
Kelas Ngaji Al-Qur’an Isyarat di PLT PDA Gresik jadi wadah belajar bersama bagi teman tuli dan dengar, membuka cakrawala ilmu Al Quran dengan bahasa isyarat.
Tagar.co — Kelas Ngaji Al-Qur’an Isyarat kembali menggema di Gedung Pusat Layanan Terpadu Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Gresik, Ahad (13/7/2025) pagi. Pertemuan ketiga ini terselenggara berkat inisiatif Ketua PDA Gresik, Innik Hikmatin, S.Pd.I., M.Pd.I., bersama Komunitas Al-Qur’an Isyarat Kabupaten Gresik.
Sebanyak 31 anggota tercatat dalam komunitas ini. Adapun yang hadir hari itu ada 30 orang, termasuk peserta yang baru bergabung. “Kemungkinan akan terus bertambah,” tutur Innik optimis.
Ia bersyukur banyak peserta datang dari berbagai pelosok Kabupaten Gresik. Mereka rela menempuh puluhan kilometer dari Menganti, Cerme, Sidayu, bahkan Panceng.
Ada peserta yang telah mahir usai mengikuti 12 kali pertemuan. Ada pula yang baru bergabung seperti dr. Titin Ekowati dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Zaitun Nailiyah, S.Psi., pengajar di SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik yang juga aktif di Badan Tajdied Center PWM Gresik.
Baca berita terkait: PDA Gresik Adakan Kelas Inklusif Belajar Al-Qur’an Isyarat

Ilmu Al-Qur’an dalam Gerak Isyarat
Innik mengawali materinya dengan motivasi mendalam. “Dengan rasa syukur, kita tidak boleh meninggalkan Al-Qur’an,” pesannya, mengutip Surat Al-Ankabut Ayat 45.
مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Artinya, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Innik kemudian mengajarkan bahasa isyarat Surat Al-Ankabut. “Al-Ankabut artinya laba-laba. Jadi, gerakannya seperti ini,” jelasnya sambil mencontohkan jari kanan merambat di jari kiri yang tegak.
Selanjutnya, ia mengutip Al-Baqarah Ayat 2 untuk memotivasi para peserta agar semakin rajin membaca Al-Qur’an.
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Artinya, “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
Innik pun menunjukkan bahasa isyarat Al-Baqarah yang berarti sapi betina. Ia meletakkan kedua tangannya menyerupai tanduk—ibu jari dan kelingking tegak—di atas kepala.
Baca berita terkait: Ketika Tangan Menjadi Lisan: Disabilitas Tuli Belajar Al-Qur’an dengan Isyarat
Ekspresif Reseptif
Berikutnya, Innik juga mengajarkan isyarat Surat Al-Fatihah sebagai pembuka Al-Qur’an, dengan gerakan tangan mengatup lalu membuka perlahan. “Surat An-Nas seperti kita mencubit punggung tangan, manusia dari tanah,” imbuhnya, sebelum mengakhiri dengan bahasa isyarat Surat Al-Ikhlas.
Para orang tua dan anak-anak, teman tuli, dan teman dengar, belajar Al-Qur’an Isyarat bersama. Metode ekspresif-reseptif dan sambung ayat berjalan efektif sepanjang pertemuan. “Peserta yang sudah bisa melihat dan mengoreksi peserta yang masih belajar,” kata Innik.
Metode ini awalnya terimplementasikan ketika dua peserta yang baru bergabung mampu cepat memahami dan mempraktikkan isyarat huruf Hijaiyah. Dokter Titik awalnya maju dan lancar mempraktikkan isyarat seluruh huruf Hijaiyah. Maka, Innik memintanya mengecek Lely, sapaan akrab Zaitun Nailiyah, yang selanjutnya praktik di depan.

Refleksi Belajar Mengharukan
Pertemuan pagi hingga siang itu bermuara pada sesi refleksi. Innik memperkenalkan Diana Durrotul L., mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya dari Lumajang, yang tengah menyelesaikan tesisnya.
“Hari ini ada tamu dari Lumajang, Mbak Diana,” terangnya, kemudian memberikan kesempatan kepada Diana untuk refleksi belajar.
Diana mengawali dengan menyampaikan pengalamannya. “Saya awalnya S-1 jurusan ilmu tafsir. Lanjut S-2 tentang isyarat Al-Qur’an,” ungkapnya mengundang decak kagum dari para peserta.
Diana melanjutkan, “Atas rekomendasi dosen saya yang aktif di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ), UPT Kementerian Agama di Jakarta, saya ke Gresik untuk belajar bersama Bu Innik. Ternyata asyik, ya!”
Ia juga dengan semangat mengucapkan, “Masyaallah sekali. Teman tuli bahasanya unik, tidak semua orang bisa tahu. Bertatap muka dengan teman tuli perlu melihat ekspresinya,” imbuhnya.
Ia merasa senang sekali mendapatkan penerimaan yang baik oleh Innik. “Insyaallah saya setelah ini ke Kediri. Penelitian saya praktik belajar Al-Qur’an Isyarat di Gresik dan Kediri. Masyaallah, Al-Qur’an ternyata ada untuk teman tuli dan buta,” ujarnya penuh haru.

Al-Qur’an Isyarat dan Tajdied
Lely, sapaan akrab Zaitun Nailiyah, pun menyampaikan testimoni pada kelas perdananya. Dengan mata berkaca-kaca lalu tak kuasa meneteskan air mata, ia berkata, “Saya mudah terharu. Ya Allah, seperti ini ya, saya dapat kesempatan belajar bersama orang dan anak-anak luar biasa. Ternyata ilmu saya belum seberapa. Terharu bisa berkesempatan belajar.”
“Alhamdulillah saya dan tim mendapat amanah memberikan pelatihan metode Tajdied. Ternyata ilmu saya tidak ada apa-apanya dibanding ilmu hari ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca lalu ia mengelap air mata haru dengan cepat.
Menurut Lely, beberapa huruf sama dengan yang biasa ia ajarkan di metode Tajdied. Yakni Nun dan Lam. Ada juga yang mirip dengan huruf lain, seperti Wawu di isyarat mirip Mim di Tajdied.
Ia lalu berterima kasih kepada Innik dan Aisyah Grisseeta Azzahra yang telah membimbingnya pada kelas tersebut. “Ilmu apa pun Allah sudah sediakan melalui Bu Innik dan PDA Gresik yang mendukung kegiatan ini. Semoga tidak berhenti hari ini. Ini tekad saya harus lebih baik,” ujarnya penuh semangat.
Ia juga menularkan semangat pada orangtua yang turut belajar. “Bunda-bunda semangat! Semua anak pasti punya potensi dan kelebihan masing-masing,” tegas Lely.

Terkenal dari Gresik
Dalam pertemuan itu, Wakil Ketua Koordinator Bidang Majelis PAUD, Dasar, dan Menengah, Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) PDA Gresik Ning Munasichah, S.Ag. turut menyampaikan sambutan.
“Pada pertemuan ketiga yang telah diprakarsai Ibu Innik ini, terima kasih ananda yang telah semangat ikut serta program ini. Semoga membawa manfaat, utamanya di kalangan Aisyiyah Kabupaten Gresik,” ujarnya.
Ia lalu menyoroti keunikan kegiatan ini. “Kegiatan semacam ini telah dikenal di Kabupaten Gresik. Hari ini datang tamu dari Kabupaten Lumajang untuk melihat kegiatan langsung yang diadakan Aisyiyah Kabupaten Gresik. Dalam hal ini, masih langka di kabupaten lain,” terangnya.
Ning Munasichah mengingatkan, “Allah akan memberikan petunjuk seluasnya kalau kita jalankan penuh rasa syukur.”
Ia pun mengutip pesan dalam QS. Ibrahim ayat 7. Artinya, “Ingatlah tatkala Rabb kalian menetapkan: ‘Jika kalian bersyukur, niscaya akan Ku tambah (nikmat-Ku) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih’.”
Setelah semua peserta praktik, Koordinator Bidang (Korbid) Majelis Pendidikan Kader (MPK) dan Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) PDA Gresik Nurfadlilah, M.Pd. memimpin doa penutup. Sebelum berdoa, wanita yang akrab disapa Nur itu memotivasi.
“Njenengan harus bangga dengan kelebihan Njenengan. Tetap semangat. Jangan sampai kalah dengan teman di luar sana. Insyaallah dengan semangat Bu Innik dan lainnya, Anda luar biasa!” ujarnya.
Sekali lagi ia bersyukur karena akhirnya bisa mengikuti kelas inklusif tersebut. “Alhamdulillah, Ustadzah Lely sampai terharu. Saya juga tersentuh. Ingin bisa seperti Bu Innik dan semuanya. Mudah-mudahan istikamah sampai menjadi orang sukses,” tutupnya. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












