Feature

Ikut Ronda Malam, Anak Ini Pergoki Maling

67
×

Ikut Ronda Malam, Anak Ini Pergoki Maling

Sebarkan artikel ini
Ikut ronda malam menjadi pengalaman tak terlupakan bagi murid madrasah di Tempeh Lor ini. Dia melihat bayangan pencuri di rumahnya. Setelah didekati dia kaget melihat kejadian ini.
Arjuna Mahardika, berbaju silat oranye, murid kelas 5 MI Muhammadiyah Tempeh Lor, bercerita kepada teman-temannya kisah ikut ronda malam di kampungnya, Sabtu 11/10/2025. (Tagar.co/Umi Fauzia Yuniarsih)

Ikut ronda malam menjadi pengalaman tak terlupakan bagi murid madrasah di Tempeh Lor ini. Dia melihat bayangan pencuri di rumahnya. Setelah didekati dia kaget melihat kejadian ini.

Tagar.co – Suasana kelas 5B MI Muhammadiyah Tempeh Lor, Lumajang, terasa lebih ceria, Sabtu (11/10/2025) pagi.

Waktu itu jam pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Siswa antusias ketika guru meminta mereka menceritakan pengalaman pribadi yang menarik di depan kelas.

Kegiatan ini bertujuan melatih kemampuan berbicara, menumbuhkan rasa percaya diri, dan membiasakan siswa tampil di hadapan teman-temannya.

Salah satu siswa yang menarik perhatian adalah Gusti Arjuna Mahardika. Dengan percaya diri maju ke depan kelas berbagi cerita pengalaman ronda malam.

Arjuna bercerita bahwa pada Sabtu malam Ahad, ia menggantikan ayahnya yang sedang bekerja untuk ikut ronda malam di RT 12 RW 2 Dusun Darungan, Desa Tempeh Lor, Kecamatan Tempeh.

Meski awalnya gugup, Arjuna berhasil membuat teman-temannya fokus mendengarkan. Ia berbicara dengan suara lantang. Sesekali tersenyum dan menirukan gerakan saat ronda malam. Suasana kelas menjadi hidup dan menarik perhatian seluruh siswa.

Baca Juga:  Rakerda Lazismu Bakorwil 3 Digelar di Situbondo

Dalam ceritanya, Arjuna menuturkan, saat ronda sekitar pukul 01.30 hingga 02.00 dini hari, ia melihat gerakan mencurigakan di sekitar rumahnya.

Ia bersama salah satu warga, Sugianto, mencoba memastikan keadaan. Namun ternyata, antena rumahnya sendiri hilang dicuri. Pencurinya sudah kabur.

“Awalnya saya kira hanya bayangan, tapi setelah dilihat, antena di atap rumah sudah tidak ada,” ucapnya sambil tersenyum.

Belajar Berpendapat

Kisah ikut ronda malam yang diceritakan Arjuna membuat teman-temannya kagum dan penasaran. Fatin Naurah bertanya setelah ia selesai bercerita. ”Kamu tidak takut waktu ronda malam?”

Arjuna tersenyum lalu menjawab,“Awalnya takut, tapi karena ingat sedang membantu ayah, saya jadi berani dan tetap ikut ronda sampai pagi.”

Guru SBK, Moh. Subchan, S. Pd., memuji keberanian Arjuna yang mampu menyampaikan pengalaman nyata dengan tenang dan percaya diri, meski kejadian yang dialaminya cukup menegangkan.

Menurut Moh. Subchan, kegiatan bercerita seperti ini bukan sekadar latihan berbicara di depan kelas, tetapi juga melatih kemampuan berpikir runtut dan mengungkapkan ide secara jelas.

Baca Juga:  Rakerda Lazismu Bakorwil 3 Digelar di Situbondo

Melalui pengalaman pribadi, siswa belajar menyusun alur cerita, mengekspresikan emosi, dan menanamkan nilai kejujuran dalam setiap tuturan.

”Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menggali karakter dan potensi siswa. Anak-anak yang biasanya pendiam didorong agar berani tampil dan mengemukakan pendapat,” tuturnya.

Guru berharap, kebiasaan ini akan berdampak positif bagi perkembangan sosial dan emosional mereka di kemudian hari.

Kepala MIM Tempeh Lor, Mohamad Ali S.Pd.I, berharap, metode seperti ini dapat diterapkan secara rutin karena terbukti meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi siswa.

”Melalui kegiatan sederhana seperti bercerita, anak-anak tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga belajar menghargai pengalaman diri dan orang lain,” ujarnya. (#)

Jurnalis Umi Fauzia Yuniarsih  Penyunting Sugeng Purwanto