
Masjid seharusnya menjadi rumah umat yang ramah bagi siapa pun, bukan ruang ibadah yang tertutup, seperti era Snouck Hurgronje. Sudah waktunya umat Islam mengembalikan fungsi sosial masjid sebagaimana masa Rasulullah.
Oleh Ridwan Manan Pengajar Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo; Ketua Takmir Masjid “Ramah Musyafir” Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran Sidoarjo, Jawa Timur.
Tagar.co – Peristiwa tragis yang menimpa musyafir Arjuna Tamaraya (21)—kehilangan nyawa karena dikeroyok lima orang saat beristirahat tidur di serambi Masjid Agung Sibolga, Sumatra Utara (31/10/2025)—menggugah banyak tanya.
Benarkah pelaku hanya tersinggung dengan sikap korban yang tidak mau keluar dari masjid, atau ini akibat laten dari pengaruh strategi Snouck Hurgronje yang membuat masjid kehilangan inklusivitasnya?
Baca juga: Setan Masjid
Snouck Hurgronje (1857–1936) adalah seorang orientalis Belanda yang bekerja sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda dalam urusan pribumi dan umat Islam. Ia pernah tinggal di Makkah dengan nama samaran Haji Abdul Ghaffar untuk meneliti umat Islam, bukan hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga politik dan sosial budayanya.
Snouck menganjurkan kepada pemerintah kolonial Belanda agar membatasi fungsi masjid hanya untuk kegiatan ibadah, bukan tempat berkumpul untuk aktivitas politik dan sosial, karena bisa membangkitkan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Akibatnya, pemerintah kolonial membatasi masjid sebagai tempat ibadah salat yang hanya dibuka menjelang salat saja; setelah salat, pintu masjid dikunci dan pagarnya digembok.
Strategi politik Islam Snouck Hurgronje terkenal dengan prinsip: “Biarkan Islam sebagai agama, tapi kendalikan Islam sebagai kekuatan sosial-politik.” Dari strategi inilah tertanam pandangan sebagian takmir masjid yang menganggap masjid hanya sebagai tempat ibadah salat, bukan pusat kegiatan sosial atau kemasyarakatan.
Bahkan, ada yang tidak memberikan ruang bagi aktivitas sosial, politik, atau sekadar tempat singgah untuk melepas lelah para musyafir dalam perjalanan jauh dengan aman dan nyaman.
Kini, banyak musyafir lebih memilih bermalam di pom bensin karena pelayanan yang lebih ramah, sementara di sebagian masjid, para takmirnya memasang wajah sangar dan penuh curiga terhadap tamu yang ingin beristirahat.
Kembalikan Fungsi Masjid
Masjid pada masa Rasulullah Saw. bukan hanya menjadi tempat ibadah salat lima waktu, tetapi juga pusat kegiatan keumatan: tempat pembinaan spiritual, penguatan akhlak, dan belajar memperbaiki diri serta berbagai ilmu, termasuk pemberdayaan ekonomi.
Bahkan, Rasulullah Saw. menjadikan masjid sebagai tempat musyawarah dan pengambilan keputusan dalam menyelesaikan persoalan umat—bukan tempat perpecahan, kriminalisasi, atau sekadar simbol keagamaan.
Sudah seharusnya para takmir menjadikan rumah Allah sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi siapa saja yang berkunjung. Sediakan kopi, teh, atau air mineral bagi mereka yang ingin melepas penat.
Sediakan pula alas tidur dan kasur bagi para musyafir yang ingin bermalam. Dengan begitu, masjid kembali menjadi oase kerahmatan dan wajah sejati Islam yang menenteramkan. (#)
Penyunitng Mohammad Nurfatoni












