Feature

Transformasi Dam Haji, Lazismu Desain Instrumen Pemberdayaan Mustahik

130
×

Transformasi Dam Haji, Lazismu Desain Instrumen Pemberdayaan Mustahik

Sebarkan artikel ini
Transformasi Dam Haji, Lazismu desain instrumen pemberdayaan mustahik. Mustahik tidak hanya menerima, tetapi ikut berproses dalam ekosistem ekonomi. Apa dan bagaimana model pemberdayaannya?
Transformasi Dam Haji, Lazismu desain instrumen pemberdayaan mustahik (Foto ilustrasi freepik.com)

Transformasi Dam Haji, Lazismu desain instrumen pemberdayaan mustahik. Mustahik tidak hanya menerima, tetapi ikut berproses dalam ekosistem ekonomi. Apa dan bagaimana model pemberdayaannya?

Tagar.co – Transformasi tata kelola dam haji mulai diarahkan tidak sekadar sebagai pemenuhan kewajiban ibadah, tetapi menjadi instrumen strategis pemberdayaan ekonomi umat. Melalui pengalihan penyaluran dam ke tanah air, Lazismu mengambil peran kunci dalam mendesain ekosistem yang berdampak bagi mustahik.

Kebijakan ini juga sejalan dengan imbauan kepada jemaah haji, khususnya warga Muhammadiyah, agar menyalurkan dam melalui lembaga amil resmi yang memiliki sistem akuntabilitas yang jelas. Selain menghindari potensi penipuan, langkah ini memastikan manfaat dam dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di dalam negeri.

Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, drh. Zainul Muslimin, menyampaikan kepada tagar.co, Kamis (26/3/2026), bahwa transformasi ini menjadi momentum penting dalam mengubah pendekatan dam dari konsumtif menjadi produktif.

“Dam tidak harus berhenti pada penyembelihan. Kita dorong menjadi instrumen pemberdayaan, sehingga mustahik tidak hanya menerima, tetapi ikut berproses dalam ekosistem ekonomi,” ujarnya.

Baca Juga:  Meniti Keberanian di Atas Jurang: Sensasi Jembatan Kaca Seruni Point Bromo

Desain Ekosistem Pemberdayaan

Dalam desain yang tengah dikembangkan, dam diintegrasikan dengan program pemberdayaan berbasis peternakan. Skema ini menghubungkan dana filantropi dengan sektor riil melalui program Ternak Mandiri.

Dana zakat maal disalurkan kepada mustahik dalam bentuk ternak kambing muda (cempe) melalui mitra binaan program penggemukan dan pembibitan. Setelah melalui proses pemeliharaan, ternak tersebut berpotensi diserap kembali sebagai hewan dam saat musim haji.

Model ini menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan. Dari mustahik, oleh mustahik, dan kembali untuk mustahik.

“Di situ ada mata rantai ekonomi yang terbangun. Mustahik naik kelas menjadi pelaku ekonomi,” jelas Zainul Muslimin.

Tantangan Implementasi dan Realisme Skema

Meski secara konsep dinilai kuat, implementasi skema ini membutuhkan kesiapan sistem. Termasuk kepastian jumlah kebutuhan hewan dam setiap tahun. Dalam kondisi saat ini, pendekatan yang lebih realistis masih mengarah pada konsolidasi dam dalam bentuk sapi.

Dengan pendekatan kolektif, sekitar 200 dam dapat dikonversi menjadi kurang lebih 28 ekor sapi. Selain efisien, model ini juga memudahkan pengelolaan dan distribusi dalam skala besar.

Baca Juga:  Orientasi Amal: Cukup Rida Allah, Bukan Validasi Manusia

Daging hasil penyembelihan tidak hanya dibagikan secara langsung, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti rendang atau bakso, sehingga memperluas jangkauan manfaat.

“Manfaatnya bisa kembali ke jamaah, ke KBIHU, dan ke perserikatan Muhammadiyah. Ini yang kita desain agar dampaknya lebih luas,” tambah Zainul.

SOP dan Standarisasi Kualitas

Untuk memastikan tata kelola berjalan optimal, Lazismu juga didorong menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang komprehensif.

SOP ini mencakup seluruh proses. Mulai dari penghimpunan dana, pemilihan hewan sesuai syariat, proses penyembelihan, hingga distribusi kepada mustahik dengan menjaga kualitas protein tetap terjaga.

Dari sisi syariah, dam memiliki fleksibilitas dalam jenis hewan, baik kambing, sapi, maupun kerbau. Pendekatan kolektif dalam penggunaan sapi dinilai sah dan justru membuka ruang efisiensi serta dampak sosial yang lebih luas.

Dengan pendekatan ini, dam tidak hanya memenuhi aspek ibadah, tetapi juga menghadirkan maslahat yang lebih besar bagi umat.

Menuju Filantropi Berbasis Dampak

Transformasi dam haji menjadi bagian dari upaya membangun filantropi Islam berbasis dampak. Lazismu diharapkan mampu menghadirkan model baru pengelolaan ibadah yang tidak hanya sah secara syariah, tetapi juga kuat secara sosial dan ekonomi.

Baca Juga:  Potensi Fundraising Retail Lazismu Denpasar Sangat Besar, Belum Tergarap Optimal

“Ke depan, dam kita arahkan bukan hanya selesai sebagai ibadah, tetapi menjadi kekuatan ekonomi umat yang berkelanjutan,” tutur Zainul Muslimin yang juga Dewan Penasihat Ahli Lazismu Jatim. (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo. Penyunting Sugiran.