
Menjelang Ramadan 1447, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya mengingatkan pentingnya menyiapkan ibadah lahir dan batin—dari niat puasa hingga kejujuran dan kepedulian sosial—agar Ramadan benar-benar berbuah takwa.
Tagar.co — Pengajian Ahad Pagi yang digelar Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik pada Ahad (1/2/2026) menghadirkan penceramah Achmad Zuhdi DH, Guru Besar Sejarah Intelektual Islam Klasik Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Mengawali rangkaian kajian bulan ini, tema Tarhib Ramadan: Meraih Takwa dengan Menjalani Seluruh Ibadah sesuai Sunah disampaikan dengan gaya lugas dan reflektif.
Baca juga: Prof. Triyo Supriyatno Bedah Karakter Bani Israel di Pengajian Ahad Pagi PDM Gresik
Dalam paparannya, Prof. Zuhdi menyinggung kemungkinan perbedaan awal Ramadan 1447. Menurutnya, ketiadaan kalender Islam global yang disepakati menjadi salah satu sebab perbedaan penentuan 1 Ramadan.
Ia lalu menjelaskan bahwa Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebagaimana tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
KHGT, lanjutnya, dibangun di atas prinsip kesatuan matlak global—one day, one date globally—yang memandang bumi sebagai satu kesatuan dalam penentuan awal bulan Hijriah. Prinsip ini menekankan keseragaman hari dan tanggal di seluruh dunia tanpa pembagian zona penanggalan regional, meski tetap mengikuti garis tanggal internasional.
Enam Bekal Ramadan
Masuk pada substansi ibadah, Prof. Zuhdi yang juga Ketua Mejelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur itu mengurai bekal amalan Ramadan yang bersandar pada sunah Rasulullah Saw.
Pertama, niat puasa yang tulus karena Allah Swt. semata. Niat ini, katanya, dapat dilakukan setiap malam, saat sahur, atau sekali pada malam pertama Ramadan.
Kedua, menjaga puasa lahir dan batin. “Jangan sampai puasa hanya mengubah jadwal makan dan minum, tetapi tidak mengubah perilaku,” ujarnya, mengingatkan agar tidak israf (melampaui batas). Puasa batin, menurutnya, harus melahirkan kejujuran—baik saat sendiri di rumah maupun ketika berada jauh dari pengawasan orang lain.
Ketiga, menyegerakan berbuka puasa dengan air atau kurma, disertai doa berbuka yang dianjurkan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah karena memiliki landasan hadis riwayat Abu Dawud: “Dzahabazh-zhama’u wabtallatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru insya Allah.”
Keempat, menghidupkan malam Ramadan dengan salat tarawih dan qiyamul lail di masjid. “Jadikan qiyamul lail—tahajud, tarawih, dan salat malam—sebagai jalan meraih kemuliaan lahir dan batin,” tuturnya.
Ia menjelaskan, buah qiamulail adalah keteguhan menjauhi yang haram dan syubhat, serta kejujuran dalam setiap situasi. Qiamulail, tambahnya, dapat dikerjakan dengan pola 4+4+3 atau 2+2+2+2+2+1 sebagaimana hadis riwayat Bukhari dari Aisyah Ra.
Kelima, memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an—bukan hanya membaca, tetapi memahami makna dan mengamalkannya. Al-Qur’an, tegasnya, harus menjadi kompas moral untuk memilah yang benar dan salah, halal dan haram, pantas dan tidak pantas. “Bahaya ketika keburukan justru membuat kita merasa senang, meski hanya seketika,” katanya.
Keenam, menjadikan Ramadan sebagai bulan sedekah dan amal sosial. Prof. Zuhdi mengingatkan bahwa sedekah paling utama dilakukan pada bulan Ramadan, tanpa menafikan kebaikan sedekah di bulan-bulan lain. Ia juga menganjurkan memperbanyak iktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan, sebagaimana hadis muttafaqalaih dari Ibnu Umar Ra. bahwa Rasulullah Saw selalu beriktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan.
Pengajian yang berlangsung khidmat itu menegaskan kembali bahwa tarhib Ramadan bukan sekadar seremoni menyambut bulan suci, melainkan ikhtiar menyiapkan diri—lahir dan batin—agar puasa benar-benar berbuah takwa dalam kehidupan sehari-hari.
Jurnalis Mahfudz Efendi Penyunting Mohammad Nurfatoni












