
Musypimcab I Aisyiyah Krian menghadirkan bahasan mendalam tentang pilar keislaman, Khaira Ummah dan strategi membangun komunitas madani. Peserta kompak membawa tumbler pribadi sebagai simbol cinta bumi.
Tagar.co – Musyawarah Pimpinan Cabang (Musypimcab) I Aisyiyah Krian, Ahad (21/9/2025), berlangsung hangat dan sarat makna. Bertempat di aula SMP Muhammadiyah 6 Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, hampir 70 peserta hadir untuk membahas tema besar “Strategi Aisyiyah Menuju Masyarakat Berkeadilan.”
Forum ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga sarana membangun visi Aisyiyah dalam menjawab tantangan umat dan bangsa di era modern.
Pilar Keislaman dan Konsep Khaira Ummah
Wakil Sekretaris Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Amalia Nur Faizah, S.Pd.,, tampil sebagai salah satu pemateri utama. Ia menekankan bahwa fondasi membentuk manusia paripurna terletak pada lima pilar keislaman: ilmu, iman, Islam, ihsan, dan islah.
Menurut Amalia, kelima pilar tersebut akan semakin kokoh apabila dipadukan dengan konsep Khaira Ummah yang dirumuskan dalam 3M: menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, serta mencegah dari yang mungkar.
Baca juga: Aquaponik Kedungpeluk, Inovasi Hijau dari Aisyiyah Candi
“Sinergi antara 5I dan 3M inilah yang akan melahirkan Al-Ummah Al-Wasatiah, masyarakat yang adil, seimbang, dan mampu menjadi teladan dalam kehidupan sosial maupun keagamaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, harmoni antara pilar keislaman dan konsep Khaira Ummah bukan sekadar teori, melainkan arah gerakan nyata yang harus diwujudkan Aisyiyah dalam setiap programnya.
Dengan begitu, Aisyiyah dapat berperan aktif melahirkan generasi muslimah yang tidak hanya berilmu dan beriman, tetapi juga mampu menghadirkan keseimbangan dan keteladanan dalam masyarakat.
Strategi Menuju Komunitas Madani
Diskusi Musypimcab juga merambah pada strategi membangun komunitas madani. Para peserta diarahkan untuk memperkuat kepemimpinan yang inspiratif, menumbuhkan perserikatan yang kolaboratif sekaligus kompetitif, serta mencetak sumber daya manusia unggul yang berilmu, beriman, berislam, berihsan, dan berislah.
Amalia menegaskan bahwa strategi ini tidak bisa dilepaskan dari penguatan kelembagaan melalui amal usaha Muhammadiyah. Ia menyebut tata kelola yang profesional, manajemen yang efektif, dan kepemimpinan yang visioner sebagai “kunci terciptanya lingkaran kebaikan (goodness circles) Muhammadiyah yang berkelanjutan.”
Menurutnya, goodness circles tersebut akan memastikan setiap amal usaha tidak sekadar berjalan administratif, melainkan memberi dampak nyata bagi masyarakat. “Jika Muhammadiyah mampu menghadirkan amal usaha yang dikelola secara transparan dan profesional, maka masyarakat akan merasakan langsung manfaatnya. Dari sinilah komunitas madani dapat tumbuh dengan sehat,” tambahnya.

Gerakan Islam Berkemajuan
Musypimcab ini juga menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya peran Gerakan Islam Berkemajuan. Gerakan ini, sebagaimana dijelaskan Amalia, bertumpu pada empat pilar utama: dakwah, amal, tajdid (pembaharuan), dan ilmu.
“Empat pilar ini bukan hanya slogan, melainkan fondasi yang akan melahirkan perempuan berkemajuan,” ujarnya.
Menurut Amalia, perempuan berkemajuan adalah mereka yang memiliki kapasitas intelektual, sikap positif, dan kepedulian sosial sehingga mampu hadir sebagai agen perubahan.
Dengan modal itu, Aisyiyah diyakini dapat berperan lebih luas dalam membangun kehidupan masyarakat yang adil, setara, dan harmonis.
“Kita ingin perempuan Aisyiyah tidak hanya hadir di ruang domestik, tetapi juga tampil di ruang publik sebagai penggerak keadilan dan kesejahteraan,” tegasnya.
Komitmen Hijau: Bawa Tumbler ke Forum
Di balik diskusi strategis, ada pula pesan simbolis yang kuat. Para peserta yang hadir tampak kompak mengenakan seragam hijau bermotif batik dengan kerudung kuning emas, membawa tumbler pribadi berwarna-warni—putih, biru, hijau, hingga transparan.
Kehadiran tumbler ini bukan sekadar aksesori, melainkan aksi nyata cinta lingkungan yang sengaja ditonjolkan panitia.
Tindakan sederhana ini menjadi pengingat bahwa keadilan sosial tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab ekologis. (#)
Jurnalis Sri Kasmuni Penyunting Mohammad Nurfatoni











