Feature

Bentor Zakat Mumtas Susuri Gang, Siswa Belajar Arti Berbagi

245
×

Bentor Zakat Mumtas Susuri Gang, Siswa Belajar Arti Berbagi

Sebarkan artikel ini
Tim Safari Berbagi SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) membawa paket zakat menggunakan becak motor (bentor) untuk disalurkan kepada warga di sekitar sekolah. Mereka menyusuri gang-gang permukiman dan mendatangi rumah warga yang membutuhkan. (Tagar.co/Humas Mumtas)

Paket sembako diantar langsung ke rumah warga sekitar sekolah. Bagi siswa SD Mumtas, kegiatan ini menjadi pelajaran nyata tentang kepedulian sosial.

Tagar.co — Pagi yang teduh menyelimuti kawasan sekitar SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas), Jumat (13/3/2026). Di halaman sekolah, sejumlah paket sembako telah tertata rapi. Hari itu bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan momentum berbagi yang menghangatkan hati warga sekitar.

Paket-paket zakat itu kemudian diangkut ke atas bentor yang telah bersiap mengantarkan bantuan dari satu rumah ke rumah lainnya. Di belakangnya, beberapa siswa Mumtas bersama pengurus IPM Kids berjalan penuh semangat, seakan ikut menyampaikan pesan sederhana: berbagi adalah kebahagiaan.

Baca juga: SD Mumtas Hadirkan Keceriaan Ramadan di Panti Muhammadiyah Semampir

Penyaluran zakat ini dikawal langsung oleh Moh Ali, M.Pd., Kaur Ismuba SD Mumtas. Bersama para siswa, ia menyusuri gang-gang kecil menuju rumah warga di sekitar sekolah yang membutuhkan bantuan.

Suasana hangat terasa ketika bentor berhenti di depan rumah warga. Anak-anak Mumtas dengan sigap membawa paket zakat di tangan mereka. Pintu rumah pun terbuka, memperlihatkan wajah-wajah penuh harap yang menyambut kedatangan rombongan kecil itu.

Baca Juga:  Kisah Mualaf asal Amerika Bikin Siswa SD Mumtas Tersentuh
Senyum ceria warga Sidoyoso menyambut kedatangan siswi SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) yang mengantarkan paket zakat berupa sembako kepada masyarakat sekitar. (Tagar.co/Humas Mumtas)

Senyum sumringah langsung merekah di wajah para penerima zakat. Ada yang berkali-kali mengucapkan terima kasih, ada pula yang menatap haru sambil memegang erat paket sembako yang baru diterima. Bagi mereka, kedatangan anak-anak Mumtas bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga membawa kebahagiaan.

Sebagian siswa tampak berbincang hangat dengan warga. Ada yang membantu mengangkat paket, ada pula yang sekadar menyapa dengan penuh sopan. Pemandangan sederhana itu menjadi pelajaran kehidupan yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.

Moh Ali menjelaskan, kegiatan ini bukan hanya tentang menyalurkan zakat, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi para siswa.

“Kita ingin anak-anak bukan hanya pintar, tetapi juga memiliki hati. Ketika mereka ikut menyalurkan zakat, mereka belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang memberi,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala SD Mumtas, M. Khoirul Anam, M.Pd.I. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak berhenti pada kecerdasan akademik, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial.

“Kami ingin anak-anak belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tetapi juga memberi. Keberkahan bukan hanya dari banyaknya harta, tetapi dari kebermanfaatannya,” tuturnya.

Baca Juga:  Buka Bersama SD Mumtas, Sinergi Guru dan Orang Tua kian Menguat
Siswi SD Muhammadiyah 10 Surabaya (Mumtas) menyerahkan paket zakat berupa sembako kepada warga di kawasan Sidoyoso, Surabaya, dalam kegiatan Safari Berbagi Ramadan. Program ini melibatkan siswa untuk menumbuhkan kepedulian sosial sekaligus menyalurkan bantuan kepada warga sekitar sekolah. (Tagar.co/Humas Mumtas)

Melalui program zakat yang dikelola panitia zakat sekolah, pihaknya juga mengajak para orang tua untuk berkolaborasi dalam kebaikan. Program ini memudahkan orang tua yang ingin menyalurkan zakat, sekaligus mengedukasi siswa tentang pentingnya kepedulian sosial.

Selain membantu fakir miskin di sekitar lingkungan sekolah, zakat tersebut juga disalurkan kepada panti asuhan yatim yang membutuhkan.

Anggota Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Simokerto itu menambahkan, keberkahan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas atau dana pembangunan.

“Kami menyadari sekolah ini berdiri bukan hanya dengan uang SPP atau dana pembangunan, tetapi juga dengan doa dan keberkahan. Jika banyak yang peduli kepada dhuafa, insyaallah anak-anak kita akan tumbuh dalam lingkungan yang penuh keberkahan,” pungkasnya.

Pagi itu, bentor yang melaju pelan di gang-gang sempit seakan membawa pesan sederhana: dari langkah-langkah kecil anak-anak Mumtas, semangat berbagi terus hidup dan menebar kebahagiaan di tengah masyarakat sekitar. (#)

Jurnalis M. Khoirul Anam | Penyunting Mohammad Nurfatoni