
Ratusan anggota Pimpinan Ranting IPM SMA Muhammadiyah 1 Gresik mengikuti Kajian Ramadan yang mengingatkan kembali tiga amalan utama yang paling dicintai Allah dan relevan bagi kehidupan pelajar.
Tagar.co — Aula lantai 2 SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik, Jawa Timur, dipenuhi anggota Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Smamsatu pada Senin (9/3/2026) sore. Mereka berkumpul untuk mengikuti Kajian Ramadan 1447, kegiatan tahunan yang memadukan penguatan keagamaan dengan buka puasa bersama.
Baca juga: Tutup Safari Ramadan, IPM MBS Madinatul Ilmi Ajak Siswi Spensagres Berubah Lebih Baik
Tahun ini, kajian mengangkat tema “Menyambut Cahaya di Bulan Penuh Ampunan.” Sejak pukul 15.30, para peserta mulai melakukan registrasi di depan aula sebelum memasuki ruangan dan duduk berbaris rapi menunggu acara dimulai.
Kegiatan dipandu oleh Ipmawan Fardhana Keyano Fifaldy sebagai pembawa acara. Ia membuka rangkaian kegiatan dengan membacakan susunan acara dan mengawali pertemuan dengan basmalah.

Mengawalai acara, M. Shaddam Athallah membacakan ayat suci Al-Qur’an sebagai pembuka acara. Lantunan ayat yang dibacakannya membuat suasana aula menjadi lebih khidmat, sekaligus mengawali rangkaian Kajian Ramadan dengan nuansa religius.
Sambutan pertama kemudian disampaikan oleh Ipmawan Shidqi Raka Syahputra dari Bidang Kajian Dakwah Islam yang juga menjadi Ketua Pelaksana Kajian Ramadan 1447.
“Saya mewakili teman-teman IPM 61 sangat bangga karena kita bisa berkumpul di sini,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada IPM angkatan ke-60 yang telah memberikan bimbingan serta kepada seluruh anggota IPM angkatan 61 yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Semoga dengan program kerja ini, komunikasi kita tetap terjalin,” tambahnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wiwit Dwi Wahyu, S.Hum., M.Pd., Pembina IPM Smamsatu yang hadir menggantikan Kepala SmamsatuNurul Ilmiyah yang berhalangan hadir.
“Yang membuat kita bahagia hari ini adalah karena kita bisa berkumpul dengan orang-orang yang berilmu dan saleh. Semoga kita bisa saling berbagi ilmu satu sama lain,” tuturnya.

Memasuki acara inti, peserta mengikuti kajian yang disampaikan oleh Rosyidul Arifibillah dengan tema “Tiga Amalan yang Dicintai Allah.”
Dalam pengantarnya, ia menegaskan bahwa anggota IPM merupakan pelajar terpilih yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga iman dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, terdapat tiga amalan utama yang sangat dicintai Allah Swt., yaitu salat tepat waktu, berbakti kepada orang tua, dan berjihad di jalan Allah.
Ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang amalan yang paling dicintai Allah.
“Rasulullah menjawab, ‘Salat pada waktunya.’ Lalu ditanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Kemudian ditanya lagi, ‘Lalu apa?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah,’” jelasnya.

Rosyidul Arifibillah—yang akrab disapa Pak Billah—menekankan pentingnya menjaga kualitas salat.
“Anak IPM harus menjaga imannya dengan salat tepat waktu. Orang yang bisa menjaga kualitas salat, insyaallah kehidupannya akan dimudahkan,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya berbakti kepada orang tua, misalnya dengan berbicara secara sopan dan menaati nasihat mereka selama tidak bertentangan dengan syariat.
“Kalau sudah azan tetapi ibu masih menonton sinetron, kita ajak dengan baik, ‘Bu, ayo salat, sudah azan.’ Disampaikan dengan lembut, bukan malah ikut menonton,” ujarnya.
Pada poin ketiga, ia menjelaskan makna jihad bagi pelajar Muhammadiyah, yang dimaknai sebagai perjuangan memperbaiki diri melalui ilmu dan akhlak.

Ia kemudian menjelaskan bahwa jihad bagi pelajar Muhammadiyah tidak selalu dimaknai sebagai perjuangan fisik. Dalam konteks pelajar, jihad lebih dekat dengan perjuangan memperbaiki diri dan menumbuhkan karakter yang baik.
“Ada tiga bentuk jihad pelajar Muhammadiyah,” ujar Pak Billah.
Pertama, jihad dalam menuntut ilmu. Ia menegaskan bahwa pelajar Muhammadiyah harus belajar dengan sungguh-sungguh. “Pelajar Muhammadiyah seharusnya belajar dengan tekun, disiplin, dan tidak malas,” jelasnya.
Kedua, jihad melalui akhlak yang baik. Menurutnya, sikap pelajar tidak hanya terlihat dari nilai akademik, tetapi juga dari perilaku sehari-hari. “Seperti menghormati guru, berbakti kepada orang tua, jujur dalam ujian, dan menjadi teladan dalam bersikap,” tuturnya.
Ketiga, jihad melawan hawa nafsu. Ia mengingatkan bahwa perjuangan terbesar bagi pelajar sering kali justru melawan diri sendiri. “Berjuang melawan rasa malas, godaan bermain berlebihan, dan hal-hal yang tidak bermanfaat,” katanya.

Menutup kajiannya, Pak Billah mendoakan para anggota IPM agar kelak menjadi pribadi yang sukses serta membanggakan sekolah, guru, dan orang tua mereka.
Menjelang waktu berbuka, para peserta menikmati hidangan ringan berupa donat dan minuman sebagai pembuka puasa. Setelah itu mereka melaksanakan salat Magrib berjemaah, dilanjutkan makan bersama.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan salat Isya dan Tarawih berjemaah di Masjid Al-Qolam, sekaligus menandai berakhirnya Kajian Ramadan yang mempererat kebersamaan sekaligus memperkuat nilai keimanan para pelajar Muhammadiyah. (#)
Jurnalis Zada Kanza Makhfiya Mohammad | Penyunting Mohammad Nurfatoni












