Feature

Ranting Kopi dan Alpukat Jadi Solusi Energi, Inovasi Mahasiswa UMM Jawab Krisis LPG

33
×

Ranting Kopi dan Alpukat Jadi Solusi Energi, Inovasi Mahasiswa UMM Jawab Krisis LPG

Sebarkan artikel ini
Tim Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Eksakta (PKM-RE) UMM sedang mencari bahan baku yang akan diolah menjadi pelet biomassa yang lebih ramah lingkungan dibanding LPG.

Kelangkaan gas elpiji di desa-desa hutan Malang memantik ide segar mahasiswa UMM. Dari limbah cabang dan ranting, mereka kembangkan pelet biomassa yang lebih bersih, murah, dan ramah lingkungan.

Tagar.co – Ranting kopi dan alpukat yang biasanya berakhir di tanah sebagai limbah pangkasan, kini tengah naik kelas. Di tangan sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bahan yang kerap terbuang itu justru disulap menjadi energi alternatif yang bisa menjawab kelangkaan gas elpiji (LPG) di desa-desa.

Penelitian ini dilakukan oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) UMM. Mereka meneliti potensi biomassa dari limbah tanaman cepat tumbuh untuk diolah menjadi pelet bahan bakar.

Baca juga: UMM Saksi Perjalanan Panjang OSN Menyiapkan Talenta Terbaik Bangsa

Gagasan tersebut berangkat dari kegelisahan sederhana: masyarakat desa hutan di Malang yang semakin sering menghadapi kelangkaan LPG, sementara di sekitar mereka melimpah limbah ranting dan cabang hasil penanaman pohon fungsional.

Jejak Penelitian Anak Muda UMM

Tim riset ini dipimpin oleh Bangkit Utomo Putro dan dibimbing oleh Naresvara Nircela Pradipta, S.Hut., M.Sc. Anggotanya terdiri atas I Gusti Agung Ayu Ary Indah Febriani, Kevin Abimanyu Prakoso, Muhammad Nur Fajar, dan Nina Febriansari.

Baca Juga:  Rektor UMM: Pendidikan Tinggi Harus Jadi Motor Solusi Zaman

Judul riset mereka memang terdengar ilmiah: “Eksplorasi Sifat Psiko-termal dan Flame Emission Spectrum Pelet Biomassa Spesies Fast Growing di Malang sebagai Energi Alternatif Masyarakat Desa Hutan”.

Namun di balik istilah teknis itu, tersimpan tujuan yang sangat praktis: mencari jalan agar ranting dan cabang tak hanya jadi sampah, melainkan berubah menjadi sumber energi. Hingga awal Oktober 2025, progres penelitian ini sudah mencapai 80 persen.

Masalah Global, Solusi Lokal

Bangkit menjelaskan, penelitian ini lahir dari dua persoalan besar. Secara global, dunia menghadapi ancaman pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca (GRK), terutama CO₂. Indonesia pun merespons dengan program FOLU (Forestry and Other Land Use) Net Sink 2030. Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Malang sejak 2019 telah menanam tanaman fungsional di 133 desa hutan.

Namun di tingkat lokal, muncul ironi: masyarakat desa hutan malah kesulitan mendapatkan energi rumah tangga. “Kami melihat ada dua masalah yang saling berkaitan: krisis lingkungan secara luas dan kelangkaan energi di tingkat desa. Melalui riset ini, kami ingin membuktikan bahwa limbah pangkasan dari tanaman fungsional bisa menjadi solusi energi yang efektif,” kata Bangkit Utomo Putro, dikutp dari siaran pers Humas UMM Selasa (7/10/25)

Baca Juga:  Desa Digital, UMKM Wiyurejo Makin Dikenal
Tim Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Eksakta (PKM-RE) UMM memaparkan hasil riset biomassa di ruang kelas kampus UMM, Malang. Mereka meneliti potensi ranting kopi dan alpukat sebagai energi alternatif bagi masyarakat desa hutan.

Menakar Ranting: Antara Kadar Air dan Abu

Dalam riset ini, tim memanfaatkan cabang, ranting, dan daun hasil pangkasan (prunning). Namun tidak semua tanaman menghasilkan kualitas pembakaran yang sama. Karena itu, penelitian dilakukan untuk mengetahui mana yang paling efisien sekaligus aman bagi kesehatan.

Uji coba awal menunjukkan temuan menarik. Dari sisi kadar air, pelet cabang alpukat mencatat angka tertinggi yakni 27,33 persen. Artinya, panas yang dihasilkan berkurang karena air menyerap energi pembakaran.

Sebaliknya, pelet dari cabang kopi menampilkan hasil terbaik untuk kadar abu, hanya 3,2 persen. Rendahnya residu abu membuat pembakaran lebih bersih dan performanya hampir menyamai kontrol.

Harapan dari Desa Hutan

Melalui program ini, tim mahasiswa UMM berharap bisa membantu masyarakat desa hutan mengurangi ketergantungan pada LPG sekaligus menekan emisi karbon berlebih. Selain manfaat ekologis, penelitian ini juga menjadi ruang belajar kebersamaan.

Bangkit menekankan pentingnya kerja tim. “Kami berharap penelitian ini bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa hutan, sekaligus menjadi pijakan untuk inovasi-inovasi berikutnya,” ujarnya.

Baca Juga:  Program Terpadu UMM: Lulus S1–S2 Cuma 5 Tahun

Penelitian yang lahir dari limbah ranting ini memang masih berjalan, tetapi hasil awalnya sudah memberi sinyal kuat: bahwa solusi energi murah dan ramah lingkungan bisa datang dari hal sederhana di sekitar kita. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni