
SD Mumtaz menggelar Quantum Tahfiz 2026 di Pacet guna memperkuat hafalan, melatih kemandirian, dan membentuk karakter religius siswa melalui karantina intensif yang penuh aktivitas inspiratif serta menyenangkan.
Tagar.co — Hawa sejuk Villa CMA Pacet, Mojokerto, menyambut puluhan anak yang tampak antusias turun dari bus. Tak ada gawai di tangan, tak ada hiruk-pikuk gim daring. Mulai 2 hingga 4 April 2026, sebanyak 61 siswa kelas I hingga VI SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman (SD Mumtaz) memilih menepi dari keramaian kota Sidoarjo. Mereka datang membawa misi mulia: mendekap Al-Qur’an lebih erat dalam agenda Quantum Tahfiz 2026.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Mengusung tema “Menguatkan Hafalan, Meneguhkan Keimanan, dan Membentuk Karakter Qur’ani”, sekolah merancang karantina ini sebagai kawah candradimuka bagi para penghafal cilik. Fokus menjadi kunci utama. Tanpa gangguan televisi atau gawai, para peserta menyelami ayat demi ayat dalam suasana yang sangat kondusif dan terarah.
Ketua Pelaksana, Muhammad Nabil Lubbi, menjelaskan, program ini merupakan strategi pendidikan holistik sekolah. Mereka ingin membangun kemandirian dan kedisiplinan siswa sejak dini. Para pengajar menerapkan pendekatan personal agar setiap anak merasa terdampingi secara emosional maupun spiritual.
“Quantum Tahfiz ini adalah ikhtiar kami untuk menghadirkan pengalaman belajar Al-Qur’an yang lebih fokus, bermakna, dan membekas dalam diri anak-anak,” ujar Nabil dengan nada optimis. Baginya, tiga hari di pegunungan ini harus menjadi fondasi kuat bagi perilaku siswa saat kembali ke rumah nanti.
Resep Khusus Memperbaiki Kualitas Bacaan
Selama tiga hari, panitia menerapkan “resep” khusus dalam membina peserta. Alurnya terstruktur rapi, mulai dari murajaah terprogram untuk menjaga hafalan lama agar tidak menguap, hingga ziyadah bertahap untuk menambah setoran hafalan baru. Tak lupa, sesi tahsin menjadi agenda wajib guna memperbaiki kualitas serta kefasihan bacaan siswa.
Pembinaan berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil atau halaqah. Pendampingan intensif ini memastikan setiap siswa mendapatkan perhatian penuh dari mentornya. Selain aspek kognitif dalam menghafal, pembiasaan ibadah menjadi napas utama kegiatan. Siswa wajib melaksanakan shalat berjamaah tepat waktu dan membiasakan diri bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan shalat tahajud.
Rutinitas ini secara perlahan mengikis sifat manja. Anak-anak belajar merapikan tempat tidur sendiri, mengatur waktu antara istirahat dan mengaji, hingga menjaga kebersihan lingkungan villa. Pola hidup disiplin yang terjadwal ketat ini bertujuan membentuk otot mental yang tangguh. Pihak sekolah meyakini bahwa karakter Qur’ani tidak muncul secara instan, melainkan melalui repetisi dan lingkungan yang mendukung.
Melalui interaksi dalam halaqah, para mentor juga menyisipkan nilai-nilai moral. Mereka tidak hanya menuntut anak menghafal teks, tetapi juga memahami etika seorang Muslim. Hal ini selaras dengan visi SD Mumtaz yang ingin melahirkan lulusan unggul secara akademik sekaligus memiliki kedalaman spiritual yang mumpuni.

Kegembiraan di Sela Lantunan Ayat Suci
Meski jadwal karantina terbilang padat, suasana haru dan kaku sama sekali tidak terasa. Panitia mengemas Quantum Tahfidz dengan sentuhan kegembiraan agar siswa tidak merasa jenuh. Di sela-sela waktu menghafal, tawa pecah saat sesi fun games dan senam ceria di pagi hari. Alam Pacet yang asri menjadi latar sempurna untuk kegiatan outbound dan fun swimming.
Salah satu momen yang paling mereka tunggu adalah Qur’anic Motivation. Dalam sesi ini, para siswa mendapatkan suntikan semangat mengenai kemuliaan menjadi seorang penjaga Al-Qur’an. Suasana hangat pun semakin terasa saat malam akrab melalui kegiatan grill time. Sambil menikmati hidangan hangat di tengah dinginnya suhu pegunungan, ukhuwah Islamiyah antara peserta dan guru terjalin semakin erat.
Wakil Kepala Sekolah bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan, Amrozi, S. Fill., M.Pd., memantau langsung perkembangan anak-anak. Ia menekankan, investasi terbaik bagi masa depan adalah karakter. Di tengah gempuran tantangan global yang semakin kompleks, membentengi anak dengan nilai agama menjadi hal yang mutlak.
“Melalui Quantum Tahfiz, kami berharap lahir generasi yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga memiliki akhlak Qur’ani serta kesiapan menghadapi tantangan global,” ungkap Amrozi. Harapan besar tertumpu pada pundak para siswa ini agar mereka mampu menjadi oase di tengah masyarakat saat dewasa kelak.
Penutupan kegiatan ditandai dengan peningkatan capaian hafalan yang signifikan dari para peserta. Namun, lebih dari angka-angka setoran ayat, kemenangan sejati adalah transformasi sikap mereka. SD Mumtaz membuktikan bahwa pendidikan yang holistik mampu menyatukan kecerdasan spiritual dan karakter dalam satu tarikan napas perjuangan pendidikan. (#)
Jurnalis Ulin Farichah Penyunting Sayyidah Nuriyah











