarang lebih praktis membeli ketupat dan lepet yang sudah matang di pasar. Di rumah tinggal memasak lodeh atau opor.
Suasana Lebaran ketupat pedagang kecil kembali mengais rezeki. Ekonomi masih berputar. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan siklus kehidupan.
Tradisi ini memperpanjang denyut ekonomi rakyat. Membuat kebahagiaan tidak berhenti di satu hari, tetapi mengalir lebih lama, lebih merata, dan lebih bermakna.
Perayaan Komunal
Di wilayah pesisir, Lebaran ketupat menjelma menjadi perayaan komunal. Warga berkumpul, tradisi dihidupkan, dan kampung kembali berdenyut meriah. Perantau menunda pulang, pedagang kecil merasakan berkah, dan hubungan sosial semakin erat.
Di sinilah terlihat jelas bahwa tradisi bukan sekadar warisan, tetapi kekuatan hidup yang terus bergerak.
Dalam dimensi sosial, hubungan tetangga menjadi keluarga, teman lama hadir tanpa janji, dan setiap orang diterima apa adanya.
Seolah ada seruan yang lembut namun dalam. Datanglah, karena di sinilah rumah dari kebersamaan itu.
Menahan Diri
Di balik kehangatan, ada kesadaran yang tak boleh hilang. Hidangan santan, gula, dan lemak yang melimpah menjadi ujian tersendiri, terutama bagi mereka yang hidup dengan kondisi seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, dan gout.
Maka Lebaran ketupat mengajarkan kearifan baru. Merayakan tanpa berlebihan, menikmati tanpa melupakan diri. Karena menjaga kesehatan adalah bagian dari mensyukuri nikmat itu sendiri.
Di tengah dunia yang serba cepat, Lebaran ketupat mengajak kita melambat. Duduk bersama tanpa tergesa, makan tanpa gangguan, dan tertawa tanpa alasan yang dibuat-buat.
Ia adalah ruang di mana waktu seakan berhenti sejenak, memberi kesempatan bagi hati untuk benar-benar hadir.
Jika Idulfitri adalah tentang kemenangan, maka Lebaran ketupat adalah tentang menjaga agar kemenangan itu tetap hidup. Tidak pudar oleh waktu, tidak hilang oleh kesibukan.
Di ujung Lebaran ini, kita belajar satu hal yang sederhana namun abadi: bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari yang megah, tetapi dari yang tulus.
Dari tangan yang saling menjabat, dari tawa yang tak dibuat-buat, dan dari hati yang kembali terbuka.
Ketika hari perlahan beranjak senja, mungkin kita akan menyadari bahwa yang paling kita ingat bukanlah apa yang kita makan, melainkan siapa yang duduk bersama kita. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












