
Tagar.co – Salah satu kisah sahabat yang sangat kuat menggambarkan kekhusyukan dan totalitas ibadah di bulan Ramadan adalah kisah Umar bin Khattab radiallahuanhu. Sosok yang dikenal tegas dan kuat ini ternyata memiliki kedalaman spiritual yang luar biasa, terutama ketika Ramadan tiba.
Bagi Umar, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia menjadikannya sebagai madrasah rohani—tempat menundukkan jiwa dan menguatkan hubungan dengan Allah.
Baca juga: Dusta yang Menghimpit, Tobat yang Membebaskan
Pada masa kekhilafahannya, Umar memimpin wilayah Islam yang sangat luas. Ia mengurusi urusan rakyat dari pagi hingga malam.
Namun ketika Ramadan datang, suasana batinnya berubah. Ia pernah berkata: “Seandainya aku tahu Allah menerima satu sujudku saja, itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.”
Ucapan itu bukan retorika. Setiap malam Ramadan, Umar berdiri lama dalam salat malam. Ketika membaca ayat-ayat tentang azab, suaranya bergetar. Ketika membaca ayat-ayat rahmat, ia menangis.
Suatu malam, ia membaca firman Allah:
إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ مَا لَهُ مِن دَافِعٍ
“Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak ada yang dapat menolaknya.” (At-Tur: 7–8)
Tangisnya terdengar hingga ke saf belakang. Bahkan ada riwayat yang menyebut ia jatuh sakit beberapa hari karena begitu dalam pengaruh ayat yang ia renungkan.
Puasa yang Menghidupkan Malam
Umar termasuk sahabat yang sangat menjaga qiam Ramadan. Pada masa kepemimpinannya, ia mengumpulkan kaum muslimin untuk melaksanakan salat Tarawih berjemaah dengan satu imam, yaitu Ubay bin Ka‘ab.
Tentang Tarawih berjemaah itu, Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”
Ucapan ini tidak dimaksudkan sebagai penciptaan ibadah baru, melainkan menghidupkan sunah Rasulullah Saw. yang pernah dilakukan berjemaah beberapa malam, kemudian ditinggalkan karena khawatir diwajibkan.
Setelah menetapkan Tarawih berjemaah, Umar tidak berhenti. Ia tetap menghidupkan malamnya dengan ibadah pribadi. Dalam sujudnya, ia sering berdoa panjang untuk rakyatnya.
Sebagai khalifah, ia merasa tanggung jawabnya semakin berat di bulan Ramadan. Ia berkata:
“Bagaimana aku bisa kenyang sementara rakyatku ada yang kelaparan?”
Kesederhanaan saat Berbuka
Meski seorang pemimpin besar, Umar berbuka dengan sangat sederhana: roti kering, minyak zaitun, dan air.
Suatu ketika, seorang sahabat melihat Umar hendak berbuka dengan roti yang keras lalu mencoba melunakkannya dengan air.
Umar bertanya: “Apakah semua kaum muslimin hari ini makan seperti ini?”
Ketika dijawab tidak, ia pun tidak menambahkan lauk apa pun.
Baginya, Ramadan bukan momentum kemewahan, melainkan momentum empati.
Totalitas Sedekah dan Kepedulian
Pada bulan Ramadan, Umar semakin sering berkeliling malam. Ia memastikan tidak ada keluarga yang kelaparan.
Ada satu kisah yang sangat terkenal. Umar mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah di pinggiran Madinah. Ia mendapati seorang ibu yang “memasak” batu dalam panci untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan.
Ibu itu tidak tahu bahwa lelaki yang berdiri di depannya adalah khalifah.
Umar segera kembali ke Baitulmal dan memikul sendiri karung gandum di pundaknya. Seorang sahabat menawarkan bantuan.
Umar menjawab: “Apakah engkau akan memikul dosaku pada hari kiamat?”
Ia kemudian memasakkan sendiri makanan untuk keluarga itu. Asap dari tungku mengenai wajahnya; air matanya bercampur antara haru dan tanggung jawab.
Ramadan menjadikan Umar lebih peka, lebih lembut, dan lebih takut kepada Allah.
Tangis yang Disembunyikan
Di siang hari, Umar tampak tegar. Namun pada malam hari, ia adalah lelaki yang menangis sendirian.
Putranya, Abdullah bin Umar, pernah berkata bahwa di wajah ayahnya terdapat dua garis hitam karena seringnya air mata mengalir.
Bagi Umar, puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menundukkan ego. Ia khawatir amalnya tidak diterima. Ia takut jika kepemimpinannya justru menjadi sebab kebinasaan dirinya.
Pelajaran dari Umar di Bulan Ramadan
Kisah Umar memberi kita pelajaran mendalam:
- Puasa bukan sekadar ritual, tetapi transformasi jiwa.
- Kepemimpinan bukan alasan untuk mengurangi ibadah.
- Kekuasaan justru harus memperbesar rasa takut kepada Allah.
- Empati sosial adalah bagian dari kesempurnaan puasa.
- Tangis karena ayat Al-Qur’an adalah tanda hati yang hidup.
Ramadan di tangan Umar bukan hanya bulan ibadah pribadi, tetapi juga bulan tanggung jawab kolektif. Ia membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan pada pedang, melainkan pada hati yang tunduk dan mata yang menangis karena Allah.
Kisah Umar mengajarkan bahwa kekhusyukan bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan yang lahir dari kesadaran akan kebesaran Allah dan kefanaan dunia.
Jika Umar yang telah dijamin surga saja masih gemetar dalam ibadahnya, maka bagaimana dengan kita?
Ramadan semestinya tidak berhenti pada lapar dan dahaga. Ia harus berbuah pada kelembutan hati, kejujuran batin, dan kepedulian sosial. Umar bin Khattab telah memberi teladan bahwa puncak puasa bukan hanya pada kuat menahan diri, tetapi pada dalamnya rasa takut kepada Allah dan besarnya tanggung jawab kepada sesama.
Semoga Ramadan menjadikan kita lebih jujur kepada diri sendiri, lebih lembut kepada sesama, dan lebih total dalam penghambaan kepada Allah Swt. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












