
Tagar.co – Lomba Tahfiz dan Pemaparan Isi Kandungan Surah Al-Quran diadakan oleh Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Tempeh Lor, Lumajang, Sabtu (17/1/2026).
Acara untuk memperingati Isra Mikraj ini berlangsung di Aula Muari yang baru dibangun.
Kegiatan diikuti siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 dengan tema Refleksi Diri dengan Al-Qur’an melalui Salat sebagai Benteng di Era Modern.
Lomba tahfiz ini bertujuan melatih keberanian siswa tampil di depan umum sekaligus menanamkan pemahaman Al-Qur’an sejak dini. Kegiatan dilaksanakan secara langsung dengan pendampingan guru.
Sejumlah siswa menunjukkan keberanian meski harus berjuang melawan rasa gugup saat tampil di depan.
Salah satunya, Gibran Putra Pratama, siswa kelas 1, yang tampil dengan kondisi badan gemetaran disertai keringat dingin yang cukup deras mengalir. Namun Gibran tetap melanjutkan hafalan Al-Qur’an hingga selesai.
Penampilannya mendapat perhatian dan apresiasi dari para guru karena keberaniannya untuk tetap maju dan tidak menyerah.
Peserta lain, Tariza Nur Qonitatillah, juga gugup saat tampil. Ia sempat menangis di awal penampilan. Dengan bimbingan dan dukungan guru, Tariza akhirnya mampu menenangkan diri dan melanjutkan hafalan surat Al-Ikhlas hingga selesai.
Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Tariza Nur Qonitatillah berhasil meraih Juara Harapan 3. Capaian ini menjadi bukti bahwa keberanian dan ketekunan tetap membuahkan hasil meski diawali dengan rasa takut.
Tariza mengatakan, walaupun takut dan menangis, tetap berusaha menyelesaikan hafalan surah. Ia mengaku gugup karena harus tampil di depan banyak orang, namun merasa senang dan bangga karena bisa menyelesaikan lomba dan mendapatkan penghargaan.
“Saya tadi takut dan menangis, tapi saya ingin mencoba sampai selesai. Alhamdulillah dapat juara, saya senang,” ujar Tariza.
Kepala MI Muhammadiyah Tempeh Lor, Muhamad Ali, S.Pd.I., dalam sambutannya menekankan pentingnya meningkatkan kualitas ibadah di tengah kondisi dunia yang penuh tantangan.
Ia menyampaikan, momentum bulan Rajab harus dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an dan salat.
“Doa di bulan Rajab insyaallah dikabulkan. Dunia ini sedang tidak baik-baik saja, maka jika ibadah tidak ditingkatkan, semuanya bisa berantakan,” ujarnya.
Al-Qur’an jangan hanya dibaca, tetapi dipahami dan diamalkan. Salat harus ditegakkan karena menjadi tiang agama,” tegasnya.
Melalui lomba tahfiz ini, kepala sekolah berharap siswa tidak hanya terlatih dalam hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki mental yang kuat, berani tampil, serta mampu menjadikan salat dan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup di era modern. (#)
Jurnalis Umi Fauzia Yuniarsih Penyunting Sugeng Purwanto













