Tri Joko Efendi, S.H., Camat Kebomas, menyimak siswa menyebutkan isi Sumpah Pemuda. (Tagar.co/Fauzianto Ari Sandi)
991 siswa SD Mugeb rayakan Sumpah Pemuda bersama Camat Kebomas, menanamkan semangat kebangsaan dan harapan sukses di era digital.
Tagar.co โ Sejak mentari baru menembus awan, deretan 991 siswa berseragam biru sudah berjajar rapi di lapangan Mugeb Primary School, Selasa, 28 Oktober 2025. Mereka mengikuti Upacara Bendera memperingati Hari Sumpah Pemuda. Suasana khidmat dan semangat kebangsaan pun memenuhi setiap sudut sekolah.
Upacara kali ini terasa istimewa. Tri Joko Efendi, S.H., Camat Kebomas, hadir langsung untuk memimpin upacara sebagai pembina. Mengenakan pakaian dinas berwarna khaki, Camat Tri Joko menyampaikan pesan penuh motivasi tentang makna Sumpah Pemuda bagi generasi penerus.
“Saya asli Kebomas, rumah saya di Jalan Belitung VIII. Alhamdulillah, sekolahnya sejuk, bagus, muridnya rapi, petugas upacaranya hebat. Sekolah ini luar biasa,” kata Camat Tri Joko, memperkenalkan diri sekaligus melontarkan pujian atas kondisi SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb).
Ia kemudian mengajak para siswa mensyukuri perkembangan zaman. “Sekolah Pak Camat dulu tidak berpaving seperti ini. Anak-anak sekarang memiliki gawai dan laptop. Kalian patut mensyukuri kemudahan ini.”
Untuk menguji pemahaman sejarah, Camat Tri Joko lantas menanyakan, “Siapa yang tahu isi Sumpah Pemuda?”
Ghaitsa Bilqis Ainun Rihlah, salah satu siswa kelas IV, dengan percaya diri maju ke depan. Tepuk tangan meriah menyambutnya saat dia lancar menyampaikan ketiga isi ikrar itu. Camat pun memberikan hadiah uang saku kepadanya.

Refleksi 98 Tahun Sumpah Pemuda
Camat Tri Joko melanjutkan, Sumpah Pemuda lahir pada 28 Oktober 1928, hampir 98 tahun lalu, dan dituangkan dalam Kongres Pemuda Kedua. Ia mengingatkan para siswa akan peran penting tokoh-tokoh seperti W.R. Supratman, pencipta lagu “Indonesia Raya”, dan M. Yamin dalam peristiwa bersejarah itu.
“Sumpah Pemuda ini kita gunakan untuk mengenang jasa para pahlawan. Kita mengingat bagaimana mereka menggerakkan pemuda Indonesia hingga mencapai gerbang kemerdekaan,” tegasnya.
Mengutip istilah yang Bung Karno sampaikan, “Beri aku sepuluh pemuda, akan aku ubah dunia,” Camat Tri Joko menantang siswa Mugeb. Ia menekankan, para siswa harus mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif, seperti belajar giat dan rajin. “Yang suka Pocil, kalian bisa ikut Pocil. Pocil adalah andalan SD Mugeb.”
Ia juga memberikan pesan tentang tantangan di era digital. “Jangan main gawai berlebihan. Mudah-mudahan ke depan kalian semua menjadi anak-anak yang sukses. Mudah-mudahan dari sini lahir Pak Camat generasi Kebomas, jadi pengganti bapak ibu guru. Manfaatkan teknologi sebaik-baiknya,” pesannya.
Camat Tri Joko kemudian membocorkan kunci sukses yang sejati. Ia meyakini tidak ada orang yang meraih kesuksesan tanpa restu orang tua. “Jadi, kalian harus taat dan patuh pada orang tua, termasuk guru di sekolah. Lalu, rajinlah beribadah,” tutupnya.
Baca Juga: Danu Azka Narendra, Bocah Mugeb Penulis Buku Coding untuk Anak
Semangat Berkesinambungan
Sekolah ini dikenal aktif menanamkan nilai karakter dan nasionalisme. Upacara bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi ruang belajar tentang makna tanggung jawab, kedisiplinan, dan cinta tanah air. Tema peringatan tahun ini, “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu,” menjadi napas seluruh rangkaian kegiatan.
Di akhir upacara, guru dan siswa bersama-sama meneriakkan penuh semangat: “Merdeka!”
Sorak gembira menggema di seluruh halaman sekolah. Perayaan ini menandai semangat Sumpah Pemuda masih hidup kuat di dada generasi Mugeb.
Setelah upacara, Ustadz Raden Panji Hartono dan siswa kelas VI Aira Java Quena memberikan persembahan hiburan yang memukau. Mereka membacakan puisi berjudul “Zikir” karya D. Zawawi Imron.
Acara kemudian berlanjut dengan pengumuman pemenang lomba Festival Bulan Bahasa 2025, sebuah bentuk apresiasi sekolah terhadap kreativitas dan literasi para siswa. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












