OpiniUtama

Menghayati Ismail di Era Digital: Refleksi Futuristik atas Kisah Pengorbanan

46
×

Menghayati Ismail di Era Digital: Refleksi Futuristik atas Kisah Pengorbanan

Sebarkan artikel ini
Penulis saat di Muzdalifah di Musim Haji 2017

Bagaimana jika ujian pengorbanan Ismail terjadi di era digital? Renungan futuristik ini mengajak kita memaknai ulang kurban: bukan hanya soal darah, tetapi keberanian melawan ego dan arus zaman.

Oleh Triyo Supriyatno Guru Besar UIN Maliki Malang

Tagar.co – Setiap kali bulan Zulhijah tiba, umat Islam di seluruh dunia kembali mengenang sebuah episode spiritual monumental dalam sejarah kenabian: perintah Allah kepada Nabi Ibrahim As. untuk menyembelih putranya, Ismail As. Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah keimanan, melainkan pelajaran multidimensi tentang ketaatan, pengorbanan, dan keyakinan di tengah ketidakpastian.

Di balik kesahajaan kisah tersebut, tersimpan hikmah kemanusiaan yang lintas zaman. Ia berbicara tentang relasi manusia dengan Tuhannya, dialog seorang ayah dan anak, serta keberanian menundukkan ego demi kehendak Ilahi.

Baca juga: Fikih Berkemajuan: Menata Dam agar Haji Mabrur

Namun, bagaimana seandainya peristiwa itu terjadi di era kecerdasan buatan, media sosial, dan algoritma digital? Akankah Ibrahim tetap tegar tanpa terusik opini publik? Apakah Ismail sanggup menundukkan ego mudanya di hadapan kehendak Ilahi saat viralitas menjadi ukuran eksistensi?

Inilah renungan futuristik yang tak sekadar mengajak kita memaknai ulang sebuah peristiwa suci, tetapi juga menantang kesadaran spiritual kita di era teknologi yang kian invasif.

Antara Wahyu dan Algoritma

Di zaman Nabi Ibrahim, relasi manusia dengan Tuhannya berjalan jernih tanpa perantara. Wahyu adalah kebenaran mutlak, bukan sekadar opini di antara jutaan suara. Ibrahim mendengar, memahami, dan taat—meskipun perintah itu melawan logika naluri seorang ayah.

Baca Juga:  Saudi Batasi Akses ke Makkah dan Hentikan Izin Umrah Jelang Musim Haji

Kini, di era digital, kebenaran kerap ditentukan oleh topik trending, jumlah suka, atau algoritma yang menyaring apa yang kita lihat dan percayai. Bayangkan jika perintah penyembelihan itu hadir hari ini. Ibrahim mungkin menjadi sasaran serangan digital: di-bully, dilabeli ekstremis, bahkan dituduh melakukan kekerasan atas nama agama.

Masyarakat digital yang gemar menghakimi sebelum memahami bisa saja memviralkan potongan perintah itu tanpa konteks spiritual yang melatarinya. Di sisi lain, Ismail pun hidup dalam budaya narsistik digital, di mana anak muda berlomba menampilkan versi terbaik dirinya di media sosial. Akankah seorang remaja rela menyerahkan nyawanya atas nama perintah langit di tengah budaya yang mengagungkan kebebasan personal dan eksistensi virtual?

Di sinilah nilai kisah ini justru makin relevan. Ia menantang kita untuk meredefinisi makna ketaatan, pengorbanan, dan spiritualitas di tengah dunia yang serba cepat, instan, dan superfisial.

Ismailisme di Masa Depan

Kajian futuristik atas kisah ini bukan berarti meragukan nilai spiritualnya, tetapi justru mengajak kita memetakan bagaimana nilai-nilai keikhlasan, kepatuhan, dan pengorbanan bisa terus hidup di dunia yang semakin sekuler dan pragmatis.

Baca Juga:  Antara Hidup Itu Belajar dan Belajar Itu Hidup

Ismailisme—yakni semangat kerelaan berkorban demi nilai yang lebih tinggi—harus diterjemahkan ke dalam konteks kekinian. Di era krisis moral dan ego kolektif, berkorban tak lagi tentang darah, tetapi tentang waktu, kepentingan pribadi, hingga keberanian menentang arus demi tegaknya nilai-nilai kebenaran.

Para orang tua masa depan dihadapkan pada tantangan: bagaimana menanamkan nilai keberanian berkorban kepada generasi yang lebih akrab dengan avatar digital ketimbang nilai spiritual. Peran Ibrahim sebagai figur ayah yang membangun komunikasi spiritual dengan anaknya patut menjadi teladan. Betapa dialog yang intim, jujur, dan tanpa paksaan menjadi kunci dalam membangun kesadaran ketuhanan generasi muda.

Ketika Ibrahim menyampaikan perintah Ilahi, ia bertanya dengan penuh kelembutan, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat: 102). Sebuah komunikasi spiritual yang dewasa, bukan instruksi sepihak.

Ibadah Kurban di Era Kecerdasan Buatan

Di masa depan, ketika daging sintetis bisa diproduksi tanpa menyembelih hewan dan ritual keagamaan mulai ditafsir ulang oleh kelompok sekular-humanis, ibadah kurban harus mempertahankan esensinya: menyembelih ego, bukan sekadar hewan. Nilai spiritual kurban jauh lebih penting daripada aspek simbolik-ritualnya.

Masyarakat futuristik mungkin akan dihadapkan pada godaan untuk memaknai ibadah hanya sebagai simbol sosial, aksi filantropi, atau aktivitas ekologis. Padahal, pesan abadi dari Ibrahim dan Ismail adalah keberanian menempatkan kehendak Ilahi di atas segalanya, bahkan ketika logika dunia menolaknya. Ritual kurban menjadi pengingat bahwa dalam hidup, selalu ada hal-hal yang harus dikorbankan demi tegaknya nilai-nilai luhur.

Baca Juga:  Antara AI, Guru, dan Masa Depan Nalar: Menjaga Api Berpikir Kritis di Era Society 5.0

Menjadi Ismail-Ismail Baru

Sesungguhnya, setiap zaman memiliki Ismail-nya sendiri. Kita semua tengah diuji untuk menjadi Ismail-Ismail baru di zaman ini: mengorbankan zona nyaman, egoisme, dan ambisi pribadi demi nilai-nilai yang lebih agung—keadilan, kemanusiaan, dan ketuhanan.

Hari ini, pengorbanan itu bisa berupa kejujuran di tengah budaya manipulasi data, keberanian berkata benar di tengah hoaks, atau kesediaan berbuat baik meskipun tak viral. Itulah ibadah kurban dalam makna futuristiknya.

Kisah penyembelihan itu, bila dibaca dalam kacamata masa depan, bukan soal darah, tetapi tentang keberanian menundukkan diri di hadapan nilai kebenaran yang mungkin tak populer di ruang publik digital.

Pada akhirnya, dunia digital boleh saja berubah, teknologi boleh semakin canggih, namun nilai keberanian menempatkan kehendak Ilahi di atas segalanya tetap menjadi fondasi spiritual peradaban. Tinggal apakah kita bersedia memerankan peran itu, atau memilih menjadi penonton di teater dunia yang makin gemerlap, namun kian kehilangan makna. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…