Telaah

Kurban Tak Harus Lewat Panitia: Menghidupkan Makna Ibadah dengan Tangan Sendiri

45
×

Kurban Tak Harus Lewat Panitia: Menghidupkan Makna Ibadah dengan Tangan Sendiri

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Kurban bukan cuma soal setor ke panitia. Temukan makna sejati kurban: ibadah yang menyentuh hati, simbol syukur, sekaligus kesempatan berbagi dengan sesama dalam semangat ketakwaan.

Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Tagar.co – Berkurban bukan sekadar menyetor ke panitia. Artikel ini membahas makna mendalam kurban, syarat sahnya, hingga cara membagikan daging agar nilai spiritualnya benar-benar hidup.

Setiap Iduladha, gema takbir mengalun bersama aroma daging yang menguar dari berbagai penjuru negeri. Namun, lebih dari sekadar tradisi tahunan, kurban adalah ekspresi ketulusan seorang hamba kepada Tuhannya—mengajarkan arti memberi, ikhlas, dan peduli.

Kurban: Sunah yang Sarat Nilai

Bagi Muslim yang mampu, berkurban merupakan sunah muakkadah—ibadah yang sangat dianjurkan, sebagaimana disampaikan dalam hadis:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ

“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Iduladha yang lebih dicintai Allah selain menumpahkan darah (menyembelih hewan kurban).” (H.R. Tirmidzi)

Baca Juga:  Rukhsah dalam Puasa: Wajah Rahmat Islam di Balik Kewajiban

Beberapa mazhab seperti Hanafi bahkan memandangnya wajib bagi yang memiliki kecukupan harta. Jadi, berkurban bukan hanya sekali seumur hidup, tetapi setiap tahun bagi yang mampu, sebagai bentuk syukur dan ketakwaan yang terus diperbarui.

Satu Ekor untuk Satu Keluarga, Apakah Bisa?

Bisa. Satu ekor kambing atau domba boleh diniatkan untuk satu keluarga. Ini sesuai sunah Rasulullah ﷺ:

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Pada masa Nabi ﷺ, seseorang berkurban dengan seekor kambing atas nama dirinya dan keluarganya.” (H.R. Tirmidzi)

Namun, jika ada rezeki lebih, menambah jumlah hewan untuk anggota keluarga lainnya tentu sangat dianjurkan.

Wajib Lewat Panitia Kurban? Tidak Harus

Banyak yang mengira berkurban hanya sah jika disalurkan melalui panitia masjid atau lembaga. Padahal, tidak demikian.

Kurban boleh disembelih sendiri, dilakukan di rumah atau tempat lain yang layak, bersama keluarga, selama memenuhi syarat sah kurban:

✅ Hewan memenuhi kriteria (cukup umur dan sehat).
✅ Penyembelihan dilakukan setelah salat Iduladha.
✅ Daging dibagikan kepada yang berhak.

Baca Juga:  Rahasia Ilahi di Balik Puasa yang Terbatas

Justru menyembelih sendiri, atau menyaksikan penyembelihan kurbannya, dianjurkan karena menghidupkan semangat pengorbanan dan menghayati makna ibadah ini secara langsung.

Nabi ﷺ sendiri menyembelih hewan kurbannya dengan tangan beliau:

فَذَبَحَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِيَدِهِ

“Rasulullah ﷺ menyembelih (kurban) dengan tangan beliau sendiri.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Berapa Bagian yang Boleh Dimakan Sendiri? Siapa yang Wajib Diberi?

Dalam syariat, daging kurban dibagi menjadi tiga bagian utama:

  1. Sepertiga untuk diri sendiri dan keluarga.

  2. Sepertiga untuk disedekahkan kepada fakir miskin.

  3. Sepertiga untuk dihadiahkan kepada tetangga, kerabat, atau siapa pun.

Dalilnya terdapat dalam firman Allah:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang yang sangat membutuhkan dan fakir.” (Al-Hajj: 28)

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ

“Makanlah darinya dan berikan kepada orang yang tidak meminta dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)

Fakir miskin menjadi prioritas utama penerima kurban. Namun, bagian hadiah (yang bukan sedekah) bisa diberikan kepada siapa pun, bahkan kepada non-Muslim sebagai bentuk kebaikan dan silaturahmi.

Baca Juga:  Menyempurnakan Ramadan dengan Takbir

Kurban: Simbol Takwa, Bukan Ritual Kosong

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging dan darah (hewan kurban) itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Kurban bukan hanya soal berapa banyak daging yang dibagikan, tetapi seberapa dalam kita menanamkan keikhlasan, dan seberapa luas kita menebar manfaat.

Penutup: Kurban, Jalan Menuju Langit dan Bumi

Kurban menyatukan dua dimensi: vertikal kepada Allah melalui ketakwaan, dan horizontal kepada manusia lewat kepedulian.

Berkurban bukan soal seberapa mewah hewan yang disembelih, tetapi seberapa tulus hati yang memberi. Maka, jika kita mampu, jangan tunda lagi. Kurbanlah dengan cinta, ikhlas, dan niat mulia.

“Saat kita berkurban, bukan cuma kambing yang kita sembelih—tetapi juga ego, keserakahan, dan rasa tak peduli.” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni