Feature

Menapak Jejak Bahari di Gedung Heritage

85
×

Menapak Jejak Bahari di Gedung Heritage

Sebarkan artikel ini
Siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik menjelajahi sejarah bahari di Museum Pusat TNI AL. Mereka menyusuri jejak kejayaan Sriwijaya hingga transformasi modern alutsista yang memukau adrenalin.
Siswa menyapa prajurit TNI AL virtual yang menyapa mereka dengan “Jayamahe”. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik menjelajahi sejarah bahari di Museum Pusat TNI AL. Mereka menyusuri jejak kejayaan Sriwijaya hingga transformasi modern alutsista yang memukau adrenalin.

Tagar.co — Matahari tepat di atas kepala saat rombongan siswa kelas IV SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb Primary School) Gresik tiba di pelataran Museum Pusat TNI AL. Suasana riuh berubah menjadi tertib ketika Ichaliatus Fitri Ariani, atau yang akrab disapa Icha, menyambut mereka di depan ruang pamer utama Gedung Heritage. Senin, 26 Januari 2026, menjadi hari bersejarah bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat penjaga samudera Indonesia.

Icha memandu siswa yang berbaris rapi sembari menunjuk sebuah plakat peresmian yang tertanam kokoh. “Gedung ini resmi berdiri sejak 15 September 2023,” jelasnya kepada para siswa yang menyimak dengan saksama.

Sebelum melangkah lebih jauh, Icha memperkenalkan tradisi khas TNI AL yang kental dengan disiplin dan penghormatan. Seorang prajurit TNI AL berseragam putih tampil di layar raksasa. “Kalau beliau bilang ‘Jayamahe’, kalian jawab ‘Jalasveva’, ya!” tutur Icha.

Para siswa pun teriak sekuat tenaga sambil mengepalkan tangan. Mereka seolah terhipnotis oleh kemegahan arsitektur yang memadukan nilai sejarah dan sentuhan modernitas.

Baca Juga:  Alun-Alun Ngawi Tandai Sejarah Lahirnya IGABA Mandiri

Selama satu jam penuh, para siswa mengelilingi museum yang tampil estetis. Arsitekturnya membawa siswa naik dan turun mengelilingi bangunan yang berputar itu. Tanpa rasa lelah, mereka menyusuri lorong demi lorong yang menyajikan berbagai diorama dan artefak laut.

Begitu keluar dari gedung utama pada pukul 11.30, decak kagum meluncur dari bibir mereka. “Wah, ternyata tadi kita memutari gedung sebesar ini?” cetus Aca, sapaan akrab siswa kelas IV Dolphin, dengan mata berbinar.

Senada dengan temannya, Adeeva Tanisha Alonto kelas IV Dolphin menimpali, “Wah, tidak terasa sama sekali. Tidak capek karena tempatnya seru.”

Baca Juga: Menembus Gelap, Siswa Mugeb Jelajah Rasi Bintang di Museum Loka Jala Crana

Siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik menjelajahi sejarah bahari di Museum Pusat TNI AL. Mereka menyusuri jejak kejayaan Sriwijaya hingga transformasi modern alutsista yang memukau adrenalin.
Siswa menyaksikan Bendera Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.(Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Kejayaan Samudera dari Sriwijaya hingga Reformasi

Perjalanan berlanjut menuju ruang teater. Di ruangan yang sejuk ini, layar lebar mulai memutar narasi sejarah panjang TNI AL. Para siswa menyaksikan bagaimana pengaruh Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit meletakkan fondasi kejayaan maritim di Nusantara.

Film tersebut awalnya membawa mereka menjelajahi masa kolonialisme hingga pecahnya perang kemerdekaan, saat Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut bertransformasi menjadi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan mulai menyusun kekuatan di luar Pulau Jawa.

Baca Juga:  Bumi kian “Mendidih”, Din Syamsuddin Ajak Umat Islam Perlakukan Alam sebagai Subjek

Narasi film berlanjut ke masa konsolidasi dan konfrontasi. Para siswa belajar bagaimana TNI AL membangun kekuatan alutsista pasca-perang kemerdekaan untuk memadamkan berbagai pemberontakan bersenjata, termasuk keterlibatan dalam Operasi Trikora dan Dwikora. Memasuki masa pembangunan, film tersebut menonjolkan semangat integrasi ABRI yang aktif mendukung program nasional di wilayah terpencil dan pulau-pulau terdepan.

Hingga tiba pada masa reformasi, TNI AL terus mengemban tugas keamanan laut, misi sosial, hingga tugas internasional. Sejarah panjang ini membentuk visi masa depan yang tangguh: Jalasveva Jayamahe, Di Laut Kita Jaya.

Tepat pukul 11.45, pemutaran film usai, meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton cilik ini tentang betapa pentingnya menjaga kedaulatan laut Indonesia.

Baca Juga: Buah Kesabaran, Tangan Mungil Sukses Mengukir Mawar dari Tomat

Siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik menjelajahi sejarah bahari di Museum Pusat TNI AL. Mereka menyusuri jejak kejayaan Sriwijaya hingga transformasi modern alutsista yang memukau adrenalin.

Sensasi Helikopter dan Senjata di Lobi Baru

Kegembiraan tidak berhenti di ruang teater. Athiya Nur Shafeeya Putri, siswi kelas IV Ant, tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya.

“Seru sekali, tapi waktunya terasa cepat banget. Tadi saya boleh naik helikopter, itu bagian yang paling seru! Saat menonton film tadi, suaranya kencang sekali, bikin suasana makin hidup,” ungkap Athiya dengan semangat. Athiya berada di rombongan ketiga, terakhir, sehingga dapat bonus naik helikopter dan pesawat yang terparkir di sekitar Gedung Heritage.

Baca Juga:  The Jungle of Mumtaz: Nuansa Rimba di Jantung Sekolah sebagai Ruang Belajar

Pengalaman serupa dirasakan oleh Poppy Wicaksono. Meski cuaca di luar cukup terik, ia merasa nyaman begitu memasuki area museum. “Seru banget tapi panas di luar. Alhamdulillah, di dalam ruangan adem sekali. Suara di filmnya terdengar misterius, jadi bikin penasaran,” kata Poppy.

Fasilitas pendingin ruangan memang menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat para siswa betah berlama-lama belajar sejarah.

Nadine Alissya Elshanum menyadari perubahan signifikan pada museum ini dibandingkan kunjungan sebelumnya ketika masih duduk di kelas II.

“Sekarang jauh lebih bagus karena sudah ada AC-nya. Di lobi sekarang isinya koleksi senjata, kalau dulu hanya patung-patung yang memakai seragam dan topi. Jadi lebih keren sekarang,” pungkas Nadine. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni