
Manusia lahir tanpa mengetahui apa-apa, namun dibekali tiga onderdil Ilahi yang menentukan arah hidupnya. Bagaimana pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bekerja sebagai suku cadang batin yang membentuk martabat manusia?
Oleh Masroin Assafani
Tagar.co – Dalam dunia mesin, kita mengenal istilah onderdil—serapan dari bahasa Belanda onderdeel—yang berarti suku cadang. Ia adalah komponen yang disiapkan untuk mengganti bagian yang rusak agar kendaraan dapat kembali bekerja sebagaimana mestinya. Mulai dari busi, kampas rem, filter udara, hingga piston; semua onderdil hadir untuk menjaga performa dan kelangsungan sebuah mesin.
Suku cadang itu memiliki beberapa karakter penting:
-
Sinonim: suku cadang, spare part.
-
Fungsi: untuk merakit, memperbaiki, atau mengganti yang rusak.
-
Jenis: mulai komponen kecil hingga besar, orisinal maupun nonorisinal.
-
Peran: vital bagi keberlanjutan fungsi mesin.
Lalu, jika mesin memiliki onderdil, apakah jiwa manusia tidak memiliki suku cadangnya sendiri?
Jiwa: Ruang Sunyi yang Menggerakkan Segalanya
Jiwa adalah nyawa, roh, dan seluruh kehidupan batin yang memuat kesadaran, kepribadian, hasrat, emosi, serta kemauan. Dalam banyak tradisi filsafat dan agama, jiwa adalah inti immaterial yang mengatur arah hidup manusia, bahkan ketika tubuh tidak lagi berdaya.
Baca juga: Lima Jalan Menuju Kejernihan Jiwa
Ia menjadi pusat kendali:
-
tempat lahirnya dorongan dan keinginan,
-
ruang bagi pikiran dan keputusan,
-
wadah bagi rasa, duka, cinta, dan keberanian.
Dalam bahasa kiasan, jiwa dapat berarti orang yang menjadi “roh” pergerakan. Dalam konteks kesehatan modern, UU No. 18 Tahun 2014 menggambarkan kesehatan jiwa sebagai kemampuan seseorang berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial, serta mampu menghadapi tekanan hidup dengan produktif.
Dengan kata lain, jiwa pun memerlukan perawatan—bahkan mungkin memerlukan ‘onderdil’ ketika bagian-bagiannya melemah.
Bekal Ilahi: Tiga Onderdil Kehidupan
Allah Swt. mengingatkan manusia tentang keadaan awal keberadaannya:
وَاَللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.” (An-Nahl 78)
Ayat ini menunjukkan tiga bekal dasar yang Allah pasangkan dalam “mesin kehidupan” manusia:
-
Pendengaran – kompas pertama yang membuka manusia pada suara, pesan, dan tanda-tanda kehidupan.
-
Penglihatan – jendela besar untuk membaca semesta yang digelar bagi manusia.
-
Hati nurani – onderdil ilahi yang paling halus sekaligus paling menentukan; jika ia baik, manusia menjadi ahsani taqwīm, dan jika ia rusak, ia terjatuh menjadi asfala sāfilīn.
Tiga indera batin—pendengaran, penglihatan, dan hati—adalah suku cadang dasar yang menjaga manusia agar tetap berjalan pada jalur keinsafan.
Naik atau Turun: Kualitas Jiwa Menentukan
Allah Swt. berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(At-Tin: 4)
Lalu peringatan berikutnya:
ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَ
“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” (At-Tin: 5)
Kedua ayat ini mengajarkan bahwa manusia memiliki dua kemungkinan arah: naik atau turun. Semua bergantung pada bagaimana ia merawat setiap onderdil jiwanya—pendengaran yang menjaga dari bisikan buruk, penglihatan yang tidak disesatkan oleh pandangan menipu, serta hati nurani yang tetap jernih.
Harapan setiap insan beriman tentu ingin masuk dalam tiga golongan:
-
Orang-orang yang beriman.
-
Orang-orang yang mengerjakan kebajikan.
-
Orang-orang yang menerima pahala tanpa putus.
Sebagaimana Allah Swt. berfirman:
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya.” (At-Tin: 6)
Seperti mesin yang membutuhkan suku cadang untuk kembali bekerja sempurna, manusia pun memerlukan perawatan jiwa agar tetap berjalan menuju kebaikan.
Pendengaran, penglihatan, dan hati nurani adalah onderdil bawaan dari Tuhan. Jika ketiganya dirawat dengan syukur dan amal saleh, manusia akan kembali pada derajat terbaiknya. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












