
KBIHU Surya Mabrur Ngawi resmi melepas jemaah haji 2026 melalui pengajian akbar yang menekankan kesiapan fisik, mental, serta kemandirian ibadah demi meraih predikat haji mabrur.
Tagar.co — Suasana haru menyelimuti Aula KBIHU Surya Mabrur di Jalan Barnadib Nomor 3, Ngawi, pada Ahad, 12 April 2026. Ratusan jemaah berkumpul untuk sebuah momen sakral: pelepasan jemaah haji tahun 2026. Di gedung yang mampu menampung 500 orang ini, aroma kerinduan pada Baitullah terasa begitu kental.
Ketua KBIHU Surya Mabrur, Drs. Gucik Sanusi, M.Ag., membuka acara dengan penuh apresiasi. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kepercayaan masyarakat Ngawi yang memilih KBIHU Surya Mabrur sebagai kompas spiritual mereka. Fasilitas yang tersedia pun tidak main-main. Di sini, para jemaah sudah terbiasa dengan simulasi ibadah yang mendekati kondisi aslinya.
“Kami menyediakan aula yang representatif, lengkap dengan miniatur Kakbah, jalur sai antara Safa dan Marwa, hingga tempat lempar jamarat,” ujar Gucik dengan nada bangga.
Keunggulan lokasi yang strategis semakin lengkap dengan keberadaan Masjid Tamam Ali Hasan, miniatur Jabal Rahmah, hingga toko perlengkapan haji yang memudahkan jemaah memenuhi kebutuhan logistik mereka sebelum terbang ke Arab Saudi.
Kemudian, Gucik mengingatkan jemaah yang akan berangkat pada 27 April 2026 mendatang untuk membawa empat bekal utama. Pertama, ilmu manasik. Ia menegaskan, pembimbing telah memberikan materi secara tuntas agar jemaah memiliki kemandirian saat menjalankan rukun dan wajib haji.
“Jangan tergantung sepenuhnya kepada pembimbing. Bapak dan Ibu harus mandiri,” pesannya tegas.
Bekal kedua adalah teknis, yakni memahami detail keberangkatan hingga pengaturan perbekalan agar tidak ada kendala di perjalanan.

Empat Pilar dan Kebijakan Baru
Selain ilmu dan teknis, Gucik juga menekankan pentingnya spiritualitas haji sebagai pilar ketiga. Spiritualitas ini yang nantinya akan menjadi penentu apakah seorang jemaah mampu membawa perubahan perilaku sekembalinya dari tanah suci.
Pilar terakhir yang tak kalah krusial adalah kesehatan. Mengingat cuaca dan aktivitas fisik yang berat, ia mengimbau jemaah untuk menjaga kebugaran fisik dan mental serta konsisten menerapkan pola hidup sehat sejak sekarang.
Kehadiran Kepala Kementerian Haji Kabupaten Ngawi, Masum Amrullah, M.Ag., menambah bobot acara ini. Dalam sambutannya, Masum memaparkan berbagai kebijakan terbaru pemerintah terkait pelaksanaan haji tahun 2026. Ia memastikan, pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas layanan, mulai dari akomodasi hingga perlindungan jemaah di tanah suci.
Puncak acara diisi dengan tausiah mendalam dari Prof. Dr. H. Achmad Zuhdi Dh., M.Fil.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PWM Jawa Timur. Dengan gaya penyampaian yang lugas namun menyentuh hati, Prof. Zuhdi menguraikan lima resep utama untuk meraih predikat haji mabrur. Menurutnya, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan menyucikan hati.
“Luruskan niat, ikhlaskan hati. Niatkan semata-mata untuk ibadah, jangan sampai hanya karena ingin dipanggil Pak Haji atau Bu Hajah saat pulang nanti,” tutur Prof. Zuhdi di depan jemaah yang menyimak dengan takzim. Ia mengingatkan, niat yang bengkok sejak awal hanya akan melelahkan raga tanpa membuahkan pahala yang hakiki.
Menjemput Predikat Mabrur yang Hakiki
Lebih lanjut, Prof. Zuhdi menekankan pentingnya membersihkan harta sebelum berangkat. Ia meminta jemaah memastikan, mereka sudah mengeluarkan zakat dari harta yang mereka miliki. Bekal ketiga yang ia tekankan sejalan dengan pesan pengelola KBIHU, yakni penguasaan ilmu manasik. Tanpa ilmu, ibadah haji berisiko hanya menjadi kegiatan seremonial tanpa makna filosofis.
Poin keempat dan kelima yang ia sampaikan berkaitan erat dengan etika sosial atau akhlak karimah. Ia mengajak jemaah untuk senantiasa thibul kalam atau berkata-kata yang baik dan bersikap santun kepada sesama jemaah maupun penduduk lokal di Arab Saudi. Menjaga lisan adalah tantangan terberat saat fisik mulai lelah dan emosi mulai tersulut oleh situasi di lapangan.
Terakhir, ia mendorong jemaah untuk gemar berbagi atau ith’amut tho’am. “Gemarlah bersedekah dan berbagi makanan selama di sana,” tambahnya.
Sifat dermawan ini ia anggap sebagai salah satu ciri haji yang mabrur. Yakni mereka yang kepedulian sosialnya meningkat setelah kembali dari Baitullah.
Acara pelepasan ini berakhir dengan doa bersama yang menggetarkan aula. KBIHU Surya Mabrur pun berkomitmen mengawal perjalanan suci ini hingga para tamu Allah kembali ke tanah air dengan selamat. (#)
Jurnalis Supriyati Penyunting Sayyidah Nuriyah












