Telaah

Rindu Ramadan Terbalaskan dengan Puasa Syawal

191
×

Rindu Ramadan Terbalaskan dengan Puasa Syawal

Sebarkan artikel ini
Rindu Ramadan tak perlu menunggu setahun. Laksanakan puasa sunnah Syawal enam hari untuk melengkapinya.
Ketupat Syawalan

Rindu Ramadan tak perlu menunggu setahun. Laksanakan puasa sunnah Syawal enam hari untuk melengkapinya.

Oleh Ridwan Ma’ruf, Majelis Pemberdayaan Wakaf Tanah PDM Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Al-Fatih Islamic School Sidoarjo, Spiritual Parenting Islam Sidoarjo

Tagar.co – Puasa Syawal bisa menggambarkan kerinduan seorang muslim terhadap pahala, suasana ibadah, dan peningkatan spiritual yang dirasakan selama bulan Ramadan.

Rindu yang disalurkan atau ditebus melalui puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Puasa Syawal dianggap sebagai pelengkap puasa Ramadan. Ibarat salat rawatib yang melengkapi salat fardhu.

Rindu suasana ibadah terpenuhi dengan melanjutkan kebiasaan berpuasa di bulan Syawal. Puasa ini menunjukkan, ketaatan kepada Allah tidak berhenti hanya di bulan Ramadan, melainkan berlanjut di bulan-bulan berikutnya.

Setelah sebulan penuh menempa diri, puasa Syawal menjadi momen untuk menjaga kontrol diri dan meningkatkan kualitas takwa selama setahun penuh.

Nabi Saw bersabda

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh. (HR Muslim)

Hadis ini mengandung makna, pahala puasa Syawal itu setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh. Yaitu 30 hari + 6 hari dikali 10 kebaikan.

Baca Juga:  Meluruskan Makna Idulfitri

Sebagaiamana Allah ta’ala berfirman dalam surah Al-An’am ayat 160 :

مَنۡ جَآءَ بِالۡحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشۡرُ اَمۡثَالِهَا​ ۚ وَمَنۡ جَآءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزٰٓى اِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُوۡنَ‏

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Ayat ini merupakan ketentuan Allah yang telah Dia tetapkan pada diri-Nya. Dan mungkin saja Dia akan membalas dengan balasan yang lebih banyak, seperti biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan terdapat beberapa kebaikan yang mana pelakunya akan dibalas dengan balasan tanpa batas.

Marhaban Ya Syawal

Ucapan ini disampaikan untuk menyambut datangnya bulan Syawal (Hari Raya Idulfitri) sebagai bentuk kegembiraan dan syukur.

Secara bahasa, Syawal juga berarti peningkatan. Oleh karena itu, Marhaban ya Syawal sering diartikan sebagai ajakan untuk menyambut bulan peningkatan kualitas diri, amal ibadah, dan kinerja setelah sebulan penuh ditempa di bulan Ramadan.

Maka makna mendalam Marhaban ya Syawal dari sudut pandang spiritual Islam, yaitu  :

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Pertama, Awal Kehidupan Baru

Bulan Syawal dimaknai sebagai momentum lahir kembali sebagai pribadi yang lebih bertakwa dan lebih peka sosial, serta siap menebar kebaikan kepada sesama.

Dalam konteks ini, Syawal artinya adalah transisi dari bulan ibadah menuju bulan konsistensi dalam kebaikan. Nabi Saw bersabda :

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan yang konsisten walaupun itu sedikit.(Sahih  Muslim)

Maksud hadis ini adalah dianjurkan seseorang dalam melakukan suatu amalan hendaknya  disesuaikan  dengan kadar  kemampuannya.

Kedua, Mengoptimalkan Potensi Diri dengan Amal Saleh

Bulan Syawal merupakan momen krusial untuk mengoptimalkan potensi diri dari  waktu ke waktu dengan amal saleh. Setelah sebulan penuh dididik dalam pusat pelatihan Ramadan, Syawal adalah waktu untuk mengaktualisasikan hasil didikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Syawal adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan bahwa kebiasaan baik selama Ramadan dapat dipertahankan, sebagai bentuk syukur atas kesempatan hidup.

Melanjutkan kebaikan setelah Ramadan (konsistensi, istikamah) adalah indikasi bahwa amal ibadah di bulan Ramadan diterima oleh Allah ta’ala.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Insyiraq ayat 7

Baca Juga:  Idulfitri Berlalu, Momentum Menjaga Spirit Ibadah

فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡۙ‏

Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).

Artinya, selesai satu urusan, maka berdirilah untuk menyelesaikan urusan lainnya, sehingga akan membantu untuk pencapaian target atas pekerjaan-pekerjaan yang sudah direncanakan dari awal sebelumnya .

Ketiga, Silaturahmi dan Rekonsiliasi (Perdamaian)

Syawal adalah bulan silaturahim, di mana umat Islam dianjurkan menyambung kembali tali persaudaraan yang terputus.

Tradisi seperti halal bihalal di Indonesia menjadi ajang saling memaafkan, mencairkan konflik, dan membangun kembali hubungan yang tidak harmonis, yang merupakan fondasi perdamaian.

Menanggalkan sekat-sekat sosial, memperkuat solidaritas, dan menyatukan umat, yang menjadi modal penting untuk stabilitas sosial dan persatuan umat Islam.

Allah ta’ala berfirman dalam surah Al-Imran: 103

وَاعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰهِ جَمِيۡعًا وَّلَا تَفَرَّقُوۡا​

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.

Setelah berpuasa, umat Islam didorong untuk membersihkan hati dari dendam. Tradisi saling memaafkan pada 1 Syawal (Idulfitri) berfungsi sebagai mekanisme perdamaian, mencegah konflik sosial, dan memupuk kasih sayang. Mengobati rindu beribadah. Wallaahu ’alamu (#)

Penyunting Sugeng Purwanto