
Proyek ambisius Rp91 triliun digadang jadi tonggak revolusi pengelolaan sampah nasional. Dari TPA ke PSEL, Indonesia berharap mengubah sampah jadi energi. Namun muncul kekhawatiran: benarkah udara akan lebih bersih atau justru makin tercemar?
Oleh Kholis Ernawati, Dosen Universitas YARSI, Jakarta
Tagar.co – Setiap hari, kota-kota besar di Indonesia dibanjiri sampah. Di Jakarta, misalnya, lebih dari 8.000 ton sampah muncul setiap harinya. Sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), yang sudah lama melebihi kapasitas.
TPA bukan sekadar tumpukan sampah; ia adalah sumber bau menyengat, pencemaran air tanah akibat lindi, pelepas gas metana penyumbang pemanasan global, serta tempat berkembang biak lalat, nyamuk, dan tikus yang menyebarkan penyakit menular.
Tidak mengherankan jika masyarakat di sekitar TPA sering menghadapi masalah kesehatan seperti diare, demam berdarah, leptospirosis, hingga hepatitis A.
Baca juga: Udang Beku Indonesia Tercemar Cs-137: Alarm Kesehatan Lingkungan dan Pangan Global
Krisis ini mendorong pemerintah untuk mencari jalan keluar. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) baru-baru ini mengumumkan proyek raksasa Pengolahan Sampah (menjadi) Energi Listrik alias PSEL.
Dengan investasi mencapai Rp91 triliun, proyek ini akan digarap di 33 kota, dimulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Makassar (Binekasri, 2025). Setiap fasilitas ditargetkan mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari, menjanjikan pengurangan timbunan TPA sekaligus menghasilkan energi listrik.
Harapan Baru di Tengah Krisis
Gagasan PSEL terdengar seperti harapan baru. Bayangkan, sampah yang selama ini menjadi sumber masalah justru bisa menjadi sumber energi. Jika berjalan baik, tumpukan di TPA bisa berkurang, pencemaran air tanah ditekan, emisi metana berkurang, dan lingkungan sekitar menjadi lebih sehat.
Dari sisi kesehatan lingkungan, ini tentu menjadi kabar menggembirakan: risiko penyakit berbasis lingkungan berpotensi menurun, kualitas udara dan air bisa lebih baik, dan masyarakat dapat hidup di lingkungan yang lebih layak.
Ancaman yang Tak Boleh Diabaikan
Namun, optimisme itu harus diimbangi kewaspadaan. Teknologi PSEL banyak bergantung pada insinerasi atau pembakaran sampah bersuhu tinggi. Proses ini, bila tidak dikendalikan dengan ketat, bisa menghasilkan polutan baru: dioksin, furan, dan partikel halus (PM2.5).
WHO (2016) mengingatkan, paparan jangka panjang terhadap PM2.5 meningkatkan risiko penyakit pernapasan kronis, kanker paru-paru, hingga gangguan jantung. Artinya, PSEL berpotensi memindahkan masalah: dari tumpukan sampah di darat menjadi polusi berbahaya di udara.
Oleh karena itu, keberhasilan PSEL bukan hanya soal berdirinya fasilitas atau berapa megawatt listrik yang dihasilkan. Lebih dari itu, kuncinya ada pada pengawasan emisi, kepatuhan pada standar lingkungan, dan keterbukaan data kualitas udara yang dapat diakses publik.
Tanpa hal itu, proyek ini bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat, bahkan penolakan sosial di sekitar lokasi.
PSEL Bukan Jawaban Tunggal
Ada satu hal yang sering terlupakan: PSEL bukan jawaban tunggal atas krisis sampah. Jika semua sampah diarahkan ke insinerator, prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) bisa terpinggirkan.
Padahal, pengalaman di banyak kota menunjukkan bahwa daur ulang dan bank sampah mampu mengurangi sampah rumah tangga hingga 30 persen sekaligus membangun kesadaran Masyarakat.
Karena itu, PSEL seharusnya ditempatkan sebagai pelengkap, bukan pengganti. PSEL bisa fokus mengolah residu yang sulit didaur ulang, sementara upaya edukasi pemilahan, ekonomi sirkular, dan pemberdayaan sektor informal pengelola sampah tetap diperkuat.
Ukuran Keberhasilan Sesungguhnya
Lalu, akankah Indonesia bebas dari krisis sampah dengan adanya PSEL? Jawaban jujurnya: bergantung pada cara kita menilai keberhasilan.
Jika ukuran keberhasilan hanya dilihat dari berkurangnya volume sampah atau bertambahnya listrik, maka manfaatnya bisa menipu.
Tolok ukur yang lebih penting adalah: apakah kualitas udara membaik? Apakah air tanah lebih aman? Apakah angka penyakit berbasis lingkungan menurun? Dan apakah masyarakat merasakan perubahan nyata di kehidupan sehari-hari mereka?
Menutup Lingkaran
Perjalanan dari TPA ke PSEL adalah simbol transisi penting bagi bangsa ini. Namun, transisi itu hanya akan berarti jika dikelola dengan bijak, berbasis pada ilmu pengetahuan, transparansi, dan partisipasi masyarakat.
Proyek raksasa senilai Rp91 triliun ini bisa menjadi tonggak sejarah pengelolaan sampah Indonesia, tetapi ia juga bisa menjadi proyek mercusuar yang sekadar memindahkan masalah jika kesehatan lingkungan tidak dijadikan poros utama.
Sampah adalah cermin peradaban. Cara kita mengelolanya akan menentukan wajah kota, kualitas kesehatan, dan masa depan generasi mendatang.
Referensi
- Binekasri, R. (2025, 10 Oktober). 33 Kota Garap Proyek Sampah Jadi Energi, Butuh Investasi Rp91 T. CNBC Indonesia. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/market/20251010162813-17-674836/33-kota-garap-proyek-sampah-jadi-energi-butuh-investasi-rp91-t
- World Health Organization. (2016). Ambient air pollution: A global assessment of exposure and burden of disease. Geneva: WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789241511353
Penyunting Mohammad Nurfatoni












