Opini

Klik Dulu, Menyesal Kemudian: Mengembalikan Roh Tabayun di Era Viral

21
×

Klik Dulu, Menyesal Kemudian: Mengembalikan Roh Tabayun di Era Viral

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Kita hidup di zaman ketika kecepatan jari sering melampaui kejernihan hati. Satu klik bisa menebar fitnah, satu jeda bisa menyelamatkan kebenaran. Tabayun bukan sekadar ajaran lama, melainkan kompas moral yang paling dibutuhkan di era viral ini.

Oleh Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Timur

Tagar.co – Beberapa hari lalu, seorang mahasiswa menulis pesan pribadi: “Pak, saya sempat ikut menyebarkan video tentang seorang ustaz yang katanya menghina jemaahnya. Setelah saya cek versi lengkapnya, ternyata potongan videonya diambil tanpa konteks. Saya menyesal, Pak….”

Saya diam sejenak membaca pesannya. Di zaman serba cepat ini, penyesalan sering datang setelah unggahan sudah viral. Dan sayangnya, jejak digital tak mengenal tombol “hapus dosa”.

Baca juga: Krisis Akhlak di Era Digital: Saat Jempol Lebih Cepat dari Hati

Fenomena seperti ini bukan hal baru. Setiap kali muncul isu, kasus, atau gosip baru, kita tergoda untuk langsung menekan tombol share. Seolah takut tertinggal dalam percakapan publik. Padahal Islam sudah memberi resep moral sejak 14 abad lalu, sebuah prinsip yang kini terdengar sangat modern: tabayun.

Baca Juga:  Meluruskan Hadis Tiga Fase Ramadan: Antara Semangat dan Ketelitian Ilmiah

Tabayun: Kecerdasan Spiritual di Era Digital

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayun), agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Ḥujurāt 6)

Ayat ini lahir dari konteks sosial, tapi relevansinya sangat kuat dengan dunia digital. Kita hidup di zaman di mana siapa pun bisa menjadi sumber berita, dan setiap jari bisa menjadi media massa. Masalahnya, tidak semua yang kita baca adalah kebenaran. Sebagian adalah emosi, sebagian lagi manipulasi.

Kita Butuh Rem, Bukan Hanya Kecepatan

Media sosial dirancang untuk mempercepat reaksi, bukan memperdalam refleksi. Semakin cepat kita menanggapi, semakin besar engagement-nya.

Algoritma mencintai kehebohan, bukan kebenaran. Di sinilah pentingnya tabayun—sebuah spiritual pause button, jeda yang membuat kita berpikir sebelum bereaksi.

Kata bijak mengatakan: “Jangan biarkan emosimu menjadi mesin penyebar fitnah.” Tabayun bukan hanya soal memeriksa fakta, tetapi juga menata niat: apakah kita menyebarkan karena ingin mencari kebenaran, atau hanya ingin terlihat tahu lebih dulu?

Baca Juga:  Melatih Diri agar “Ketagihan” Membaca Al-Qur’an

Hoaks, Dosa yang Berantai

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila ia menyampaikan semua yang ia dengar.” (Muslim)

Betapa seringnya kita menjadi bagian dari rantai dosa hanya karena satu forward. Satu klik bisa memicu luka batin seseorang, bahkan merusak nama baik yang dibangun seumur hidup.

Dan sayangnya, meski kita sudah menyesal, unggahan kita sudah menembus batas waktu dan ruang—tak bisa ditarik kembali.

Tabayun adalah cara Islam mengajarkan literasi digital jauh sebelum istilah “digital” itu sendiri lahir. Ia bukan sekadar keterampilan, tapi bentuk kecerdasan iman: berpikir, menimbang, lalu bertanggung jawab.

Dari Cepat ke Cermat

Generasi Z hidup dalam ekosistem informasi yang masif. Setiap detik, jutaan konten lahir di ponsel mereka. Mereka dibesarkan dalam budaya “cepat tanggap”. Namun, Islam justru mengajarkan “cermat sebelum cepat”.

Sebab, kebenaran tidak selalu hadir dalam kecepatan, tetapi dalam kejujuran dan kesabaran.

Imam Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata: “Orang beriman menimbang dengan hati sebelum berbicara; orang munafik berbicara sebelum menimbang.”

Baca Juga:  Kampus dan Gratifikasi: Benih Korupsi yang Tumbuh dari Hulu Akademik

Di dunia digital, barangkali bisa kita ubah sedikit: “Orang beriman menimbang sebelum menekan ‘send’; orang lalai menekan ‘share’ sebelum berpikir.”

Refleksi

Tabayun adalah seni menunda—menunda reaksi, menunda komentar, menunda kemarahan. Agar yang muncul bukan kepanikan, tapi kebenaran.

Karena kadang, langkah paling bijak di dunia digital bukan menulis sesuatu yang viral, tetapi menahan diri agar tidak menjadi bagian dari kesalahan kolektif yang fatal.

Sebab, di balik setiap kabar, selalu ada sisi yang belum kita tahu.
Dan di balik setiap “klik”, ada tanggung jawab yang kelak akan ditanya di hadapan Allah:

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.” (Al-Ḥujurāt 10). (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…