Opini

Timur Tengah Memanas: Membaca Arah Konflik dan Risiko Kawasan

129
×

Timur Tengah Memanas: Membaca Arah Konflik dan Risiko Kawasan

Sebarkan artikel ini
Sejumlah pengendara melintas saat kepulan asap membubung dari lokasi yang dilaporkan terkena serangan Iran di kawasan industri Doha, Qatar. (Mahmud Hamas/AFP via Aljazeerah)

Eskalasi Iran, Amerika, dan Israel membuka babak baru ketegangan. Dunia terbelah, negara Teluk waspada, dan ancaman perang regional kian nyata di tengah tarik-menarik kepentingan global.

Oleh Ulul Albab Ketua ICMI Jawa Timur

Tagar.co – Dunia kembali diguncang eskalasi besar di Timur Tengah. Serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu babak baru ketegangan geopolitik yang selama ini memang telah membara.

Laporan internasional menyebutkan bahwa operasi militer tersebut menargetkan fasilitas strategis Iran dan mengakibatkan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer penting.

Baca juga: Wafatnya Khamenei, Bangkitnya Turki, dan Masa Depan Palestina

Jika informasi ini terkonfirmasi secara final oleh sumber-sumber independen, maka peristiwa tersebut menjadi salah satu titik balik paling dramatis dalam sejarah politik modern Timur Tengah.

Namun, konflik tidak berhenti di sana. Iran kemudian melakukan serangan balasan berupa rudal dan drone ke berbagai target yang dianggap terkait dengan operasi tersebut. Beberapa pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk menjadi sasaran. Dalam perkembangan berikutnya, sejumlah negara Arab menyatakan wilayahnya turut terdampak oleh lintasan atau dampak serangan tersebut. Di sinilah dinamika baru muncul.

Baca Juga:  Din Syamsuddin Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace yang Berubah Menjadi “Board of War”

Reaksi Arab Saudi dan Negara-Negara Teluk

Kerajaan Arab Saudi secara resmi mengecam keras serangan Iran yang dinilai menyasar atau membahayakan wilayah negara-negara Arab. Riyadh menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan stabilitas kawasan.

Pernyataan resmi Saudi menegaskan kesiapan untuk mengerahkan seluruh kemampuan pertahanan demi menjaga keamanan nasional dan keamanan koleektif negara-negara Teluk. Seruan juga disampaikan kepada komunitas internasional agar tidak membiarkan eskalasi ini berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.

Artinya, konflik ini kini tidak lagi sekadar persoalan Iran versus Amerika atau Israel. Ia berpotensi menyeret negara-negara Arab yang sebelumnya tidak berada dalam garis langsung konfrontasi.

Mengapa Dunia Terbelah?

Respons global terhadap konflik ini terpolarisasi dalam dua arus besar.

Pertama, sebagian pihak mengecam keras serangan militer terhadap Iran, terutama jika benar menargetkan pemimpin tertinggi negara tersebut. Mereka menilai hal itu melanggar prinsip kedaulatan dan dapat menciptakan preseden berbahaya dalam hukum internasional.

Kedua, di sisi lain, ada yang mengecam serangan balasan Iran yang dinilai meluas dan membahayakan stabilitas negara-negara Arab yang tidak secara langsung memulai konflik.

Baca Juga:  Lautan Duka di Teheran, Warga Iran Tangisi Wafatnya Ayatullah Ali Khamenei

Kita melihat adanya dua narasi besar: narasi “pencegahan ancaman keamanan” dan narasi “pelanggaran kedaulatan dan eskalasi agresif”. Keduanya bertemu dalam satu titik: risiko perang regional terbuka.

Apa yang Sebenarnya Terjadi dan Risiko Besar Apa yang Mengintai?

Secara struktural, ini bukan konflik yang muncul tiba-tiba, tetapi merupakan hasil akumulasi dari:

  • Ketegangan program nuklir Iran
  • Konflik proksi di Lebanon, Suriah, dan Yaman
  • Persaingan pengaruh antara Iran dan blok negara-negara Teluk
  • Kepentingan keamanan Israel; dan\Kepentingan strategis Amerika di kawasan energi dunia.

Serangan terbaru hanyalah puncak gunung es panjang rivalitas geopolitik. Yang perlu dipahami publik adalah bahwa konflik ini tidak sesederhana “siapa benar siapa salah”. Konflik ini merupakan pertemuan kepentingan kekuatan besar, rivalitas regional, serta pertarungan narasi keamanan.

Jika eskalasi terus berlanjut, ada beberapa kemungkinan serius:

  • Perang regional yang melibatkan lebih banyak negara Arab
  • Gangguan besar pada pasokan energi global
  • Meningkatnya polarisasi sektarian di dunia Islam
  • Krisis kemanusiaan yang meluas.

Dalam situasi seperti ini, yang paling rentan selalu warga sipil.

Baca Juga:  Reset Amerika dan Pergeseran Kekuatan Dunia

Konflik ini adalah ujian bagi peradaban modern: apakah dunia memilih balas dendam atau memilih diplomasi? Sebagai bangsa yang dikenal moderat dan cinta damai, Indonesia memiliki posisi moral untuk menyerukan de-eskalasi. Dan sebagai umat, kita memiliki kewajiban menjaga lisan, menjaga persatuan, dan menjaga nurani.

Semoga Allah Swt. melindungi umat manusia dari api peperangan yang berkepanjangan dan memberikan jalan damai bagi seluruh pihak. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni