Feature

Segitiga Sukses KH Ahmad Dahlan Memajukan Muhammadiyah

87
×

Segitiga Sukses KH Ahmad Dahlan Memajukan Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Segitiga sukses
Dosen Umsida Dr Eko Hardi Ansyah, kanan, di acara Darul Arqam guru PDM Kota Pasuruan. (Tagar.co/Fatoni)

Tagar.co – Segitiga sukses KH Ahmad Dahlan (The Success Triangle of Ahmad Dahlan) dibahas dalam Darul Arqam guru dan karyawan PDM Kota Pasuruan, Rabu (11/3/2026).

Acara ini diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen PDM Kota Pasuruan berlangsung di Pusat Dakwah Muhammadiyah. Mengangkat tema Ramadan dan Peningkatan Kinerja Guru dan Tenaga Kependidikan Muhammadiyah Kota Pasuruan.

Darul Arqam menghadirkan pembicara Sekretaris Majelis Dikdasmen PWM Jawa Timur, Dr. Eko Hardi Ansyah.

Dalam paparannya, dia mengungkapkan, jumlah sekolah dan madrasah Muhammadiyah di Jawa Timur pada tahun 2023 ada 1.034 sekolah. Di antara jumlah itu 63,78% masuk kategori sekolah kecil dan sangat kecil (Dapodikmu Jawa Timur 2023).

Menurut dia, membuat sekolah kecil menjadi besar memerlukan kerja keras pengelola pendidikan mulai dari kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan (GTK), termasuk Majelis Dikdasmen.

”Untuk membuat sekolah menjadi lebih baik lagi memberikan kiat-kiat dengan mengambil pelajaran dari keberhasilan KH Ahmad Dahlan dalam mengembangkan Muhammadiyah,” kata dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ini.

Kiat dia sebut the Success Triangle of Ahmad Dahlan atau Segitiga Sukses KH Ahmad Dahlan. Meliputi tauhid, ilmu, dan taawun. Dengan kiat ini membuat jumlah amal usaha, jaringan global, dan anggota Muhammadiyah terus bertambah.

Baca Juga:  Sekolah Muhammadiyah, Kelas Menengah, dan Krisis Keberpihakan

Ilmu

Segitiga sukses pertama adalah ilmu. Mengawali penjelasan tentang ilmu, Eko Hardi Ansyah mengutip ayat Al-Qur’an “…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (Mujadilah: 11)

Bukti kecintaannya terhadap ilmu, KH Ahmad Dahlan belajar ke Mekkah dua kali yaitu ketika berusia 15 tahun selama lima tahun dan tahun 1903 selama dua tahun. Bagi KH Ahmad Dahlan rasa keilmuan itu adalah penyemangatnya.

Lembaga pendidikan, sambung dia, agar maju maka GTK (guru dan tenaga kependidikan) harus cinta ilmu.

Indikatornya, menurut dia, antara lain  berapa banyak GTK yang bergelar magister dan doktor, ada berapa kali kegiatan di sekolah/madrasah yang berkaitan dengan eksplorasi ilmu, serta berapa jam setahun lembaga mengadakan inservice training.

Di Singapura yang merupakan salah satu negara yang pendidikan maju,  cerita dia, guru yang tidak mengikuti pelatihan selama 100 jam/tahun, merasa sebagai guru ketinggalan atau guru jadul.

”Orang-orang Muhammadiyah itu adalah pencinta ilmu, sulit dipisahkan antara Muhammadiyah dengan ilmu, ibaratnya ilmu adalah darah daging Muhammadiyah dan guru adalah tubuhnya,” tuturnya Pak Eko, sapaannya.

Baca Juga:  Kapitalisme dan Etos Al-Ma’un

Apabila ada sekolah/madrasah yang belum maju berarti ada nilai-nilai Muhammadiyah yang belum meresap pada lembaga tersebut

Taawun

Jiwa taawun dari KH Ahmad Dahlan yaitu menginginkan agar masyarakat tidak terpuruk dalam kebodohan dan kemiskinan.

Untuk itu pada tanggal 1 Desember 1911 KH Ahmad Dahlan mendirikan amal usaha berupa lembaga pendidikan MIDI (Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah) di Kauman Yogyakarta.

Dalam mengelola lembaga ini, kata Pak Eko, KH Ahmad Dahlan mengorbankan harta pribadinya, serta melakukan pelayanan ke masyarakat tanpa pandang bulu.

Dalam praktik sosial, taawun itu jiwa dan gerak Muhammadiyah sekarang. Konsep taawun diwujudkan dalam bentuk pembangunan dan pengembangan amal usaha Muhammadiyah berupa rumah sakit, lembaga pendidikan, panti asuhan, Lazismu dan MDMC (Muhammadiyah Disarter Management Center).

Ketika terjadi pandemi Covid-19, sebagai wujud taawun, Muhammadiyah ikut berperan aktif dengan mendirikan tim khusus yang dikenal dengan MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Center).

Di Kota Pasuruan, penerapan taawun Dikdasmen Muhammadiyah, bersama PDM, Lazismu dan lembaga pendidikan antara lain berupa pemberian jaminan sosial kepada GTK pensiun, GTK dan keluarga inti yang sakit atau meninggal dunia.

Baca Juga:  Sekolah Muhammadiyah Harus Menjadi Pilihan Utama Masyarakat

Selain itu ada program Peduli Guru, yang diberikan ke GTK Muhammadiyah setiap bulan berupa pemberian sembako atau voucher belanja.

Pada bulan Ramadan seluruh GTK menerima bingkisan THR dan dana transpor, serta sewaktu-waktu ada pembagian seragam batik Dikdasmen.

Tauhid

Berkaitan dengan tauhid, sikap KH Ahmad Dahlan dalam perjuangan pergerakan yang penuh tantangan, menurut Pak Eko diperlihatkan dengan tetap menghadiri pengajian walaupun sedang sakit dan diminta untuk istirahat.

”Meskipun ada ancaman yang membahayakan keselamatan dirinya, KH Ahmad Dahlan tetap berangkat mengisi pengajian serta istikamah bergerak saat ada masyarakat yang mencemoohnya,” katanya.

Mengambil pelajaran dari sikap dan perjuangan KH Ahmad Dahlan tersebut, diharapkan GTK di lembaga pendidikan Muhammadiyah menerapkan dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Guru tetap disiplin dalam melaksanakan tugasnya, tidak mudah untuk absen di kelas, senantiasa meningkatkan kompetensinya, senang mencari ilmu walaupun lembaganya belum banyak muridnya.

”Berjuang dengan sekuat tenaga agar lembaganya mendapatkan banyak murid di tengah kompetisi yang ketat dengan lembaga lain, dengan harapan lembaganya bisa berkembang,” kata Pak Eko soal segitiga sukses Ahmad Dahlan.

Jurnalis M. Fatoni Penyunting Sugeng Purwanto