Opini

Ramadan dan Pergeseran Silaturahmi Digital

79
×

Ramadan dan Pergeseran Silaturahmi Digital

Sebarkan artikel ini
Ramadan bukan hanya tentang ibadah dan tradisi, tetapi juga bagaimana ekosistem digital nasional mampu menopang dinamika sosial berskala besar. Kesiapan infrastruktur digital harus mampu melayani lonjakan pemakaian telekomunikasi.
Silaturami digital

Ramadan bukan hanya tentang ibadah dan tradisi, tetapi juga bagaimana ekosistem digital nasional mampu menopang dinamika sosial berskala besar. Kesiapan infrastruktur digital harus mampu melayani lonjakan pemakaian telekomunikasi.

‎Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran

Tagar.co – Ramadan selalu menghadirkan perubahan ritme kehidupan masyarakat. Aktivitas bergeser, jam biologis berubah, mobilitas meningkat, dan konsumsi digital melonjak.

‎Menjelang Ramadan 2026, berbagai data menunjukkan, lonjakan layanan telekomunikasi bukan sekadar fenomena musiman, melainkan beban terhadap infrastruktur digital nasional.

Sejumlah operator besar telah memproyeksikan kenaikan trafik data yang besar. ‎Telkom Indonesia memperkirakan lonjakan trafik broadband hingga 28 persen dibanding periode normal.

XL Axiata melalui entitas XLSMART memproyeksikan naik sekitar 20–30 persen selama Ramadan dan Lebaran.

Sementara Indosat Ooredoo Hutchison memperkirakan peningkatan sebesar 14,6 persen, dan Telkomsel memprediksi lonjakan sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam dunia jaringan telekomunikasi, kenaikan dua digit dalam waktu singkat berarti lonjakan beban sistem yang harus diantisipasi dengan serius.

Terlebih, Ramadan bukan hanya tentang komunikasi personal, tetapi juga tentang streaming kajian, belanja daring, transaksi digital, hingga konsumsi hiburan berbasis internet.

Yang menarik, Ramadan juga menggeser pola puncak penggunaan internet. Telkomsel mencatat trafik digital dapat melonjak hingga 87 persen pada waktu sahur, antara pukul 03.00 hingga 05.00.

Baca Juga:  Menanti 1 Syawal: Antara Ilmu, Ijtihad, dan Kedewasaan Umat

Ini menunjukkan prime time internet berubah mengikuti ritme ibadah masyarakat. Jika biasanya puncak trafik terjadi pada malam hari, maka selama bulan suci lonjakan signifikan justru muncul menjelang fajar.

Artinya, operator tidak hanya menghadapi kenaikan volume, tetapi juga perubahan distribusi beban jaringan secara temporal.

Redistribusi Kapasitas Jaringan

Data lonjakan hingga 87 persen pada waktu sahur menjadi gambaran konkret bagaimana Ramadan mengubah arsitektur beban jaringan.

Pada jam-jam tersebut, masyarakat tidak hanya bersiap makan sahur, tetapi juga mengakses video pendek, siaran langsung kajian, hingga berinteraksi di media sosial.

Dalam hal teknis, lonjakan di jam dini hari memerlukan redistribusi kapasitas jaringan, karena sistem yang biasanya lebih longgar pada jam tersebut mendadak menjadi padat.

Kasus ini menunjukkan bahwa perencanaan kapasitas tidak cukup hanya berbasis rata-rata harian. Operator harus membaca pola sosial dan budaya untuk memprediksi titik-titik kritis.

Ramadan membuktikan bahwa dinamika masyarakat dapat mengubah logika teknis jaringan secara drastis.

‎Perubahan perilaku ini sejalan dengan meningkatnya konsumsi konten video, penggunaan media sosial, pesan instan, serta transaksi berbasis dompet digital.

Baca Juga:  PBI Dicabut Pemerintah, Pasien Gagal Ginjal Menderita

Ramadan menjadi momentum integrasi antara kehidupan spiritual dan ekosistem digital. Silaturahmi berlangsung lewat panggilan video, ceramah agama diakses melalui streaming, dan kebutuhan berbuka maupun sahur dipenuhi melalui platform belanja daring.

Mobile BTS

‎Studi kasus lain terlihat pada kesiapan tambahan infrastruktur seperti Mobile BTS dan penguatan backbone.

Ketika jutaan orang bergerak dari kota besar ke daerah tujuan mudik, distribusi trafik ikut berpindah. Titik-titik transportasi, jalur tol, pelabuhan, hingga kota-kota kecil yang biasanya tidak terlalu padat, mendadak mengalami lonjakan penggunaan data.

Menghadapi kondisi tersebut, penguatan infrastruktur menjadi keharusan.

XL Axiata menyiapkan 100 unit Mobile BTS serta 60 unit BTS 5G tambahan untuk mengantisipasi kepadatan trafik di sejumlah titik.

Di sisi lain, Telkom Group melakukan peningkatan kapasitas backbone broadband hingga puluhan terabit per detik. Seluruh operator mengaktifkan pusat pemantauan jaringan selama 24 jam untuk memastikan kualitas layanan tetap stabil.

Penambahan 100 Mobile BTS dan puluhan BTS 5G bukan hanya langkah ekspansi bisnis, tetapi respons terhadap pergeseran geografis beban jaringan.

Tanpa langkah antisipatif, bottleneck berpotensi terjadi di wilayah yang sebelumnya tidak dirancang untuk beban trafik tinggi.

Baca Juga:  Lebaran Berbeda: Pemerintah Tetapkan 21 Maret 2026, Muhammadiyah Sehari Lebih Dulu

Koordinasi antara operator dan pemerintah dalam pengawasan melalui ratusan posko siaga menjadi krusial untuk menjaga stabilitas layanan nasional.

Kementerian Komunikasi dan Digital juga menyiapkan 386 posko siaga untuk memantau kualitas layanan telekomunikasi selama Ramadan dan arus mudik.

Langkah ini penting karena lonjakan trafik sering beririsan dengan peningkatan mobilitas masyarakat menjelang dan setelah Idulfitri.

Infrastruktur Digital

‎Dari berbagai data dan langkah antisipasi tersebut, satu hal menjadi jelas: Ramadan kini menjadi barometer ketahanan infrastruktur digital Indonesia.

Lonjakan trafik dua digit, perubahan prime time ke waktu sahur, serta meningkatnya aktivitas ekonomi digital menunjukkan bahwa konektivitas telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat.

Operator tidak lagi hanya mengelola jaringan, tetapi mengelola ritme sosial bangsa yang semakin digital.

Ramadan 2026 bukan hanya tentang ibadah dan tradisi, tetapi juga bagaimana ekosistem digital nasional mampu menopang dinamika sosial berskala besar.

Jika kesiapan infrastruktur terjaga, lonjakan tersebut bukan ancaman, melainkan bukti bahwa transformasi digital Indonesia semakin matang dan adaptif terhadap perubahan perilaku masyarakat. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…