Telaah

Tauhid dan Ilusi Keamanan Global

178
×

Tauhid dan Ilusi Keamanan Global

Sebarkan artikel ini
Ilustras AI

Di balik gemerlap kekuatan dunia, tersimpan kerentanan yang nyata. Tauhid menghadirkan perspektif berbeda: keamanan hakiki hanya berasal dari Allah.

Oleh Ridwan Manan,; Ketua Takmir Masjid “Ramah Musafir” Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur; Kepala SMA Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo

Tagar.co – Ketika manusia merasa aman di balik kekuatan militer dan aliansi politik, Islam justru mengajarkan hal yang sebaliknya: perlindungan sejati tidak pernah lahir dari makhluk. Ia hanya datang dari Allah, sebagaimana ditegaskan dalam hadis ini.

Suatu kali Rasulullah Saw. membonceng Ibnu Abbas. Beliau memberikan nasihat mendalam tentang fondasi akidah:

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali apa yang telah Allah tetapkan. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan.” (Tirmizi)

Baca Juga:  Wafatnya Khamenei, Bangkitnya Turki, dan Masa Depan Palestina

Rasulullah memanggil Ibnu Abbas dengan “ya gulām”, panggilan indah yang menunjukkan kasih sayang beliau dan perhatian terhadap generasi muda.

Hadis ini memberikan fondasi tauhid yang kuat: perlindungan sejati bukan berasal dari manusia, bukan pula dari kekuatan militer dengan jumlah tentara yang banyak serta teknologi canggih, melainkan dari Allah.

Hadis ini juga mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menggantungkan rasa aman sepenuhnya kepada makhluk. Perlindungan manusia bersifat relatif dan terbatas, sedangkan perlindungan Allah bersifat mutlak.

Belajar dari Sejarah Rasulullah

Kesadaran tauhid inilah yang dahulu membentuk mentalitas umat Islam. Mereka tidak gentar menghadapi kekuatan besar karena kekuatan dan perlindungan mutlak milik Allah. Lahaula wala kuwwata illa billah.

Pada zaman Rasulullah Saw., kekuatan besar dunia, Romawi, telah dihadapi oleh umat Islam dalam Perang Mu’tah dan Perang Tabuk. Jumlah tentara Romawi jauh lebih besar dibandingkan tentara Islam.

Jarak tempuh antara Madinah menuju Tabuk sekitar 700 km, dengan berkendara unta dan berjalan kaki melewati padang pasir dan lembah. Di tengah terik matahari, tentara Islam yang berjumlah 30.000 tidak tampak lelah; mereka tetap segar meskipun perbekalan sangat terbatas.

Baca Juga:  Masjid Tak Sekadar Megah: 4S Penyebab Takmir Gagal Memakmurkan

Sebaliknya, kekuatan besar Romawi dengan sekitar 40.000 tentara yang ditunjang persenjataan lengkap tidak menghadapi kesulitan seperti umat Islam. Mereka hanya menunggu di perbatasan, lalu mundur dan berlindung di benteng-benteng mereka. Romawi pun tidak jadi berperang di Tabuk. Dunia terperangah melihat keteguhan umat Islam.

Belajar dari Negara-Negara Teluk

Eskalasi konflik Iran dengan Amerika–Israel memberikan pelajaran penting bagi umat Islam. Ketika Iran membalas serangan Amerika–Israel, kekuatan besar Amerika tidak sepenuhnya mampu memberikan perlindungan keamanan kepada negara-negara Teluk yang selama ini bergantung pada jaminan keamanan tersebut. Bahkan, dalam beberapa kondisi, Amerika–Israel juga tidak mampu sepenuhnya melindungi diri dari serangan balasan.

Kemakmuran dan kesejahteraan negara-negara di kawasan Teluk membuat sebagian dari mereka merasa perlu bergantung pada perlindungan eksternal. Hilangnya kemandirian dan meningkatnya ketergantungan pada negara lain menjadikan mereka rentan dan mudah dipengaruhi. Hubbu ad-dunya wa karahiyatu al-maut—cinta dunia dan takut mati.

Realitas politik internasional menunjukkan bahwa banyak negara kecil menggantungkan keamanan pada kekuatan besar. Di kawasan Teluk, sejumlah negara menjalin kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat. Pangkalan militer, sistem pertahanan udara dan laut, hingga perjanjian keamanan menjadi simbol bahwa perlindungan eksternal dianggap penting bagi stabilitas kawasan.

Baca Juga:  Di Balik Ketahanan Iran Menghadapi Gempuran Amerika

Namun, sejarah menunjukkan bahwa perlindungan semacam ini sering kali bersifat pragmatis dan penuh kepentingan. Ketika kepentingan berubah, komitmen perlindungan pun dapat berubah. Politik internasional tidak dibangun di atas loyalitas moral, melainkan kalkulasi strategis.

Islam sejak awal telah memberikan pelajaran mendasar tentang hakikat perlindungan manusia. Karena itu, dalam konteks konflik global atau perang Amerika–Israel dengan Iran serta dinamika keamanan kawasan Teluk sekalipun, pesan Nabi tetap sama: perlindungan sejati bukan pada kekuatan negara, melainkan pada kedekatan kepada Allah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni