Feature

Atlet Catur Muda dari Gresik Raih Medali Perak di Kompetisi Sains Nasional

27
×

Atlet Catur Muda dari Gresik Raih Medali Perak di Kompetisi Sains Nasional

Sebarkan artikel ini
Atlet catur muda Luigi Kautsarrzaky raih perak Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) Nasional ke-7. Perjuangan belajar intensif saat sang ayah sakit membuktikan potensi tak terbatas.
Luigi Kautsarrazky menerima medali perak di KSNR7. (Tagar.co/Septia Wahyu Anggraeni)

Atlet catur muda Luigi Kautsarrzaky raih medali perak di Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) Nasional ke-7. Perjuangan belajar intensif saat sang ayah sakit membuktikan potensi tak terbatas.

Tagar.co — Nama Luigi Kautsarrzaky mencuri perhatian. Selama ini publik mengenalnya sebagai atlet catur muda yang sering menjuarai berbagai turnamen. Namun, Luigi, siswa kelas III Denmark Mugeb Primary School, membuktikan potensi luar biasa di bidang sains.

Ia meraih medali perak tingkat nasional pada ajang Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) ke-7 tahun 2025, Ahad (19/10/2025). Babak finalnya di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang.

Prestasi ini menjadi catatan istimewa bagi Luigi dan keluarganya. Sang ibunda, Septia Wahyu Anggraeni, menceritakan, tidak ada persiapan khusus yang mereka lakukan. Sejak kecil, Luigi memang menunjukkan rasa ingin tahu tinggi, tetapi fokus utamanya tetap di dunia catur.

Septia mengungkapkan, “Ketika kelas II, Luigi juga sempat meraih Medali Emas pada International Kangaroo Science Contest (IKSC) 2024. Tetapi, waktu itu juga tanpa persiapan apa pun. Kebetulan ada asesmen IKSC, Luigi masuk sekolah, eh, dia mendapat medali.”

Menurut Septia, keikutsertaan Luigi dalam KSNR-7 pun bermula dari kebetulan. “KSNR itu diikuti karena sekolah melakukan asesmennya, dan waktu itu Luigi tidak sedang bolos. Biasanya, kalau akan mengikuti turnamen catur, saya memang mengizinkan dia absen sekolah untuk latihan bersama pelatih,” tambahnya.

Baca Juga:  Spemdalas Smartlish Olympiad 2026 Sukses Digelar, Inilah Para Pemenangnya

Hal menariknya, Luigi seharusnya mengikuti Open Tournament Demokrat Cup 2025 di Gresik pada hari pelaksanaan semifinal KSNR-7. Akan tetapi, panitia membatalkan turnamen tersebut sehingga Luigi akhirnya bisa fokus mengikuti babak semifinal. “Ternyata itulah jalan rezekinya,” tutur Septia.

Atlet catur muda Luigi Kautsarrzaky raih perak Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) Nasional ke-7. Perjuangan belajar intensif saat sang ayah sakit membuktikan potensi tak terbatas.
Luigi saat menerima medali perak. (Tagar.co/Panitia KSNR-7)

Keluarga Terkejut Luigi Raih Perak Tanpa Persiapan

Septia mengaku sempat pesimis saat pengumuman dan penganugerahan pemenang di UTCC. Ia berpikir, Luigi tidak akan mendapatkan medali ketika panitia tidak menyebut namanya dalam daftar peraih medali perunggu.

“Saya sudah berpikir, kalau perunggu saja tidak dapat, apalagi medali yang lebih tinggi. Tetapi, saya ingat lagi, dari puluhan ribu peserta di seluruh Indonesia, Luigi sudah luar biasa bisa sampai di titik ini,” kenangnya.

Namun, suasana berubah haru saat layar besar menampilkan nama Luigi Kautsarrzaky, SD Muhammadiyah 1 GKB, sebagai peraih medali perak.

“Saya sampai bergetar saat merekam. Biasanya, kalau dia naik panggung untuk menerima medali catur, saya biasa saja. Tetapi, kali ini rasanya berbeda sekali. Seakan saya tidak percaya bahwa ini benar-benar anak saya,” ucapnya terharu.

Baca Juga:  Jelajah Penuh Tantangan Warnai Malam Mugeb on Scout Camp 2026

Sebelum final, Luigi sama sekali tidak melakukan persiapan sains secara khusus. Ia justru lebih sering berlatih dan bertanding catur.

“Luigi itu atlet catur. Dia tidak punya guru sains, tidak les, bahkan buku latihan sainsnya cuma modul dari sekolah,” ungkap Septia.

Pihak sekolah memberikan dukungan penuh dengan mengadakan pembinaan intensif selama empat hari berturut-turut untuk mempersiapkan diri Luigi menghadapi final KSNR.

Akan tetapi, keluarga memutuskan untuk menghentikan sementara semua aktivitas catur ketika panitia menyatakan dia lolos ke babak final. Luigi mulai mempelajari konsep IPA melalui bimbingan KPM Cabang Surabaya, meskipun sempat terlewat dua pertemuan.

“Akhirnya, Luigi mengikuti dua kali pembinaan terakhir, dan saya mencarikan guru les privat dadakan agar dia lebih memahami konsep IPA,” jelas Septia.

Pembelajaran Intensif Kala Ayah Sakit

Perjuangan Luigi menuju final berlangsung tidak mudah. Di tengah semangatnya belajar, sang ayah justru jatuh sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

“Luigi ikut menginap di rumah sakit sambil membawa lembar latihan KSNR. Bahkan, dia sempat ikut pembinaan online di samping tempat tidur ayahnya,” tutur sang ibu.

Meskipun demikian, sekolah tetap memberikan dukungan penuh. Sekolah mengadakan pembimbingan untuk para finalis selama empat hari. “Sayangnya, Luigi harus absen pada hari Rabu karena banyak tamu yang menjenguk ayahnya di rumah sakit,” imbuhnya.

Baca Juga:  Dari Lapangan ke Pergerakan: Badminton IMM Ganesha sebagai Energi Soliditas dan Silaturahmi

Mengenai harapan ke depan, Septia menegaskan bahwa keluarga tidak ingin menekan Luigi dengan target akademik tertentu.

“Sejujurnya, kami tidak punya harapan muluk. Yang penting, apa pun bidang yang dia tekuni, Luigi harus totalitas, disiplin, dan bersemangat,” ujarnya.

Sementara itu, di tempat terpisah, Luigi menyatakan ia siap mencoba kompetisi sains lainnya. Luigi mengaku tidak ingin memilih antara dua dunia yang sama-sama ia cintai ketika ditanya tentang pilihannya antara catur dan sains.

“Lihat tingkatnya dulu, kalau bisa ya dua-duanya,” ucapnya sambil tersenyum malu-malu saat ditemui pada Selasa, 21 Oktober 2025.

Setiap kompetisi adalah perjalanan belajar bagi Luigi, bukan sekadar perburuan medali. Dia menikmati prosesnya, bukan hanya hasilnya. Di balik tawa polosnya, tersimpan semangat besar seorang anak yang tak berhenti bermimpi. Luigi membuktikan, tak ada batas bagi anak Indonesia untuk berprestasi di tingkat nasional dengan tekad, disiplin, dan doa. (#)

Jurnalis Lailatul Mabadi Chaira Penyunting Sayyidah Nuriyah