
Tidak semua riba datang dengan wajah garang. Kadang ia bersih, ramah, dan dipanggil “Pak Haji.”
Cerpen oleh Aji Damanuri
Tagar.co – Sarimin lahir di rumah yang selalu kalah cepat dari hujan.
Atap sengnya bocor di banyak titik, seakan langit telah lama mengenali alamat kesusahan. Dinding bambunya berderit setiap kali angin datang, dan lantai tanahnya menyimpan jejak kaki orang-orang yang hidup tanpa pernah benar-benar merasa aman.
Dari bapaknya, Sarimin mewarisi sebidang tanah sempit—tidak cukup luas untuk bermimpi, tapi cukup untuk bertahan. Dari ibunya, ia mewarisi kesabaran yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Hidup baginya bukan soal naik, melainkan sekadar tidak jatuh terlalu dalam.
Baca juga: Di Antara Beduk Magrib dan Gerobak Sumarni
Ia menikah dengan Sumi, perempuan yang jarang mengeluh dan lebih sering menundukkan kepala dalam doa. Mereka membangun keluarga dari pagi yang diulang-ulang dan keinginan yang dikecilkan agar muat di dalam kenyataan. Anak lahir satu demi satu, sementara rumah tetap sama sempitnya.
Setiap subuh, Sarimin berangkat ke ladang. Ia menyapa tanahnya dengan diam, seperti menyapa kawan lama yang sama-sama lelah. Sayur tumbuh tidak seragam. Yang hijau dan segar ia pisahkan untuk dijual. Yang kecil, yang berlubang, yang nyaris mati, ia bawa pulang.
“Kenapa kita tidak makan yang bagus?” tanya anaknya suatu pagi.
Sarimin tersenyum tipis.
“Karena hidup,” katanya pelan, “sering meminta kita merelakan yang terbaik.”
Siang hari, ia mengais sampah. Tangannya hafal bau plastik, kardus basah, dan logam karatan. Dari apa yang dibuang orang cukup, Sarimin mencoba mencukupi hidupnya. Ia tidak iri. Ia hanya ingin anak-anaknya tidur tanpa menangis lapar.
Sayangnya, kampanye tumbler semakin mempersempit jalan rezekinya yang sudah sempit.
Hingga suatu hari, hidup memaksanya berhenti sejenak.
Anak bungsunya sakit keras. Demamnya tinggi, tubuh kecil itu menggigil seperti daun di ujung musim. Puskesmas menyebut biaya. Apotek menyebut harga. Sarimin pulang membawa angka-angka yang tak sanggup ia jamah.
Di situlah kemiskinan menunjukkan wajahnya yang paling telanjang: keterdesakan.
Nama Pak Haji Karim muncul sebagai jalan keluar. Orang kampung mengenalnya sebagai sosok baik—rapi, terpelajar, rajin ibadah, sering umrah, dermawan. Rumahnya besar, halamannya disapu tiap pagi, dan peci putihnya selalu tampak baru.
Dengan hati menunduk, Sarimin datang.
Pak Haji Karim menyambut di ruang tamu yang harum karbol. Di dinding tergantung foto-foto umrah berbingkai emas. Di meja, buku catatan kecil sudah terbuka, pulpen terselip rapi di sela jari.
“Kita ini saudara,” katanya lembut, sambil menggeser kertas.
“Aku bantu.”
Bantuan itu tidak datang dengan bentakan. Tidak pula dengan ancaman. Ia datang dalam bentuk kertas putih, angka-angka kecil, dan bunga yang disebut wajar.
Sarimin menandatangani tanpa banyak tanya.
Bukan karena ia bodoh, melainkan karena hidup tidak memberinya waktu untuk menolak.
##
Bulan-bulan berikutnya berjalan seperti roda yang dipaksa berputar.
Panen tak lagi menghadirkan lega. Uang tak lagi singgah lama. Semua mengalir menuju cicilan, seperti sungai yang dipaksa kembali ke hulu.
Suatu sore, Pak Haji Karim datang ke rumah.
Bukan marah.
Bukan membentak.
Ia berdiri di depan pintu dengan senyum yang sama rapi seperti pecinya.
“Sarimin,” ujarnya pelan, “saya cuma mengingatkan. Jatuh tempo besok.”
Tidak ada ancaman dalam nada itu. Justru itulah yang membuat dada Sarimin terasa lebih sempit.
“Iya, Pak Haji… insyaallah saya usahakan,” jawabnya.
Pak Haji Karim mengangguk kecil, matanya sempat menyapu atap bocor, ember penampung air, lalu berhenti sebentar pada anak-anak yang mengintip dari balik tirai lusuh.
“Saya percaya panjenengan orang baik,” katanya sebelum pergi.
Langkahnya ringan.
Tapi sejak itu, malam Sarimin tak pernah benar-benar tenang.
###
Ia membayar tepat waktu. Ia menunduk setiap bertemu. Ia menjaga sopan agar tidak disebut lupa diri. Namun utang itu terasa aneh—semakin dibayar, semakin hidup.
Riba bekerja tanpa suara, seperti rayap yang menggerogoti rumah dari dalam.
Sementara itu, Pak Haji Karim semakin dipuji. Sedekahnya disebut, ibadahnya disorot. Tak ada yang memanggilnya rentenir. Kata itu terlalu kasar untuk hidup yang tampak suci. Riba pun disamarkan, dibungkus kebaikan, dan dipoles dengan doa.
Waktu berjalan.
Kampanye lingkungan masuk desa. Orang-orang yang dulu membuang botol air mineral kini membawa tumbler ke mana-mana. Sampah berkurang. Bagi Sarimin, itu berarti penghasilan makin menipis. Jalan hidupnya menyempit lagi, seperti napas orang yang terlalu lama menahan sakit.
Ia jarang ke masjid.
Bukan karena imannya pudar, tapi karena malunya menebal. Bajunya lusuh, hidupnya berantakan. Ia tak pernah menyumbang. Bukan karena kikir, tapi karena hidupnya sendiri selalu minus.
Orang-orang mulai menilai:
Kurang usaha.
Kurang iman.
Kurang sabar.
Padahal yang sering kurang bukan kerja atau doa, melainkan keadilan dalam memandang.
Suatu malam, hujan turun lama dan lebat. Air masuk dari segala arah. Ember tak cukup. Anak-anak menggigil. Sumi mengusap kepala mereka dengan sabar yang mulai letih.
Sarimin duduk diam di sudut rumah. Lelahnya bukan lagi di tubuh, melainkan di jiwa.
“Abah,” tanya anak sulungnya pelan, “apa kita orang gagal?”
Sarimin memeluk anak itu. Lama.
“Tidak, Nak,” katanya lirih.
“Kita hanya hidup di dunia yang sering salah menilai.”
Di ujung desa, pada malam yang sama, rumah besar tetap terang. Lantainya kering. Doa dibaca dengan tenang. Catatan cicilan tersusun rapi.
Dua rumah.
Satu desa.
Satu hidup dibangun dari bunga kesusahan.
Satu hidup dipaksa sabar tanpa pernah dipuji.
Sarimin menengadah ke langit yang gelap.
“Ya Allah,” bisiknya, “jika Engkau Maha Melihat, ajari kami sabar—dan ajari dunia untuk berhenti memuja kebersihan yang tumbuh dari luka.”
Sebab sering kali, riba tidak hidup karena disukai, melainkan karena ia disembunyikan di rumah besar, sementara tangis korbannya dibiarkan bocor di rumah-rumah kecil. (#)
Penyunitng Mohammad Nurfatoni












