
Wajah sekolah bukan hanya dilihat dari gedung, kegiatan belajar mengajar, prestasi, kompetensi guru. Ada sosok yang harus tampil mengesankan di hadapan wali murid untuk layanan pendidikan zaman sekarang yaitu wali kelas.
Oleh Mahyuddin Syaifulloh, Praktisi Pendidikan
Tagar.co – Di sela kesibukan mengoreksi tugas siswa, ponsel wali kelas bergetar. Sebuah pesan masuk dari orang tua murid. “Bu, anak saya lagi apa ya? Kalau sempat, boleh minta foto kegiatannya?”
Wali kelas itu tersenyum kecil. Ia tahu kecemasan semacam ini semakin sering muncul seiring meningkatnya keterhubungan lewat gawai.
Ia mengetik balasan dengan tenang. “Baik, Bu. Tadi ia sedang praktikum bersama teman-temannya. Nanti saya kirimkan fotonya, setelah kegiatan selesai, ya.”
Sejenak ia menengok ke arah kelas, memastikan keadaan kondusif. Lalu mengabadikan momen sederhana itu. Seorang anak yang serius praktik prakarya, sementara tawa kecil terdengar dari bangku sebelah.
Namun di balik kehangatan komunikasi tersebut, teknologi menghadirkan dinamika baru dalam hubungan antara wali kelas dan orang tua.
Permintaan spontan melalui pesan singkat membuat jarak terasa dekat, tetapi juga menambah beban respons instan yang tidak selalu mudah dipenuhi di tengah rutinitas kelas.
Wali kelas kini bukan hanya pendidik, tetapi juga penyampai kabar real-time yang diharapkan selalu tersedia.
Perkembangan teknologi mempererat kepercayaan sekaligus menciptakan ekspektasi baru dalam dunia pendidikan zaman sekarang. Bahwa setiap detik kehidupan anak di sekolah harus bisa diakses.
Wali kelas bisa menjadi wajah sekolah di depan orang tua. Jika ingin wajah sekolah terlihat indah, salah satu jalan yang perlu ditempuh yaitu membina wali kelas.
Wali kelas harus memahami tugas pokok dan fungsinya. Mempunyai kompetensi khusus. Tidak sekadar menampilkan wajah indah sekolah hasil rias. Tetapi wajah otentik sekolah dari pelayanan wali kelas yang berkompeten dan melayani dengan hati.
Komunikator
Tugas wali kelas berdasarkan Permendikbud No 15 Tahun 2018 yakni mengelola kelas yang menjadi tanggungjawabnya, berinteraksi dengan orang tua/ wali murid, menyelenggarakan administrasi kelas, menyusun dan melaporkan kemajuan belajar siswa, membuat catatan khusus.
Meskipun ada penambahan istilah guru wali berdasarkan Permendikdasmen No 11 Tahun 2025 yang berfungsi sebagai pendamping akademik, tidak menggugurkan tugas wali kelas sebagai komunikator dengan orang tua.
Mengutip buku Kepala Sekolah yang Melampaui Zaman karya Konsultan Pendidikan Ryan Oktapratama terbitan November 2025 menjelaskan tentang ekspektasi orang tua dulu dan sekarang.
Orang tua dulu cenderung pasif, menyerahkan sepenuhnya ke sekolah. Orang tua sekarang ingin tahu detail kegiatan dan perkembangan anak.
Orang tua dulu menekankan kepatuhan, tata tertib, dan ketegasan guru, tetapi orang tua sekarang lebih menekankan komunikasi, empati, dan pendekatan positif.
Oleh sebab itu wali kelas tidak sekadar menjalin komunikasi rutin, pemahaman ini adalah membangun kepercayaan, keterbukaan, dan kolaborasi strategis antara sekolah dan orang tua. Sehingga sekolah dapat terus menjadi lembaga yang relevan, responsif, dan unggul di mata masyarakat.
Wali kelas harus mempunyai kompetensi mendengarkan dengan empati, bisa mengadakan forum dialog atau survei rutin dan mendengarkan kebutuhan dan kekhawatiran orang tua tanpa menghakimi.
Membangun komunikasi terbuka menggunakan kanal komunikasi, seperti WA, telegram, atau email dengan menyampaikan informasi secara jujur dan tepat.
Wali kelas mengupdate foto kegiatan siswa, mungkin saat pelajaran, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
Tentunya ini menjadi salah satu wujud perhatian wali kelas ke anak-anaknya, bisa dikonsep harian atau mingguan.
Bisa berkomunikasi dengan guru mata pelajaran lain untuk mendokumentasikan setiap mata pelajarannya. Hal sederhana, tetapi orang tua merasa dilibatkan dalam proses pembelajaran anak di sekolah. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












