
Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran gelar kajian Riyadush Shalihin dan Pasar Kemadjoean, bagikan 1 kuintal jeruk gratis rayakan HUT RI.
Tagar.co — Suasana dingin yang menusuk tulang tak menyurutkan semangat ratusan jemaah Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran untuk hadir dalam Kajian Rutin Kitab Riyadush Shalihin, Ahad (17/8/25) subuh.
Tak hanya momen kajian yang khusyuk, pagi itu juga terasa lebih hangat dengan semangat berbagi: 1 kuintal jeruk segar dibagikan gratis kepada seluruh jamaah dalam rangka memperingati HUT RI ke-80.
Sejak sebelum azan subuh berkumandang, masjid sudah mulai dipadati jemaah. Beberapa tampak menyeduh kopi dan teh di sudut masjid yang tersedia 24 jam, mencoba menghalau rasa kantuk sambil menunggu waktu subuh tiba.
Usai salat subuh berjamaah, acara dilanjutkan dengan kajian kitab yang telah menjadi rutinitas setiap Ahad pekan ke-1 dan ke-3, dibimbing langsung Ustaz Ridwan Manan, Ketua Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran.
Di sisi lain, takmir masjid terlihat sigap menata meja dan membagikan Kitab Riyadush Shalihin, yang memang selalu disediakan secara gratis kepada jamaah. Ini bagian dari komitmen Masjid Ar-Royyan dalam menghadirkan pembelajaran Islam yang mudah diakses dan membumi.

Membumikan Ilmu, Merajut Kebajikan
Dalam kajian kali ini, Ustaz Ridwan Manan membahas Bab 1 Hadis ke-5 hingga ke-9 dari kitab Riyadush Shalihin. Hadis-hadis ini memuat nilai-nilai dasar yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari:
Hadis ke-5: Larangan terhadap perbuatan bid’ah dan pentingnya mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Hadis ke-6: Pentingnya menjaga sikap wara’ (kehati-hatian dalam hal halal dan haram).
Hadis ke-7: Menjaga hati dan konsistensi dalam beramal. Hadis ke-8: Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Serta hadis ke-9: Tentang keutamaan menjaga hubungan baik antar sesama Muslim.
“Jemaah yang dirahmati Allah, lima hadis ini adalah pondasi kehidupan seorang mukmin. Kita diajak untuk selalu menjaga keikhlasan, meninggalkan yang sia-sia, dan fokus pada apa yang benar-benar membawa kita dekat kepada Allah,” ujar Ridwan dalam ceramahnya.
Ia juga mengutip hikmah dari hadis ke-8, “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” Pesan ini mengajak jamaah untuk menjadi pribadi yang produktif dan bernilai dalam setiap langkah hidupnya.
Dari Masjid Menuju Pasar Kebaikan
Usai kajian, suasana berubah menjadi lebih semarak. Jemaah mulai mengantre dengan tertib di halaman masjid, menyambut kegiatan Pasar Kemadjoean—pasar subuh gratis yang rutin hadir setiap Ahad pekan ke-3. Kali ini, takmir membagikan 1 kuintal jeruk segar sebagai bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia.
Raut wajah ceria tampak dari para jamaah yang menerima jeruk. Senyum bahagia menyelimuti suasana pagi, seolah menegaskan bahwa masjid tak hanya menjadi tempat ibadah, tapi juga pusat kemanfaatan bagi umat.

Masjid Solusi Umat
Melalui kajian yang istikamah dan program-program sosial seperti Pasar Kemadjoean, Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran terus berupaya menjadi “Masjid Solusi Umat”—bukan hanya tempat ibadah, tapi juga rumah pembinaan dan pelayanan masyarakat.
“Semangat masjid bukan hanya di atas sajadah. Tapi juga hadir dalam senyum warga, dalam pangan yang dibagi, dan dalam ilmu yang ditanam,” kata salah satu pengurus takmir.
Dengan semangat kemerdekaan dan nilai-nilai Islam yang penuh rahmat, Masjid Ar-Royyan kembali membuktikan bahwa kebermanfaatan bisa dimulai dari subuh, dari masjid kecil di sudut Buduran—menuju perubahan besar yang dirasakan seluruh warga. (#)
Jurnalis Bayu Firdaus. Penyunting Darul Setiawan.












