Feature

Mahasiswa KKN Kenalkan Ternak Ayam Mandiri untuk Senjata Lawan Stunting

79
×

Mahasiswa KKN Kenalkan Ternak Ayam Mandiri untuk Senjata Lawan Stunting

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa KKN Stikes Muhammadiyah Bojonegoro mengenalkan sistem Tari Modus Leting di Desa Jatiblimbing. Mereka mengubah sampah menjadi sumber protein hewani dan sayuran segar guna menekan angka stunting.
Mahasiswa KKN Stikes Muhammadiyah Bojonegoro mengenalkan sistem Tari Modus Leting. (Tagar.co/Lucky Muhamad Annas)

Mahasiswa KKN Stikes Muhammadiyah Bojonegoro mengenalkan sistem Tari Modus Leting di Desa Jatiblimbing. Mereka mengubah sampah menjadi sumber protein hewani dan sayuran segar guna menekan angka stunting.

Tagar.co — Mentari belum terlalu tinggi di langit Desa Jatiblimbing, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Rabu, 4 Februari 2026. Namun, riuh diskusi di balai desa sudah memecah keheningan. Puluhan warga berkumpul, bukan untuk sekadar menyapa, melainkan menyimak sebuah inovasi segar dari sekelompok anak muda kreatif.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Stikes Muhammadiyah Bojonegoro hadir membawa napas baru dalam perang melawan stunting. Mereka tidak datang dengan ceramah gizi yang membosankan. Sebaliknya, menyuguhkan sebuah sistem bernama Tari Modus Leting. Nama unik ini merupakan akronim dari Ternak Ayam Mandiri dengan Modal Usaha Sampah dan Lele Terintegrasi Gizi.

Della Marcella Nurwijaya, Penanggung Jawab kegiatan, menjelaskan, konsep ini lahir dari keprihatinan mahasiswa terhadap pemenuhan gizi keluarga yang sering terkendala biaya. Padahal, pencegahan stunting sangat bergantung pada asupan protein hewani dan sayuran yang memadai. Melalui Tari Modus Leting, mahasiswa mengajak warga melihat sampah rumah tangga bukan lagi sebagai masalah, melainkan kunci menuju kemandirian pangan.

Baca Juga:  Siswa Spemdalas Jalani Iktikaf Ramadan dengan Semangat Ibadah

Menyulap Limbah Menjadi Modal Ternak

Strategi ini bermula dari pemilahan sampah di dapur warga. Mahasiswa mengedukasi masyarakat untuk memisahkan sampah anorganik seperti plastik, besi, dan kaleng. Alih-alih membuangnya ke sungai atau membakarnya, warga mengumpulkan limbah tersebut untuk mereka jual ke pengepul.

Uang hasil penjualan sampah itulah yang menjadi modal awal. Warga menggunakannya untuk membeli bibit ayam mandiri dan peralatan peternakan sederhana. Dengan metode ini, keluarga tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk memulai usaha ternak. Ayam yang tumbuh besar nantinya akan menjadi pasokan protein hewani utama, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang sedang dalam masa pertumbuhan emas.

Della Marcella Nurwijaya, menerangkan, keberadaan pangan bergizi di meja makan harus bermula dari rumah sendiri. “Tari Modus Leting mengajarkan masyarakat bagaimana memanfaatkan sampah untuk menghasilkan sumber protein dan sayuran secara mandiri. Ini sangat efektif untuk mendukung pemenuhan gizi keluarga dan mencegah stunting sejak dini,” tegas Della dengan penuh semangat.

Baca Juga: Cara Mahasiswa Stikes Maboro Cegah Perundungan di Jatiblimbing

Baca Juga:  Sambut Ramadan, Halaman Masjid Besar Ahmad Dahlan Banyuwangi Memutih

Ekosistem Maggot dan Sayur Akuaponik

Kecerdikan sistem ini tidak berhenti pada penjualan plastik. Sampah organik dan sisa makanan rumah tangga pun mendapat perlakuan istimewa. Warga mengolahnya menjadi media budidaya maggot atau larva BSF (Black Soldier Fly). Maggot yang kaya protein ini menjadi pakan alternatif bagi ayam dan lele.

Hasilnya luar biasa; biaya pakan yang biasanya mencekik leher peternak kini bisa ditekan seminim mungkin. Tidak ada yang terbuang sia-sia dalam rantai ini. Kotoran ayam dan sisa media maggot kembali diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman di pekarangan rumah.

Untuk melengkapi asupan vitamin, mahasiswa mengenalkan budidaya lele di lahan terbatas. Warga hanya membutuhkan galon bekas atau wadah sederhana sebagai kolam. Hebatnya, mereka menerapkan sistem akuaponik sederhana. Air kolam lele yang kaya nutrisi dialirkan untuk menyiram tanaman sayur seperti kangkung, pakcoy, dan selada.

Melalui langkah nyata ini, mahasiswa KKN Stikes Muhammadiyah Bojonegoro berharap warga Desa Jatiblimbing mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan pangan. Pengelolaan sampah kini bukan lagi soal kebersihan semata, melainkan bagian dari strategi besar untuk melahirkan generasi masa depan yang sehat dan bebas stunting. (#)

Baca Juga:  Kimbab di Tangan Mahasiswa, Upaya Bebas Stunting di Piring Remaja Putri

Jurnalis Lucky Muhamad Annas Penyunting Sayyidah Nuriyah