OpiniUtama

Di Balik Ketahanan Iran Menghadapi Gempuran Amerika

142
×

Di Balik Ketahanan Iran Menghadapi Gempuran Amerika

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi serangan balasan Iran ke pangkalan militer Amerika Serika yang ada di sejumlah negara Timur Tengah (Ilustrasi YouTube Kompas)

Dari ideologi revolusi hingga strategi perang asimetris, Iran membangun sistem pertahanan politik dan militer yang membuatnya sulit dilumpuhkan.

Oleh Ulul Albab Ketua ICMI Jawa Timur

Tagar.co – Dalam logika geopolitik modern, sebuah negara yang diserang oleh kekuatan militer terbesar di dunia biasanya akan runtuh dengan cepat. Namun Iran menunjukkan fenomena yang berbeda.

Meskipun mengalami serangan udara besar dan tekanan ekonomi yang berat, negara ini tetap mampu bertahan secara politik dan militer.

Baca juga: Belajar dari Ayatullah Ali Khamenei: Ideologi, Kepemimpinan, dan Ketahanan Sebuah Negara

Pertanyaannya kemudian menjadi menarik: mengapa Iran tidak runtuh meskipun menghadapi tekanan Amerika Serikat dan sekutunya?

Jawabannya tidak sederhana. Ada beberapa faktor struktural yang menjelaskan ketahanan Iran.

1. Struktur Kekuasaan yang Sangat Terkonsolidasi

Salah satu faktor utama adalah struktur kekuasaan Iran yang sangat kuat dan terorganisasi.

Laporan intelijen Amerika sendiri menyebut bahwa bahkan serangan militer besar belum tentu mampu menggulingkan pemerintahan Iran karena negara ini memiliki mekanisme suksesi dan jaringan kekuasaan yang mapan, termasuk peran militer dan ulama dalam menjaga stabilitas negara (The Washington Post).

Baca Juga:  Maarif Institute Serukan Diplomasi Perdamaian di Tengah Eskalasi Timur Tengah

Sistem politik Iran tidak bertumpu pada satu individu saja. Ia didukung oleh jaringan institusi seperti:

• Majelis Khubregan
• Pengawal Revolusi Iran (IRGC)
• lembaga ulama dan jaringan birokrasi negara

Karena itu, bahkan ketika pemimpin tertinggi wafat, struktur negara tetap dapat berjalan.

2. Ideologi Revolusi yang Mengakar

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran tidak hanya membangun negara, tetapi juga membangun ideologi politik.

Ideologi ini memadukan unsur:

• nasionalisme Iran
• identitas Islam Syiah
• narasi perlawanan terhadap dominasi Barat

Bagi banyak pendukungnya, konflik dengan Amerika dipandang bukan sekadar konflik politik, tetapi sebagai perjuangan mempertahankan kedaulatan dan identitas revolusi.

Dalam konteks ini, tekanan eksternal justru sering memperkuat solidaritas internal.

3. Strategi Resistance Economy

Iran juga mengembangkan strategi ekonomi yang disebut resistance economy.

Konsep ini bertujuan membangun ketahanan ekonomi terhadap sanksi internasional melalui:

• penguatan produksi domestik
• pengurangan ketergantungan impor
• diversifikasi perdagangan
• ekonomi berbasis sumber daya internal (Wikipedia)

Strategi ini memang tidak membuat ekonomi Iran makmur, tetapi cukup untuk menjaga negara tetap bertahan di tengah tekanan.

Baca Juga:  Meluruskan Hadis Tiga Fase Ramadan: Antara Semangat dan Ketelitian Ilmiah

4. Strategi Militer Asimetris

Iran juga tidak berusaha menandingi kekuatan militer Amerika secara langsung.

Sebaliknya, mereka menggunakan strategi perang asimetris, antara lain:

• drone murah dalam jumlah besar
• jaringan kelompok sekutu regional
• serangan terhadap infrastruktur strategis

Misalnya, Iran baru-baru ini menyerang sistem radar pertahanan Amerika di Timur Tengah menggunakan drone murah yang relatif sulit dihentikan sepenuhnya (Wall Street Journal).

Strategi ini membuat konflik menjadi mahal dan kompleks bagi pihak lawan.

5. Posisi Geopolitik yang Sangat Strategis

Iran juga memiliki posisi geografis yang sangat penting dalam sistem energi global.

Negara ini berada di dekat Selat Hormuz, jalur laut tempat sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati setiap hari. Ketika konflik meningkat, gangguan di kawasan ini langsung mengguncang pasar energi global (Reuters).

Karena itu, konflik dengan Iran tidak hanya menjadi masalah militer, tetapi juga masalah ekonomi dunia.

Pelajaran dari Ketahanan Iran

Terlepas dari berbagai kontroversi politiknya, ketahanan Iran memberikan beberapa pelajaran penting dalam geopolitik modern.

Baca Juga:  Surah Qaf dan Bisikan Lembut Allah kepada Manusia

Pertama, kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh militer, tetapi juga oleh ideologi, struktur politik, dan daya tahan masyarakatnya.

Kedua, tekanan eksternal sering kali tidak selalu melemahkan sebuah negara. Dalam beberapa kasus, tekanan justru memperkuat solidaritas nasional.

Ketiga, konflik modern jarang menghasilkan kemenangan cepat. Bahkan negara dengan kekuatan militer terbesar sekalipun dapat menghadapi kesulitan ketika berhadapan dengan sistem politik yang tahan terhadap tekanan.

Dalam sejarah dunia, ada banyak contoh negara yang bertahan bukan karena mereka paling kuat, tetapi karena mereka memiliki ketahanan politik, ideologi, dan sosial yang mendalam.

Iran tampaknya menjadi salah satu contoh terbaru dari fenomena tersebut. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni