
Dalam Rakerpim Majelis Dikdasmen dan PNF di Surabaya, Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Irwan Akib memaparkan strategi memperkuat mutu, inovasi, dan daya saing sekolah Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Tagar.co — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Irwan Akib, M.Pd., menegaskan pentingnya penguatan sekolah unggul Muhammadiyah dalam Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah yang digelar di Oakwood Hotel Surabaya, Sabtu (10/1/2026).
Dalam forum strategis tersebut, ketua yang membidangi Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) itu mengawali paparannya dengan menyampaikan rasa syukur atas kesempatan bersilaturahmi dengan seluruh jajaran pimpinan Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah.
Baca juga: Pelatihan Menulis Deskripsi Berbasis Digital Perkuat Literasi Siswa SMA Muhammadiyah 1 Tegal
Hadir dalam kegiatan itu Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah Didik Suhardi, Ph.D., beserta para pimpinan dan anggota majelis dari berbagai daerah.
Irwan memaparkan delapan program prioritas pendidikan Muhammadiyah, salah satunya menekankan upaya melahirkan amal usaha pendidikan yang unggul, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Ia menyebut bahwa penguatan kurikulum Muhammadiyah menjadi kunci penting untuk menciptakan lembaga pendidikan yang bermutu dan berdaya saing.
“Sekolah Muhammadiyah harus memiliki kualitas yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Keunggulan sekolah tidak cukup hanya diukur dari akreditasi, tetapi juga dari daya tarik, kepercayaan publik, dan dampak nyata terhadap lingkungan sekitar,” tegasnya.
Irwan juga menekankan pentingnya pendekatan kepada para kepala sekolah Muhammadiyah agar menggunakan buku-buku dan perangkat pembelajaran yang telah disusun oleh Majelis Dikdasmen dan PNF.

Menurut dia, berbagai produk pendidikan Muhammadiyah harus terus disosialisasikan agar benar-benar dimanfaatkan secara optimal oleh sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Lebih lanjut, Irwan menggarisbawahi perlunya strategi serius untuk menghidupkan sekolah-sekolah Muhammadiyah yang mengalami penurunan performa, sekaligus menjaga konsistensi sekolah-sekolah yang sudah baik agar tetap unggul.
Ia berharap melalui program pendidikan khusus kepala sekolah (diksuspal) dan pendidikan khusus pimpinan (diksuspim), akan lahir perubahan positif yang merata di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
Dalam konteks pengembangan sekolah unggul, Irwan mencontohkan SMA Trensains Muhammadiyah Sragen sebagai model ideal sekolah Muhammadiyah yang berhasil mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai keislaman secara harmonis.
Ia juga meminta agar majelis dikdasmen dan PNF di tingkat wilayah, daerah, dan cabang aktif mendukung inovasi sekolah, termasuk memberikan perhatian khusus kepada sekolah-sekolah Muhammadiyah yang berada di daerah tertinggal.
Menurutnya, setiap sekolah Muhammadiyah harus memiliki kekhasan, identitas, dan strategi pengembangan yang jelas agar mampu bersaing secara sehat di tengah dinamika pendidikan nasional.

Pada bagian akhir paparannya, Irwan kembali mengingatkan jati diri sekolah Muhammadiyah sebagai sekolah perkaderan, sebagaimana cita-cita pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan.
“Jadilah insinyur, dokter, doktor, dan kembalilah ke Muhammadiyah,” pesannya.
Irwan juga menyoroti capaian prestasi sekolah-sekolah Muhammadiyah di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dinilainya cukup membanggakan.
Untuk menjaga keberlanjutan sekolah unggul tersebut, ia mendorong dilakukannya seleksi kepala sekolah yang memiliki jiwa kewirausahaan, serta evaluasi berkelanjutan terhadap implementasi program diksuspal dan diksuspim.
“Program-program yang telah disusun oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah harus dijalankan secara konsisten dan sungguh-sungguh agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan dunia pendidikan,” ujarnya. (#)
Jurnalis Hendra Apriyadi Penyunting Mohammad Nurfatoni












