Feature

Mengabdi Hingga Napas Terakhir, Senyum Terakhir Muharjo di Masjid Taqwa Spemdalas

65
×

Mengabdi Hingga Napas Terakhir, Senyum Terakhir Muharjo di Masjid Taqwa Spemdalas

Sebarkan artikel ini
Kepergian Muharjo, tokoh senior Muhammadiyah GKB Gresik, meninggalkan duka mendalam. Ia sosok berdedikasi tinggi yang aktif berorganisasi dan merintis dakwah sejak masa awal perjuangan persyarikatan.
Alm. Muharjo (kiri) bersama Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022-2027 H. Muhammad Jamaludin Ahmad, S.Psi., Psikolog, Yudo Broto, dan Murdiono. (Tagar.co/Istimewa)

Kepergian Muharjo, tokoh senior Muhammadiyah GKB Gresik, meninggalkan duka mendalam. Ia sosok berdedikasi tinggi yang aktif berorganisasi dan merintis dakwah sejak masa awal perjuangan persyarikatan.

Tagar.co — Ahad pagi, 19 April 2026, suasana Masjid Taqwa SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) tampak seperti biasa. Muharjo, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Bidang Tabligh, Masjid, dan Kader periode 2022-2027, hadir di tengah jemaah. Ia menyimak kajian dengan takzim, lalu menikmati hangatnya nasi rawon bersama rekan-rekan jemaah usai acara. Tak ada yang menyangka, momen hangat itu menjadi pertemuan terakhir.

Sekitar pukul 18.30 WIB, kabar duka itu tersiar. Sosok kelahiran 6 Juni 1962 tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada usia 63 tahun. Kepergiannya yang mendadak mengejutkan banyak pihak. Para pelayat segera memadati rumah duka di Jalan Lamongan Dalam No. 6 GKB Gresik. Mereka menunggu putra almarhum yang sedang dalam perjalanan dari Balikpapan, Kalimantan Timur.

Esok harinya, keluarga dan kerabat menyalatkan jenazah di Masjid Taqwa Spemdalas setelah salat Zuhur. Langkah terakhir Muharjo menuju peristirahatan abadi berakhir di Makam Islam GKB. Sebuah kebetulan yang mengharukan, makam tersebut baru saja diresmikan oleh Kepala Desa setempat, Astana Rukun Rahayu, pada Rabu, 15 April 2026, hanya empat hari sebelum kepulangannya.

Sekretaris PCM GKB, Ir. Sugeng, M.M., mengenang almarhum sebagai pionir. Muharjo memulai langkah dakwahnya jauh sebelum tahun 2000-an. Ia aktif sebagai jemaah di Masjid Al-Khoory Faqih Oesman Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan mengikuti pengajian dari rumah ke rumah. “Beliau masuk sebagai anggota Bagian Tabligh PCM GKB sejak masa-masa awal,” kenang Sugeng.

Kepergian Muharjo, tokoh senior Muhammadiyah GKB Gresik, meninggalkan duka mendalam. Ia sosok berdedikasi tinggi yang aktif berorganisasi dan merintis dakwah sejak masa awal perjuangan persyarikatan.
Alm. Muharjo (keempat dari kiri) bersama jajaran Pimpinan PCM GKB Gresik di SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik.(Tagar.co/Istimewa)d

Jejak Pengabdian sang Pejuang Muhammadiyah

Kata Sugeng, Muharjo tidak sekadar anggota biasa. Lulusan SMEA Muhammadiyah Lamongan (1981) itu menjadi mesin penggerak program anjangsana bulanan. Agenda tersebut tidak hanya berisi pengajian, tetapi juga rapat strategis Bagian Tabligh. Mereka mengevaluasi kemajuan jemaah, mengelola penjualan buku di teras masjid, hingga menyusun jadwal khatib Jumat dan hari raya. Dedikasi ini membawa Muharjo terpilih sebagai anggota PCM periode 2005-2010 dengan amanah sebagai wakil sekretaris.

Karier organisasinya terus menanjak karena kepercayaan umat. Pada tahun 2011, ia kembali terpilih sebagai anggota PCM dan mengemban tugas sebagai wakil ketua bidang umum sekaligus pembina ranting. Namun, ada satu tugas yang paling melekat pada dirinya: Koordinator Kifayah Muhammadiyah Aisyiyah (Kifama). Sejak tim ini terbentuk pada 2013, Muharjo memimpin perawatan jenazah laki-laki.

“Beliau menjalankan tugas itu dengan tulus sampai akhirnya beliau sendiri yang dimandikan sebagai jenazah,” ungkap Sugeng dengan nada getir.

Lulusan SMP Muhammadiyah Lamongan (1977) itu juga pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) GKB 3 periode 2015-2022. Baginya, Muhammadiyah adalah identitas. Karena itulah Sugeng menyebutnya sebagai kader yang sangat open minded. “Beliau bangga memakai atribut Muhammadiyah dan tidak pernah menolak tugas apa pun,” tambahnya.

Kecintaan Muharjo pada persyarikatan juga ia tanamkan pada keluarganya. Kedua putranya merupakan alumnus sekolah Muhammadiyah GKB. Sepekan sebelum wafat, Muharjo tampak sangat bahagia saat menghadiri Milad Ke-31 Mugeb  Primary School. Ia duduk dengan bangga, menyaksikan institusi pendidikan yang turut ia besarkan kini telah berkembang pesat.

Kepergian Muharjo, tokoh senior Muhammadiyah GKB Gresik, meninggalkan duka mendalam. Ia sosok berdedikasi tinggi yang aktif berorganisasi dan merintis dakwah sejak masa awal perjuangan persyarikatan.
Alm. Muharjo (ketiga dari kanan) bersama utusan PCM GKB Gresik menghadiri agenda LPCRPM di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.(Tagar.co/Istimewa)

Semangat Muda dalam Raga Senior

Bagi para junior, Muharjo adalah sosok “Bapak” yang mengayomi. Wakil Ketua PCM GKB Bidang Majelis Pustaka, Yudo Broto, S.E., merasakan betul bimbingan almarhum. Menurut Yudo, Muharjo memiliki pergaulan yang sangat luas di Gresik karena hobinya “ngopi” bersama berbagai lapisan masyarakat. Kebiasaan ini ia manfaatkan untuk mempererat silaturahmi dan membumikan nilai-nilai organisasi.

“Walaupun sudah sepuh, semangatnya seperti anak muda. Beliau selalu hadir di setiap kegiatan jika ada kesempatan,” kata Yudo.

Ia kemudian menceritakan bagaimana aktifnya Muharjo saat mengikuti LPCRPM Award di Samarinda dari awal hingga akhir acara. Bahkan, almarhum masih rajin berkeliling dari ranting ke ranting untuk memberikan semangat kepada para pengurus di tingkat bawah.

Sebelum wafat, Muharjo menginisiasi rencana rihlah (wisata) warga Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) 3 GKB ke Pacitan. Tujuannya sederhana namun mulia: memupuk kekompakan dan kebersamaan antarwarga. Namun, takdir berkata lain. Dua pekan sebelum hari keberangkatan, Tuhan memanggilnya pulang. Meski sang inisiator telah tiada, rekan-rekannya bertekad merealisasikan hari ini (26/4/2026) perjalanan tersebut sebagai penghormatan terakhir.

Kini, “kursi” di Masjid Taqwa itu kosong, namun warisan semangat Muharjo tetap hidup. Ia membuktikan, pengabdian tidak mengenal batas usia. Dari mengurus jadwal khatib hingga memandikan jenazah, Muharjo telah menyelesaikan “tugas piket” dunianya dengan paripurna. Selamat jalan, sang Mujahid. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni