Rileks

Mi Kopyok Semarang: Dari Pikulan Kampung ke Ingatan Kota

89
×

Mi Kopyok Semarang: Dari Pikulan Kampung ke Ingatan Kota

Sebarkan artikel ini
Mi kopyok Semarang

Bukan sekadar kuliner, mi kopyok adalah jejak budaya, kenangan sore hari, dan saksi perubahan wajah kampung-kampung lama Semarang.

Tagar.co – Perjalanan ke Semarang, Jawa Tengah, hampir selalu menyediakan ruang bagi rasa—bukan semata rasa di lidah, melainkan rasa yang menetap dalam ingatan. Di antara jejak kuliner kota ini, mi kopyok menempati posisi istimewa. Ia bukan hidangan yang memikat dengan kemewahan, melainkan sajian bersahaja yang tumbuh dari perjumpaan budaya dan keseharian warga kota.

Mi kopyok—atau oleh sebagian warga disebut mi lontong—lahir dari persilangan dua tradisi. Dari Tiongkok, ia mewarisi mi; dari Jawa, ia merangkul lontong. Perpaduan itu menghasilkan hidangan sederhana: tanpa lemak berlebih, tanpa bumbu yang saling berebut peran, tetapi justru kaya rasa dan cerita. Ia seperti Semarang itu sendiri—tenang, bersahabat, dan menyimpan lapisan sejarah.

Baca juga: Menikmati Kuliner Jadul, Menjelajah Rasa di Lorong Waktu Giri Biyen

Pada dekade 1970 hingga 1980-an, mi kopyok bukan sekadar menu makan sore. Ia adalah peristiwa harian. Penjualnya menyusuri kampung-kampung dengan pikulan bambu di pundak. Di satu sisi tergantung bahan-bahan: mi kuning, lontong, tauge, irisan bawang, dan kerupuk gendar.

Baca Juga:  Surah Al-Waqiah Ungkap Rahasia Rezeki

Di sisi lain, sebuah dandang kecil mengepul di atas anglo berisi arang. Asap tipisnya menguar perlahan, menjadi penanda yang kerap hadir lebih dahulu sebelum langkah kaki si pemikul terdengar.

Di kampung-kampung lama Semarang, anak-anak menunggu dengan kesabaran khas masa kecil. Begitu pula di Pindrikan Kidul. Setiap sore ada harap yang sama: penjual mi kopyok berhenti sejenak di depan rumah.

Bangku kayu—yang akrab disebut buk atau bok tape—menjadi tempat singgah. Di sanalah percakapan ringan terjadi, sapa sederhana terucap, dan mangkuk-mangkuk mulai diracik dengan gerakan yang sudah hafal di luar kepala.

Kuah bawang putihnya ringan, dituang secukupnya. Sambal menyusul sesuai permintaan. Tidak ada proses yang ingin dipamerkan. Justru dari kesederhanaan itulah kehangatan tercipta. Mi kopyok dimakan sambil berdiri, duduk seadanya, atau dibawa pulang dalam bungkus kertas. Rasanya konsisten, harganya bersahabat, dan kehadirannya selalu dinanti.

Memasuki akhir 1980-an hingga awal 1990-an, perubahan pelan-pelan terasa. Pikulan bambu mulai digantikan gerobak dorong. Pertimbangannya praktis: beban lebih ringan, jarak tempuh lebih jauh, dan perlengkapan bisa dibawa lebih lengkap.

Baca Juga:  Kerugian Terbesar Ramadan: Tidak Peduli pada Lailatulqadar

Namun, bersama perubahan itu, suasana pun bergeser. Bunyi langkah pemikul berganti derit roda. Anglo arang digantikan kompor. Mi kopyok tetap sama, tetapi cara ia hadir di ruang sosial menyesuaikan diri dengan ritme kota.

Pedagang mi kopyok

Hari ini, mi kopyok masih bisa ditemukan. Beberapa warung menetap menjadikannya menu andalan, bahkan masuk daftar rujukan wisata kuliner. Namun penjual keliling—yang dahulu menyusuri gang dari sore ke sore—kian jarang terlihat. Generasi baru mengenalnya lewat ulasan digital atau daftar kuliner legendaris, bukan lagi dari pengalaman menunggu di depan rumah.

Penyusutannya bukan tanpa sebab. Pola konsumsi berubah, persaingan makanan cepat saji kian ketat, biaya hidup meningkat, dan regenerasi penjual tidak selalu berjalan mulus. Profesi memikul dagangan atau mendorong gerobak tak lagi dipandang menjanjikan. Kota pun berubah: kampung makin padat, ritme hidup makin cepat, dan ruang bagi kuliner keliling semakin menyempit.

Meski demikian, mi kopyok tetap menyimpan nilai yang sukar digantikan. Ia adalah catatan sejarah kuliner, penanda percampuran budaya, sekaligus pengikat memori kolektif warga Semarang. Setiap mangkuknya membawa kembali ingatan tentang sore hari, tentang asap arang yang tipis, tentang suara sendok beradu dengan mangkuk, dan tentang rasa yang tak pernah berusaha menjadi mewah.

Baca Juga:  Utang Barang Menjadi Musuh Dagang

Ke mana perginya penjual mi kopyok keliling itu? Jawabannya mungkin tak tunggal. Ada yang berhenti karena usia, ada yang beralih profesi, ada pula yang bertahan dalam bentuk berbeda. Yang pasti, mi kopyok telah menempuh perjalanan panjang—dari pikulan bambu ke etalase warung, dari denyut kampung ke ruang ingatan.

Dan selama masih ada orang yang mengingat rasanya, cara penyajiannya, serta suasana yang menyertainya, mi kopyok belum benar-benar pergi. Ia hanya menunggu—di sudut kota, atau di sudut kenangan—untuk kembali dikenang. (#)

Jurnalsi Dwi Taufan Hidayat Penyunting Mohammad Nurfatoni