
Api bisa muncul dari benda sepele: kertas, plastik, hingga kabel aus. Di Smamda Sidoarjo, para karyawan dilatih untuk siap menghadapi kemungkinan terburuk dengan ilmu dan keterampilan tanggap kebakaran.
Tagar.co – Pada Selasa pagi yang hangat (7/10/2025), halaman SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo seketika berubah menjadi ruang belajar yang berbeda.
Di bawah langit biru, para karyawan berkumpul bukan untuk mengajar, melainkan untuk belajar—belajar cara melindungi diri, sekolah, dan orang-orang tercinta dari ancaman kebakaran yang bisa datang tanpa diduga.
Baca juga: SPPG Jamin MBG di Smamda Aman di Tengah Isu Keracunan
Pelatihan tanggap darurat itu dibuka dengan suara mantap Robby Bustomi, ketua tim pelatih Trainer Fire Safety Trubus Mandiri Jaya yang didampingi Illafi Andika dan Nur Maidah. Dengan bahasa yang sederhana, Robby membedah rahasia api melalui konsep “Segitiga Api”—tiga unsur yang membuat api hidup: bahan bakar, panas, dan oksigen.
“Tiga unsur ini harus ada agar api bisa menyala. Jika salah satunya dihilangkan, api akan padam dengan sendirinya. Itulah segitiga api,” ujarnya, suaranya menggema di halaman sekolah.
Ia lalu menjelaskan bahwa di sekolah, bahan bakar kebakaran bisa datang dari benda-benda sepele: tumpukan kertas, plastik di sudut ruangan, kabel listrik yang aus, hingga cairan kimia. Panas bisa muncul dari korsleting atau api terbuka, sedangkan oksigen selalu ada di udara.
“Karena itu, mengendalikan dua unsur lainnya adalah kunci mencegah kebakaran,” tegasnya.
Mengenal Senjata Pemadam
Usai membedah teori api, Robby memperkenalkan alat pemadam api ringan (APAR). Ia menjelaskan perbedaan APAR berbahan foam, powder, dan karbon dioksida (CO₂).
Foam efektif untuk cairan seperti minyak, powder cocok untuk kebakaran umum termasuk listrik, sedangkan CO₂ aman untuk perangkat elektronik karena tak meninggalkan residu.
“Kesalahan memilih APAR bisa berakibat fatal dan memperbesar api,” kata Robby sambil menatap peserta satu per satu, memastikan pesan itu benar-benar dipahami.
Dari Teori ke Aksi
Materi berlanjut dengan praktik lapangan. Halaman sekolah yang semula tenang berubah menjadi arena penuh semangat. Para peserta bergiliran mencoba memadamkan api di tong besi dengan karung goni basah dan APAR.
“Awalnya saya agak takut, tapi ternyata caranya tidak sulit jika mengikuti prosedur dengan benar,” ungkap Divana Winjayati, salah satu peserta.
Kepala Sekolah Smamda, M. Zainul Arifin, menyambut positif kegiatan ini. “Pelatihan ini penting agar seluruh tenaga kependidikan memiliki keterampilan dasar menangani kebakaran. Kami berharap semua warga sekolah siap siaga dalam kondisi darurat,” ujarnya.
Menutup dengan Simulasi Evakuasi
Pelatihan ditutup dengan simulasi evakuasi sederhana, mengajarkan peserta bertindak cepat dan teratur saat bencana terjadi. Kini, dengan bekal pemahaman tentang segitiga api dan keterampilan menggunakan APAR, para tenaga kependidikan Smamda lebih siap menghadapi bahaya.
Mereka belajar bahwa di balik nyala api yang menakutkan, selalu ada ilmu yang bisa menjadi penjinaknya—membawa ketenangan dan kesiapan menghadapi hari esok. (#)
Jurnalis Naimul Hajar Penyunting Mohammad Nurfatoni












