Opini

Bukan Sekadar Gamis dan Sorban: Makna Pakaian Nabi di Zaman Kini

129
×

Bukan Sekadar Gamis dan Sorban: Makna Pakaian Nabi di Zaman Kini

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Dari gamis putih hingga jubah Persia, pakaian Nabi saw. memuat makna mendalam. Bukan sekadar budaya Arab klasik, melainkan cermin iman dan akhlak. Bagaimana nilai itu relevan di dunia modern?

Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Tagar.co – Mengapa kita membicarakan pakaian Rasulullah saw.? Bukankah ini isu lama dan sudah usang? Namun, ternyata masih banyak juga yang belum memahaminya.

Bagi banyak orang, pakaian Nabi Muhammad saw. mungkin terlihat sederhana: sebuah gamis panjang, sehelai sorban, atau sandal bertali dua. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya penuh makna.

Baca juga: Masjid Bukan Tempat Wisata, Kembalikan pada Khitahnya

Imam At-Tirmiżī dalam kitab Al-Syamā’il Al-Muḥammadiyyah mencatat detail pakaian Rasulullah saw. bukan untuk sekadar nostalgia mode Arab abad ke-7, melainkan untuk mengajarkan bagaimana Islam melihat budaya dan identitas. Kitab ini saya kaji rutin setiap dua pekan sekali di Masjid Baitul Muhlisin, Ponorogo.

Pertanyaan penting dan umum muncul: apakah semua pakaian Nabi saw. adalah syariat yang wajib ditiru, atau hanya sebagian yang bernilai budaya?

Ulama membedakan sunah menjadi dua:

  1. Sunah syariat (tasyri‘iyah): terkait langsung dengan ajaran Islam, misalnya menutup aurat, berpakaian bersih, dan tidak sombong.

  2. Sunah budaya (‘ādiyah): lahir dari konteks sosial Arab, seperti model gamis, sorban, atau sandal.

Baca Juga:  Naskah Khotbah: Idulfitri dan Jalan Filantropi, dari Puasa Menuju Kepedulian Sosial

Meniru yang pertama adalah kewajiban, meniru yang kedua adalah bentuk cinta. Namun yang paling penting bukan menempel pada bentuk luar, melainkan menghidupkan nilai yang ada di baliknya.

Model Pakaian Nabi

Beberapa warna dan model pakaian yang dicintai Nabi saw. dijelaskan dengan rinci dalam Al-Syamā’il Al-Muḥammadiyyah:

  • Gamis merupakan pakaian favorit Rasulullah saw. Ummu Salamah Ra. meriwayatkan: “Pakaian yang paling disukai Rasulullah saw. adalah gamis.” (H.R. At-Tirmiżī). Gamis itu sederhana, panjang, dan nyaman. Tidak ada kesan glamor, apalagi pamer.

  • Pakaian putih merupakan simbol kesucian yang disukai Rasulullah saw. Sebagaimana sabdanya: “Kenakanlah pakaian putih, karena ia lebih suci dan lebih baik.” (H.R. At-Tirmiżī). Putih mengajarkan bahwa kesucian hati lebih indah daripada kemewahan luar.

  • Rasulullah saw. juga menyukai pakaian warna merah dan hijau. Al-Barā’ ibn ‘Āzib berkata: “Aku melihat Nabi saw. memakai kain merah, dan tidak ada yang lebih indah dari beliau dalam kain itu.” (H.R. At-Tirmiżī). Beliau juga pernah memakai kain hijau atau bergaris. Artinya, Nabi tidak anti warna. Yang dilarang hanya kesombongan dan menyerupai simbol agama lain.

  • Nabi saw. pernah menerima jubah dari Persia. Beliau memakainya, tetapi karena lengan sempit, beliau membelahnya agar tidak mengganggu wudu dan salat. Ini pelajaran penting: Islam tidak menutup diri dari budaya luar. Selama tidak bertentangan dengan ibadah dan akhlak, budaya bisa diterima.

Baca Juga:  Di Antara Beduk Magrib dan Gerobak Sumarni

Pakaian Nabi saw. adalah simbol identitas: putih untuk kesucian, gamis untuk kesederhanaan, sorban untuk kehormatan, cincin perak untuk fungsi, bukan pamer. Tetapi yang lebih penting, beliau menolak pakaian berlebihan.

Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa memakai pakaian untuk mencari popularitas, Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan di akhirat.” (H.R, Abū Dāwūd). Di sini, sunah berpakaian bukanlah tentang merek, harga, atau gengsi, melainkan kerendahan hati.

Fesyen Muslim

Hari ini, fesyen muslim menjadi industri besar. Gamis bisa berharga jutaan rupiah, sorban dijual dengan label “sunah”, dan hijab dipromosikan sebagai simbol status sosial.

Pakaian tidak lagi sebagai simbol identitas kesederhanaan, tetapi sebagai penanda status sosial dan kemewahan, meskipun mereknya “baju sunah”.

Tentu tidak salah berbusana indah. Tetapi jika pakaian religius hanya menjadi ajang pamer, bukankah itu menjauh dari ruh sunah Nabi saw.?

Rasulullah saw. justru hidup sederhana, tetapi berwibawa. Beliau berpakaian indah bukan untuk tampil di runway, melainkan untuk menjaga martabat dan ibadah.

Dari hadis-hadis tentang pakaian Nabi saw., kita belajar bahwa:

  1. Bentuk pakaian Nabi saw. adalah budaya. Tidak wajib ditiru persis, tetapi boleh sebagai tanda cinta.

  2. Prinsip pakaian Nabi saw. adalah syariat: suci, sederhana, menutup aurat, dan tidak sombong—ini yang wajib.

  3. Islam terbuka pada budaya. Nabi saw. menerima jubah Persia; kita pun boleh memakai pakaian modern selama sesuai syariat.

  4. Identitas bukan formalitas. Sunah bukan pada label “islami” atau “sunah”, melainkan pada niat ikhlas dan nilai kesederhanaan.

Baca Juga:  Khotbah Idulfitri: Menebarkan Salam di Ruang Digital: Membangun Keadaban Bermedsos

Pakaian Nabi saw. mengajarkan bahwa kesederhanaan lebih berharga daripada kemewahan, kebersihan lebih penting daripada kemegahan, dan ruh ibadah lebih utama daripada bentuk luar.

Maka, jika kita ingin meneladani Nabi saw., kita tidak cukup hanya memakai gamis atau sorban. Kita harus menghidupkan nilai-nilai pakaian beliau: suci, sederhana, sopan, terbuka, dan rendah hati.

Di situlah sunah menemukan makna: bukan nostalgia Arab klasik, tetapi cahaya yang menuntun kita berpakaian dengan iman, di tengah dunia modern yang sering menjadikan busana sekadar simbol status.

Lebih lengkapnya, keseharian Rasulullah saw. bisa kita baca dalam kitab Al-Syamā’il Al-Muḥammadiyyah karya Imam al-Tirmiżī, karena banyak hal yang kadang berbeda dengan persepsi kita. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni