Rileks

Saat Kue Jadi Kanvas 12 Perempuan Gresik

532
×

Saat Kue Jadi Kanvas 12 Perempuan Gresik

Sebarkan artikel ini
Dua belas perempuan berkarya. Belajar melukis di atas kue. Mereka mencoba berani tanpa takut salah, berbagi tawa, membawa pulang hasil lukisan, bunga, dan semangat merawat diri bersama.
Peserta belajar melukis di atas kue selama satu jam 30 menit, Ahad (15/2/2026). (Tagar.co/Ilham Ingenue Moments)

Dua belas perempuan berkarya. Belajar melukis di atas kue. Mereka mencoba berani tanpa takut salah, berbagi tawa, membawa pulang hasil lukisan, bunga, dan semangat merawat diri bersama.

Tagar.co — Lantai 2 Calathea Cafe di Jalan Dewi Sekardadu No.9Aa, Gunungsari, Sidomoro, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, berubah menjadi ruang hangat bernuansa lembut. Tema busana cream, beige, latte, dan soft brown menghadirkan harmoni visual sejak langkah pertama menaiki tangga menuju lantai dua.

Saat itu Ahad (15/2/2026) masih pagi, pukul 09.30 WIB. Sebanyak 12 peserta duduk berhadapan di meja kayu panjang. Di atasnya telah tertata palet warna, alas kue, kue yang masih terbungkus plastik, kuas, spatula, empat warna buttercream, tisu, hingga tas jumbo untuk membawa pulang karya.

Suasana mencair ketika Arista Mahardika, Pemilik Cake Imnida, membuka kelas bertajuk Paint Your Cake, Celebrate Yourself. “Siapa yang suka melukis?” Beberapa tangan terangkat.

Arista, sapaan akrab mentor kelas pagi itu, bertanya lagi, “Siapa yang suka bikin kue?” Tangan-tangan lain menyusul.

“Hari ini kita mempertemukan keduanya.” Senyum peserta pun kian merekah. Arista mengakui, awal mulanya melukis di atas kue itu karena bosan melukis dengan media kanvas.

Di balik ketenangannya, ada keberanian untuk memulai. Arista tak menutupi kegugupannya. “Ini cake painting class pertama aku,” ujarnya jujur, justru membuat suasana semakin hangat.

“Nanti kita belajar bareng. Melukis di kanvas dan melukis di kue itu feel-nya memang berbeda,” ujar Arista menenangkan.

Baca Juga:  Menyibak Kabut Merapi: Menilik Sejarah Kelam Bunker dan Menikmati Guyuran Adrenalin

“Nggak perlu takut nanti jelek. Kita di sini have fun bareng, berkarya bareng,” imbuh perempuan yang berkeinginan kuat menciptakan ruang di mana seni bisa dirasakan, serta makanan bisa dinikmati secara visual dan rasa.

Pemanasan Melukis

Kemudian ia mencontohkan cara menempelkan kue ke alas kardus menggunakan buttercream putih sebagai perekat agar tidak bergeser. Gerakannya tenang dan presisi.

Arista lalu mempersilakan peserta merapikan lapisan buttercream putih yang menutupi seluruh permukaan kue sebagai alas lukisan. Komentar mulai terdengar. “Agak susah ya,” ujar Indah Kurnia Safitri, salah satu peserta yang sehari-harinya bekerja di SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A.

Tawa ringan pecah. Tahap dasar yang tampak sederhana justru menjadi latihan kesabaran. “Iya, susah juga ya,” celetuk Tryas Ngudi Lestari, peserta lain yang sehari-harinya bekerja di SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik.

“Anggap ini pemanasan sebelum warna-warni nanti,” imbuh Sayyidah Nuriyah, rekan kerja Tryas. Ketiganya duduk bersebelahan.

Baca Juga: Jeda dari Layar, Digital Detox Art Jam Momen Temukan Ketenangan di Sualoka Hub

Dua belas perempuan berkarya. Belajar melukis di atas kue. Mereka mencoba berani tanpa takut salah, berbagi tawa, membawa pulang hasil lukisan, bunga, dan semangat merawat diri bersama.Peserta kelas “Paint Your Cake, Celebrate Yourself” menikmati proses melukis di atas kue, Ahad (15/2/2026). (Tagar.co/Ilham Ingenue Moments)

Dari Ragu Menjadi Percaya

Setelah alas putih rata, Arista menunjukkan teknik membentuk kelopak bunga. Ujung plastik berisi buttercream ia tempelkan langsung, lalu ditarik perlahan membentuk lekuk lembut. Kadang spatula kecil dia gunakan untuk merapikan tepiannya. Satu kelopak lahir, lalu kelopak berikutnya. Bunga bermekaran di atas kuenya.

Baca Juga:  Navigasi Cerdas Menaklukkan Labirin Cermin di Taman Langitnya Yogya 

Peserta mulai mencoba. Ada yang ragu, ada yang langsung percaya diri. Empat warna buttercream di tangan dua belas orang melahirkan dua belas karakter berbeda—pola abstrak, bunga pastel, hingga simbol personal.

Ketika buttercream melebar tak sesuai rencana, tawa kembali pecah. Tidak ada yang merasa gagal. Justru di situlah keindahannya—belajar tanpa tekanan harus sempurna.

Setelah selesai, kue dimasukkan ke kotak plastik transparan di meja depan. Karya yang semula polos kini menjadi refleksi diri masing-masing dari proses melukis selama 1-1,5 jam.

Buket bunga segar dari Feluxe Florist telah menanti. Peserta yang selesai lebih dulu dapat kesempatan memilih lebih dulu. Warna-warna bunga selaras dengan busana mereka pagi itu.

Arista lalu meminta peserta menuliskan kesan di sticky note dan menempelkannya di papan kayu. “Terima kasih Mbak Arista sudah mewujudkan salat satu wishlist-ku. It’s truly self healing. Awalnya ragu, takut. Tapi lama-lama ketagihan! Mau lagi,” tulis Sayyidah Nuriyah di sticky note. 

Baca Juga: Menemukan Ketenangan lewat Seni di Kano Art Space

Dua belas perempuan berkarya. Belajar melukis di atas kue. Mereka mencoba berani tanpa takut salah, berbagi tawa, membawa pulang hasil lukisan, bunga, dan semangat merawat diri bersama.
Arista Mahardika (tengah) bersama Lendy Arifputra (Chief Organizer) dan kedua belas peserta kelas “Paint Your Cake, Celebrate Yourself”, Ahad (15/2/2026). (Tagar.co/Ilham Ingenue Moments)

Hadiah, Tawa, dan Ruang Merawat Diri

Namun pagi itu belum benar-benar selesai. Setiap peserta mendapatkan voucher self care dari Violetta, Gresik Yoga School, Kano Art Space, dan Dinda Beauty Studio. Dari sini, Arista menegaskan pesan sederhana: merawat diri tidak berhenti di meja workshop.

Sesi door prize pun dimulai. Spin nama berputar di layar tablet Arista. Suasana hening sejenak. Dua nama muncul. Salah satunya, Tryas Ngudi Lestari. Tepuk tangan menggema. “Disuruh olahraga berarti,” ujar Tryas sambil tersenyum penuh syukur.

Baca Juga:  Peserta Kajian Ramadan Buka Bersama, Menikmati Hangatnya Sayur Asem di Joglo Unmuh Jember

Akhirnya, Arista berterima kasih kepada dua belas peserta yang hadir. “Terima kasih telah hadir untuk diri kalian sendiri,” ujarnya lembut.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya Painting Cake Class ini, khususnya pasanganku, Lendy Arifputra atas dukungan, ide, dan bantuan besarnya dalam proses persiapan hingga pelaksanaan acara ini,” imbuhnya.

Paint Your Cake Class bukan sekadar kelas menghias kue. Ini menjadi ruang jeda bagi perempuan-perempuan yang sehari-harinya sibuk mengurus pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab. Dari meja kayu panjang di lantai dua Calathea Cafe, dua belas kue lahir dengan lukisan karakter unik.

Bersama buket bunga, voucher, nasi dengan lauk pilihan—hidangan hangat dari Calathea Cafe yang mengenyangkan, dan tawa yang tersisa, setiap peserta pulang membawa lebih dari sekadar kue. Mereka membawa keberanian untuk mencoba. Mereka membawa rasa percaya diri. Dan, mereka membawa versi diri yang lebih lebih utuh. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni