
Tahun baru selalu dirayakan pada malam memasuki tanggal 1 Januari. Padahal sebelumnya pernah dirayakan pada bulan Maret saat menyambut musim semi.
Tagar.co – Tahukah Anda mulai kapan orang merayakan tahun baru pada 1 Januari?
Ternyata di zaman awal penyusunan kalender Masehi tidak ada bulan Januari. Kalender yang umum dipakai di dunia ini merupakan penanggalan Romawi.
Kalender Romawi ditetapkan di masa Raja Romulus, pendiri Roma. Perhitungan astronomi zaman itu, satu tahun terdiri sepuluh bulan. Satu tahun sebanyak 305 hari. Belum ada angka tahun.
Dimulai bulan Martius (Maret), Aprilis (April), Maius (Mei), Junius (Juni), Quitilis, Sextilis, September, October, November, December.
Penamaan bulan Martius, Aprilis, Maius, Junius, merujuk nama dewi-dewi mitologi Romawi. Sedangkan nama Quitilis, Sextilis, September, October, November, December merupakan urutan angka dalam bahasa Latin. Artinya bulan kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan dan kesepuluh.
Jadi tahun baru diperingati pada 1 Maret yang jatuh pada musim semi. Tradisi tahun baru di Maret ini mewarisi zaman Mesopotamia yang menganggap musim semi sebagai simbol kehidupan baru.
Di zaman Romulus setiap tahun baru semua pejabat menghadap kaisar untuk membuat laporan pekerjaan dan menyusun kerja baru serta bersumpah menjalankannya.
Kalender Julius
Pada tahun 46 SM, Julius Caesar, Kaisar Romawi, mengoreksi sistem kalender atas saran Sosigenes, ahli astronomi asal Alexandria, Mesir.
Sosigenes mengusulkan sistem kalender baru disusun berdasarkan revolusi bumi terhadap matahari, seperti perhitungan bangsa Mesir Kuno.
Dengan perhitungan ini satu tahun terdiri atas 365,25 hari. Maka setahun terdapat 12 bulan. Bukan 10 bulan. Tiap bulan terdiri 30 dan 31 hari.
Saran ini diterima Julius Caesar. Lalu menambahkan dua bulan di awal. Yaitu bulan Ianuarius dan Februarius.
Juga menetapkan setiap empat tahun sekali terjadi tahun kabisat terdiri 366 hari. Tahun kabisat ini untuk penggenapan sisa 0,25 hari empat tahun sebelumnya. Akumulasi sisa satu hari diletakkan dalam bulan Februarius yang 28 hari menjadi 29 hari.
Penambahan dua bulan di awal tahun ini membuat nama bulan September, Oktober, November dan Desember janggal. Tak sesuai lagi dengan artinya.
September artinya tujuh menjadi bulan sembilan. Oktober artinya delapan menjadi bulan sepuluh. November artinya sembilan jadi bulan sebelas. Desember artinya sepuluh jadi bulan dua belas.
Bulan Ianuarius mengambil nama Dewa Ianus. Dewa permulaan dan penjaga gerbang dalam mitologi Romawi. Dipatungkan berbentuk dewa berwajah dua menghadap depan dan belakang. Menggambarkan memandang masa lalu dan masa depan. Sedangkan Februarius merujuk nama Dewi Februs. Dewi kesuburan.
Bangsa Romawi lalu menggelar perayaan pada malam 31 Desember untuk menyambut kedatangan Dewa Ianus tanggal 1 Ianuarius. Sejak itulah perayaan tahun baru 1 Januari diwariskan hingga kini.
Perubahan penanggalan Romawi 12 bulan ini kemudian terkenal dengan sebutan Kalender Julius. Orang Inggris menyebutnya Kalender Julian.
Pengubahan Nama Bulan
Kaisar Agustus yang memerintah tahun 27-14 SM mengubah nama bulan Quitilis menjadi Julius (Juli) untuk menghormati pamannya Julius Caesar. Bulan Sextilis menjadi Agustus untuk menghormati dirinya sendiri. Nama-nama bulan ini bertahan hingga kini.
Kalender Julian berlaku terus hingga ada perubahan lagi 1600 tahun kemudian. Tahun 1582 Masehi, Paus Gregorius XIII, mengoreksi.
Penyempurnaan Kalender Julian dilakukan karena Hari Paskah, bergeser. Peringatan kebangkitan Yesus itu tidak jatuh di musim semi 21 Maret.
Pergeseran terjadi karena kelebihan sekian menit perputaran bumi ke matahari tiap harinya yang terakumulasi dalam sekian tahun menjadikan musim semi selalu maju.
Contoh pada tahun 1582 itu musim semi jatuh pada 11 Maret. Padahal sesuai penetapan perhitungan hari di Konsili Nicea tahun 325 M, musim semi atau vernal ekuinox pada 21 Maret. Selama tahun 325-1582 M atau 1257 tahun, musim semi telah bergeser maju 10 hari.
Karena itu Paus Gregorius mengambil keputusan melompati 10 hari setelah 4 Oktober 1582 supaya perayaan Paskah tahun berikutnya bisa berlangsung pada waktunya.
Paus menetapkan hari Jumat, 5 Oktober 1582 berubah menjadi Jumat, 15 Oktober 1582. Jadi melompat sepuluh hari. Tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 hilang.
Bisa dibayangkan hilangnya 10 hari itu bisa membuat kacaunya perhitungan bisnis, perjanjian, atau perayaaan yang sudah ditetapkan pada tanggal yang hilang itu.
Kalender koreksian ini kemudian populer disebut Kalender Gregorian. Perubahan kalender ini mendasarkan perhitungan ahli astronomi Aloysius Lilius dari Ciro, Italia, yang kemudian disempurnakan oleh ahli matematika dan astronom Christopher Clavius asal Jerman. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












