
Dalam balutan tema “Berbeda, Siapa Takut!”, siswa SMP Muhammadiyah 6 Krian menyulap halaman sekolah menjadi panggung keberagaman budaya dan kuliner Indonesia yang menggugah rasa.
Tagar.co — Semarak budaya nusantara mewarnai halaman SMP Muhammadiyah 6 Krian (SMP Meka), Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu, 21 Juni 2025. Ratusan siswa larut dalam gelaran Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertema “Berbeda, Siapa Takut!”, yang menyuarakan semangat kebinekaan dan toleransi melalui bazar budaya.
Mengangkat dimensi Berkebinekaan Global, kegiatan ini diikuti siswa kelas 7 dan 8. Beragam stan bertema daerah dari penjuru nusantara memamerkan makanan tradisional, minuman khas, pakaian adat, dekorasi, hingga maskot budaya yang mencerminkan keunikan tiap suku dan wilayah di Indonesia.
Persiapan Satu Bulan, Proses Belajar Penuh Warna
Tak sekadar menampilkan, kegiatan ini melalui proses pembelajaran yang panjang. Selama satu bulan sebelumnya, para siswa menggali informasi budaya daerah pilihan, membentuk kelompok, menyusun konsep, hingga menentukan menu kuliner dan desain stan.
Masing-masing kelompok beranggotakan delapan siswa. Mereka tidak hanya ditantang menampilkan sisi visual dan rasa, tetapi juga nilai-nilai kerja sama, tanggung jawab, serta kemampuan berkomunikasi.
Persiapan teknis dilakukan sehari sebelum pelaksanaan, pada Jumat, 20 Juni 2025. Dari pukul 10.00 hingga 17.00 WIB, halaman sekolah riuh oleh kesibukan siswa menata stand, menyiapkan kostum, hingga berlatih pelayanan untuk pengunjung.
Panggung Budaya, Ruang Ekspresi
Tepat pukul 08.00 WIB, acara dibuka oleh Kepala SMP Meka Muhammad Taufiqqurrohman, M.Pd.. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kreativitas siswa dan menyebut kegiatan ini sebagai wujud nyata pendidikan karakter.
“Ini bukan sekadar praktik P5, tapi juga momentum untuk menumbuhkan cinta budaya, menghargai perbedaan, dan membangun kebanggaan sebagai anak bangsa,” ungkapnya.
Sebanyak 14 stand budaya hadir memikat pengunjung. Di antaranya Betawi, Dalem Jawa, Jawa Tengah, hingga Pojok Madura. Aneka kuliner khas disajikan, dijual dengan harga terjangkau, mulai Rp5.000 hingga Rp10.000.
Berbagai jenis makanan dijajakan dalam acara tersebut, mulai dari sate, batagor, piscok, hingga empek-empek. Minuman segar seperti es dawet dan es teh juga turut meramaikan suasana.

Kompetisi Stan Terbaik
Untuk memacu semangat dan inovasi, panitia menetapkan tiga kriteria penilaian: kesesuaian tema (keaslian dekorasi, kostum, dan produk), kebersihan dan kerapian, serta pelayanan terhadap pengunjung.
Hasilnya, tiga kelompok tampil sebagai pemenang stand terbaik:
-
Juara 1: Kelas 8A (Stan Betawi) — unggul dalam kekompakan tim, dekorasi meriah, dan rasa otentik.
-
Juara 2: Kelas 7B (Stan Dalem Jawa) — menonjol dalam kesederhanaan yang sarat makna lokal.
-
Juara 3: Kelas 8B (Stan Jawa Tengah) — menghadirkan sajian lezat dan pelayanan ramah.
Ruang Belajar yang Hidup
Nurul Salamah, S.Pd., pembina kegiatan P5, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya.
“Anak-anak membuktikan bahwa keberagaman adalah keindahan. Mereka belajar budaya sekaligus nilai-nilai gotong royong, toleransi, dan tanggung jawab. Ini proses belajar yang menyentuh hati,” ujarnya.
Antusiasme tak hanya datang dari siswa dan guru. Orang tua dan masyarakat sekitar turut meramaikan bazar, menciptakan interaksi lintas usia dan latar belakang dalam semangat kebersamaan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bisa dikemas dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Melalui tema “Berbeda, Siapa Takut!”, SMP Muhammadiyah 6 Krian mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk ditakuti, tetapi dirayakan sebagai kekayaan bersama. (#)
Jurnalis Aniwati | Penyunting Mohammad Nurfatoni











