Feature

Ilmu sebagai Darah Daging Muhammadiyah

85
×

Ilmu sebagai Darah Daging Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Pengajian Ramadan 1447 H mengupas kunci ilmu dalam Segitiga Sukses Ahmad Dahlan. Eko meneguhkan guru Muhammadiyah GKB memperkuat kualifikasi, keseimbangan ilmu, dan habituasi Al-Qur’an.
Eko Hardi Ansyah mengupas kunci ilmu dalam Segitiga Sukses Ahmad Dahlan. (Tagar.co/Ilham)

Pengajian Ramadan 1447 H mengupas kunci ilmu dalam Segitiga Sukses Ahmad Dahlan. Eko meneguhkan guru Muhammadiyah GKB memperkuat kualifikasi, keseimbangan ilmu, dan habituasi Al-Qur’an.

Tagar.co – Usai mengulas secara sekilas Segitiga Sukses Ahmad Dahlan, Dr. Eko Hardi Ansyah, M.Psi., Psikolog, Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur, membedahnya satu per satu. Ia memulai dari kunci pertama: ilmu.

Hal ini Eko bahas dalam Pengajian Ramadan 1447 Hijriah pada Sabtu (28/2/2026) siang yang diikuti 370 guru dan karyawan sekolah Muhammadiyah GKB. Empat sekolah tersebut yakni SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik (Spemdalas), SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School), SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik (Berlian Primary School), dan SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik (Smamio).

Di Masjid Al Mizan Smamio siang itu, Eko mengutip firman Allah SWT, “…Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS Al-Mujadilah: 11).

Kemudian Eko mengajak jemaah Pengajian Ramadan yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB Gresik tersebut untuk menelaah sikap Ahmad Dahlan terhadap ilmu. Saat mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan berusia sekitar 45 tahun, dalam kondisi Indonesia yang saat itu hanya sekitar 3 persen penduduknya mampu membaca dan menulis.

Baca Juga:  Menapak Jejak Bahari di Gedung Heritage

Baca Juga: Psikolog Eko Hardi Ansyah Membedah Segitiga Sukses Ahmad Dahlan

Jejak Intelektual Kiai Dahlan

Ia kemudian mengurai jejak intelektual Kiai Ahmad Dahlan. Pertama, belajar ke Mekkah pada usia 15 tahun selama lima tahun. “Anak lain di usia tersebut mungkin membantu orang tuanya menjadi buruh tani,” ujarnya.

Kedua, setelah kembali ke Tanah Air, Ahmad Dahlan kembali belajar ke Mekkah pada 1903 selama dua tahun. “Bisa dilihat keseriusan Ahmad Dahlan menimba ilmu,” kata Eko.

Ketiga, Ahmad Dahlan memiliki sekitar 15 guru, mulai dari KH Abu Bakar, Kiai Faqih Oesman Gresik, hingga pemikir Islam seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Ia banyak membaca kitab tafsir tokoh-tokoh Islam progresif yang memandang Islam bukan hanya perkara fikih, melainkan juga solusi bagi persoalan umat.

“Ia memiliki semangat belajar yang tinggi dan kritis membaca isu kontekstual,” ungkapnya.

Ilmu Darah Daging Muhammadiyah

Dalam forum tersebut, Eko menegaskan, “Ilmu adalah darah daging Muhammadiyah dan guru adalah tubuhnya.”

Menurutnya, kemajuan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya, baik pendidik maupun tenaga kependidikan, termasuk tenaga administrasi, satpam, dan pramubakti.

Baca Juga:  Hadapi Era Kecerdasan Buatan, Sekolah Muhammadiyah Jatim Gandeng Marshall Cavendish

Ia lalu melontarkan sejumlah pertanyaan pemantik kepada peserta. Pertama, soal kualifikasi. “Ada berapa yang sudah magister dan doktor? Di Smamio sudah ada dua doktor,” ujarnya.

Kedua, frekuensi pertemuan ilmiah. “Ada berapa kali pertemuan rutin di sekolah untuk eksplorasi ilmu? Karena ilmu yang diberikan kepada anak bergantung pada seberapa berilmu gurunya. Wali murid ingin anaknya dididik oleh orang-orang yang berkompeten,” katanya.

Ketiga, intensitas pengembangan diri. Ia mempertanyakan target jam belajar guru dalam setahun melalui pelatihan, lokakarya, maupun seminar (in-service training). “Di negara sebelah, kalau tidak ikut pelatihan seratus jam dalam setahun, akan tertinggal dari guru lainnya,” ujarnya.

Keempat, keseimbangan keilmuan. Eko mencontohkan, Ahmad Dahlan tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga yang terkait alam. Bahkan Kiai Dahlan belajar tentang bisa ular dan berdiskusi dengan orang Belanda mengenai sains. Setahun sebelum Muhammadiyah berdiri, ia telah mendirikan madrasah yang mengajarkan ilmu alam di samping ilmu agama.

“Menjadi guru Muhammadiyah mau tidak mau harus menyeimbangkan ilmu profesional dengan pemahaman keagamaan,” tegasnya.

Kelima, linieritas keilmuan. Ia menyoroti pentingnya kesesuaian bidang studi hingga jenjang S-2 maupun S-3 agar mampu melahirkan generasi berprestasi. “Tanpa keseimbangan ilmu akhirat, orang akan mudah stres dan mudah marah,” katanya.

Baca Juga:  Segitiga Sukses Ahmad Dahlan di Muhammadiyah GKB

Baca Juga: Segitiga Sukses Ahmad Dahlan di Muhammadiyah GKB

Habituasi terhadap Al-Qur’an

Keenam, habituasi terhadap sumber ilmu utama, yakni Al-Qur’an. “Setiap hari apakah kita terbiasa membaca Al-Qur’an? Apakah beserta arti dan tafsirnya?” ujarnya.

Eko mengaitkan kebiasaan tersebut dengan produktivitas intelektual. Ia mencontohkan pengalaman pribadinya hingga mampu menulis buku Psikologi Al-Fatihah.

Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim).

Di akhir paparannya, Eko menegaskan, ilmu sumber kebahagiaan

“Ilmu akan membuat manusia bahagia. Karena dengan ilmu, kita bisa menangani sesuatu yang sebelumnya tidak bisa kita tangani. Kalau tidak paham ADHD, kita akan kesulitan menanganinya. Anak ini kesulitan, keluarganya juga mungkin ada masalah. Kalau saya tidak membantu, siapa yang akan membantu?” tuturnya.

Menurutnya, dibutuhkan ilmu agama agar semangat ta’awun atau saling menolong dapat tumbuh dengan benar. Melalui penguatan hal inilah, Segitiga Sukses Ahmad Dahlan dia nilai tetap relevan untuk membangun institusi sekaligus membentuk pribadi yang berkemajuan. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni