
Tidak semua pendakian dimulai dengan kesiapan. Ada yang berangkat justru saat tubuh ingin istirahat, kaki ingin berhenti, dan akal sehat menyarankan pulang. Di titik itulah sembilan orang memilih mendaki Jabal Nur—bukan untuk menaklukkan gunung, melainkan menata ulang hati.
Catatan seri ke-10 Safari Spiritual Leader Inspiration Journey K3S SD/MI Muhammadiyah Kota Surabaya
Tagar.co – Tidak semua pendakian dimulai dengan kesiapan. Ada yang berangkat justru saat tubuh ingin istirahat, kaki ingin berhenti, dan akal sehat menyarankan pulang. Di titik itulah sembilan orang memilih mendaki Jabal Nur—bukan untuk menaklukkan gunung, melainkan menata ulang hati.
Di Makkah, siang itu, Rabu, 21 Januari 2026, sebagian peserta Safari Spiritual Leader Inspiration Journey memilih jeda. Berteduh di sekitar hotel, ke Masjidilharam, berbelanja oleh-oleh, atau sekadar memulihkan tenaga dan dompet.
Baca juga: Sehari di Taif: Edukasi, Kontemplasi, dan Dingin yang Menguatkan Iman
Namun sembilan peziarah ini justru mengambil arah sebaliknya: menantang panas, tanjakan, dan diri sendiri menuju Jabal Nur alias Gunung Cahaya, tempat sejarah besar Islam bermula.
Mereka adalah Amang Muazam, Munahar, Munhamir, M. Ain, Priyo Sasongko, M. Khoirul Anam, Ainun Najib, M. Arifin, dan Kocik Ishak.
Targetnya bukan main-main. Jabal Nur menjulang sekitar 640 meter di atas permukaan laut, berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Masjidil Haram. Siang hari. Panas. Tanpa pendingin ruangan.

Perjalanan dimulai dari Al Olayan Golden Hotel menggunakan taksi tua yang secara usia mungkin sudah mendekati masa pensiun, tetapi secara semangat masih layak ikut balap. Sopirnya, Ibrahim—warga Saudi berusia sekitar 70-an—terlihat jauh lebih segar dibanding sebagian penumpangnya.
Setelah tawar-menawar penuh senyum dan kalkulasi iman, disepakati tarif 50 riyal. Mobil pun melesat menembus terowongan, bukit, dan tikungan tajam Makkah. Sesekali mesin “ngepot” halus. Tawa langsung pecah. Rasanya seperti naik Mercy klasik edisi zikir.
Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di kaki Jabal Nur. Dari kejauhan, para pendaki terlihat seperti semut yang rajin beribadah—naik, turun, lalu naik lagi. Kami saling pandang, saling senyum, lalu kompak membaca basmalah. Bukan hanya minta kuat, tapi juga minta tidak menyerah di sepuluh menit pertama.
Langkah demi langkah dimulai. Jalurnya beragam: tangga curam, jalan setapak berpasir, tanjakan berkelok yang seolah diciptakan khusus untuk menguji keikhlasan. Matahari Makkah bekerja tanpa ampun. Keringat mengalir deras, napas mulai ngos-ngosan, kaki terasa berat seperti memikul laporan BOS satu kecamatan.
Agar lelah tak menang mutlak, obrolan santai jadi penawar. Priyo Sasongko—alumni Gunung Rinjani—berbagi tips mendaki: pilih jalur setapak, atur napas, jangan terlalu banyak minum, dan makan secukupnya. Teorinya terdengar profesional. Praktiknya? Tetap berhenti sambil pura-pura menikmati pemandangan.

Di tengah perjalanan, kami beberapa kali berhenti. Alasannya bukan hanya capek, tetapi juga kagum. Dari ketinggian, Makkah terlihat begitu megah. Kami berpapasan dengan peziarah dari berbagai negara: Turki, Bangladesh, India, Pakistan, Uzbekistan, hingga China. Seorang jemaah lansia asal Uzbekistan mendaki dengan tongkat. Jalannya pelan, tapi pasti. Bibirnya tak lepas dari zikir.
Di situ kami sadar: yang sering terasa berat bukan jalannya, tetapi hati kita.
Setelah hampir satu jam perjuangan fisik dan mental, kami tiba di puncak Jabal Nur. Lelah langsung terbayar. Angin sejuk menyambut. Pemandangan Makkah terhampar luas, dengan Zamzam Tower berdiri gagah di kejauhan. Namun euforia itu hanya bertahan sebentar. Sebuah pertanyaan sederhana muncul: “Lho… Gua Hira-nya mana?”
Ternyata perjuangan belum tamat. Gua Hira berada sekitar 20 meter di bawah puncak, melewati tangga sempit dan curam. Untung sudah ada pagar. Kalau tidak, niat ziarah bisa berubah menjadi latihan akrobat.
Masuk ke Gua Hira pun membutuhkan kesabaran ekstra. Antrean berdesakan karena celah batu menuju gua hanya cukup untuk satu orang. Ruang guanya kecil, hanya cukup satu sampai dua orang. Kami antre bergantian.
Di dalam gua itulah Rasulullah Saw. beristirahat dan bertafakur. Di sanalah wahyu pertama turun saat beliau berusia 40 tahun. Membayangkan Rasulullah menempuh jalur terjal tanpa tangga dan pagar—hanya batu dan kerikil—membuat lelah kami terasa sangat remeh. Hati mendadak hening.

Keluar dari gua justru lebih menantang. Harus mundur perlahan, bergantian, saling membantu. Risiko terpeleset selalu ada. Namun anehnya, tak ada keluhan. Yang terdengar justru istigfar dan senyum. Subhanallah, perjuangan kecil ini memberi pelajaran besar.
Kami turun dengan wajah cerah. Kaki pegal, napas belum sepenuhnya pulih, tetapi hati terasa lapang. Jabal Nur bukan sekadar destinasi. Ia saksi lahirnya cahaya peradaban. Kini kawasan ini dikenal sebagai Hira Cultural District, lengkap dengan taman, museum, pusat belanja, food court, hingga wahana unta.
Perjalanan pulang tak kalah seru. Kami dijemput taksi dengan sopir asal India yang menyetir sambil bernyanyi Kuch Kuch Hota Hai. Setir diputar zig-zag seirama lagu. Mobil bergoyang, penumpang ikut bergoyang—hampir jatuh ke depan. Untung tak sampai muntah. Gogang India ternyata bukan hanya pada orangnya, tetapi juga mobilnya.
Ujian kesabaran berlanjut. Kami diturunkan bukan di dekat hotel, melainkan di bawah tol. Kaki sudah jarem, pegal berlapis, tetapi masih harus berjalan sekitar 800 meter menuruni tangga dan lorong hotel. Lelahnya lengkap. Tawanya khusyuk. Pahalanya—insyaallah—full paket.
Namun bagi kami, nilai terbesar bukan pada fasilitas atau kemegahan kawasan. Melainkan pada perjalanan itu sendiri—saat kaki protes, paru-paru demo, tetapi hati justru menemukan ketenangan. Jabal Nur mengajarkan satu hal sederhana: untuk naik derajat, memang harus siap lelah. Dan cahaya, sering kali, hanya bisa ditemukan setelah kita bersungguh-sungguh mencarinya. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












