Telaah

Puasa Tarwiah dan Arafah Menurut Empat Mazhab

65
×

Puasa Tarwiah dan Arafah Menurut Empat Mazhab

Sebarkan artikel ini
Jemaah haji Baitul Atiq Gresik saat menjalani ibadah Trwiah di Mina tahun 2017 (Mohammad Nurfatoni/Tagar.co)

Tarwiyah dan Arafah. Apa kata empat mazhab tentang puasa di dua hari itu?

Oleh Muhammad Damanhuri alias Ustaz Dayak, Ketua Yayasan Kejayaan Mualaf Indonesia dan Ketua Umum Lembaga Majelis Taklim Mualaf Kalimantan Barat. Bersama Mualaf, Kita Mampu!

Tagar.co – Maafkan saya baru sempat menulis. Aktivitas padat membuat jemari ini tertunda menuangkan sedikit catatan. Sementara itu, para jemaah haji di Tanah Suci kini tengah berada dalam fase tarwiah—bermalam di Mina sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji yang sakral.

Di sana, mereka tidak sekadar menunggu, tapi sedang diajak untuk bertarbiah—mengasah jiwa, menyiapkan hati, menyucikan niat. Sebab, besok mereka akan bergerak ke Padang Arafah, menuju puncak dari seluruh rukun haji.

Baca juga: Jelang Hari Tarwiah, Arab Saudi Maksimalkan Pemantauan Cuaca di Mina

Dalam suasana ini, ada baiknya kita yang tidak sedang berhaji merenungi dua hari yang istimewa: 8 dan 9 Zulhijah. Dua hari yang disebut sebagai hari Tarwiah dan hari Arafah.

Apakah puasa pada hari-hari ini disunahkan? Bagaimana pandangan para ulama dari empat mazhab besar dalam Islam?

Baca Juga:  Ketika Kelembutan Menjadi Jalan Ihsan

Puasa Tarwiah dan Arafah Menurut Empat Mazhab

1. Puasa Tarwiah (8 Zulhijah)

Para ulama sepakat bahwa puasa pada hari Tarwiah dianjurkan, meskipun kadar anjurannya berbeda-beda.

  • Menurut mazhab Hanafi, puasa Tarwiah disunahkan sebagai bentuk persiapan spiritual menuju hari Arafah.

  • Dalam mazhab Maliki, puasa ini dipandang sebagai momen berharga untuk memperbanyak amal saleh.

  • Mazhab Syafi’i juga menekankan anjuran puasa ini sebagai pemanasan spiritual menjelang Arafah.

  • Sedangkan menurut mazhab Hambali, puasa Tarwiah menjadi kesempatan memperkuat iman dan menambah ketakwaan.

2. Puasa Arafah (9 Zulhijah)

Hari berikutnya, yaitu tanggal 9 Zulhijah atau hari Arafah, mendapat perhatian khusus dari semua mazhab.

  • Bagi yang tidak sedang berhaji, mazhab Hanafi menganjurkan puasa Arafah karena keutamaannya luar biasa: Allah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

  • Mazhab Maliki menyatakan puasa ini dianjurkan untuk semua umat Islam, dengan fadilah (keutamaan) besar yang menyertainya.

  • Dalam pandangan mazhab Syafi’i, puasa Arafah juga disunahkan bagi mereka yang tidak sedang menunaikan haji.

  • Mazhab Hambali pun sejalan, bahkan secara eksplisit menyebut keutamaannya serupa: penghapusan dosa dua tahun.

Baca Juga:  Ihsan kepada Orang Kafir

Mengambil Hikmah dan Melangkah

Dari uraian singkat ini, kita bisa menangkap benang merahnya: puasa Tarwiah dan Arafah adalah amalan sunah yang sangat dianjurkan. Ia bukan kewajiban, tapi pintu besar menuju ampunan dan kedekatan dengan Allah Swt. Maka, siapa pun yang mampu dan tidak memiliki uzur syar‘i, dianjurkan untuk melaksanakannya.

Namun, bagi yang memiliki halangan, jangan bersedih. Allah Maha Tahu keterbatasan hamba-Nya, dan pahala niat yang tulus tak akan disia-siakan.

Mari kita jadikan dua hari ini sebagai momentum mujahadah (kesungguhan) dalam memperbaiki diri. Semoga Allah menerima amal kita, menghapus dosa-dosa, dan menetapkan kita termasuk hamba-Nya yang bertakwa. Wallahualam. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni