
Di antara gemerlap langit Jeddah dan heningnya malam gurun menuju Madinah, saya tidak sekadar menempuh jarak ribuan kilometer, tetapi meniti perjalanan jiwa.
Oleh Masroin Assafani
Tagar.co – Pesawat yang saya tumpangi dari Bandara Juanda Surabaya akhirnya mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi. Dari balik jendela, langit seakan masih menyimpan kemilau cahaya senja yang perlahan beralih menuju malam. Hati saya pun ikut bergetar—sebuah perjalanan spiritual baru saja dimulai.
Dari Jeddah, saya melanjutkan perjalanan darat menuju Madinah Al-Munawarah. Bus melaju menembus keheningan malam gurun. Di sepanjang perjalanan, mata saya menangkap pemandangan bangunan-bangunan yang atapnya dihiasi lafaz agung:
لا إله إلا الله محمد رسول الله
“Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah.”
Lafal itu tidak hanya tertulis di dinding bangunan, tetapi seakan terukir di udara, menyelimuti hati dan pikiran. Dalam desiran batin, saya merasakan kebesaran sebuah tata kelola kehidupan yang sepenuhnya berporos pada tauhid. Di sini, iman bukan sekadar keyakinan pribadi—ia menjadi fondasi peradaban.
Baca juga: Empat Wajah Anak dalam Keluarga
Perjalanan ini terus mengingatkan saya akan satu kebenaran: betapa pentingnya manusia selalu kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Inilah makna sejati dari negeri yang diberkahi sebagai “baldan āminan”—negeri yang aman karena tauhid menjiwai seluruh sendi kehidupan.
Di dalam hati, saya teringat doa Nabi Ibrahim alaihissalam ketika beliau memohon kepada Allah: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan limpahkanlah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (Al-Baqarah: 126)
Tauhid yang dibangun Nabi Ibrahim bukan sekadar ajaran teologis; ia melahirkan keamanan, keberkahan, dan ketenteraman sosial yang nyata. Dan saya menyaksikan pantulannya di tanah Haramain: Makkah dan Madinah—negeri yang aman, makmur, dan dilimpahi rezeki.
Malam dan siang di negeri ini seakan diselimuti cahaya kedamaian. Gemerlap kota tidak melahirkan kegaduhan, melainkan ketenangan. Senyum penduduknya terasa sebagai bagian dari rahmat Sang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Bus melaju dari Jeddah menuju Madinah sejak pukul 20.30 hingga 01.30 waktu setempat. Di kanan kiri, hamparan gelap gurun terasa teduh, seolah malam pun ikut berzikir dalam heningnya. Langit bertabur bintang, menjadi saksi bisu atas perjalanan jiwa yang sedang mencari keteduhan hakiki.
Setibanya di Hotel Miraj Assalam, Rabu 31 Desember 2025, saya segera berbenah diri. Tanpa banyak jeda, langkah saya menuju Masjid Nabawi. Di sanalah saya menunaikan qiyamulail, melanjutkan dengan zikir, menunggu Subuh dalam doa yang panjang—untuk keluarga, sahabat, dan seluruh umat.
Masjid Nabawi menyambut dengan kemilau cahaya yang tak sekadar indah di mata, tetapi menenangkan hingga ke relung jiwa. Di sana, hati terasa diliputi kehadiran Ilahi. Setiap sujud menjadi perjumpaan cinta. Setiap doa terasa begitu dekat dengan langit.
Di Madinah, saya belajar bahwa perjalanan sejati bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, melainkan tentang hati yang akhirnya menemukan rumahnya kembali:
di hadapan Allah. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












